Rethink, Reinvest, Reinvent, Transformasi Human Capital Indonesia

Menteri BUMN, Erick Thohir, menyampaikan Keynote Speech dengan tema Adapting and Adopting the New Norms: Leading in Time of Pandemic and Beyond di hari pertama penyelenggaraan The 3rd Indonesia Human Capital Summit 2021 hari ini (16/11/2021) di Jakarta. - Ist
17 November 2021 09:07 WIB Media Digital News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Pandemi Covid-19 memunculkan tantangan besar bagi para profesional human capital management di seluruh dunia. Mereka dituntut untuk mencari cara baru dalam mengelola human capital yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Krisis akibat pandemi Covid-19 belum pernah terjadi sehingga masih sangat sedikit referensi yang sudah teruji (valid) mengenai bagaimana mengelola human capital saat ini dan di masa depan.

Pada saat membuka acara The 3rdIndonesia Human Capital Summit (IHCS) 2021, yang digelar pada 16 – 17 November 2021 di Jakarta, Menteri Badan Usaha Milik Negara, Erick Thohir, menyatakan Kementerian BUMN mendukung realisasi transformasi human capital mengingat Indonesia sedang memasuki momentum bonus demografi. Menurutnya bonus demografi akan terjadi luar biasa di Indonesia. Pada 2020 – 2030 usia angkatan kerja di Indonesia akan mencapai 70% dari total populasi.

“Kepemimpinan adalah tentang memastikan terjadinya kontinuitas dengan melanjutkan program-program kerja yang baik dari pemimpin sebelumnya. Kepemimpinan muda menjadi fondasi yang harus didorong, dan kita punya tanggung jawab moral agar mentorship tetap terjadi. Transformasi human capital menjadi hal yang penting dan Kementerian BUMN memberi FHCI untuk ambil bagian dari transformasi ini melalui berbagai program up-skilling dan re-skilling,” ujarnya dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Rabu (17/11/2021).

Pengembangan human capital dan inovasi model bisnis menjadi prioritas utama Kementerian BUMN untuk menjawab tantangan masa depan.

Baca juga: Serikat Pekerja Desak Gubernur Gunakan Hak Diskresi Naikan UMP 2022

Hal ini dilakukan untuk menghadapi disrupsi digital yang terjadi saat ini. Menurutnya disrupsi digital akan mengubah tren pekerjaan. “Saya challenge FHCI untuk membuat peta jalan terkait pekerjaan-pekerjaan mana yang ada di perusahaan BUMN yang ke depannya akan hilang. Mudah-mudahan kita bisa memberikan sumbangsih kepada negara. Kalau kita bisa memetakan hal tersebut, ini akan sangat membantu reshaping kita sebagai korporasi dan sebagai negara,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa disrupsi juga membawa hal positif. Ada pekerjaan yang berubah atau hilang, tetapi juga ada banyak pekerjaan-pekerjaan baru. Ia mendorong direksi BUMN untuk memastikan program kerja dan bisnis BUMN terus berjalan.

Erick Thohir juga menegaskan Kementerian BUMN juga memberi perhatian besar terhadap kepemimpinan perempuan. “Kesetaraan gender adalah bagian dari check and balance di lingkungan BUMN. Kekuatan leader perempuan adalah empati dan soal grooming leadership, perempuan lebih baik,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi karena leadership tidak bisa berjalan sendiri dan membutuhkan tim yang baik. Kolaboratif dan adaptif adalah dua unsur sangat penting saat ini dari core values BUMN AKHLAK yaitu Adaptif, Kolaboratif, Harmonis, Loyal, Amanah, dan Kompeten.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Forum Human Capital Indonesia (FHCI), Alexandra Askandar, mengatakan gelaran IHCS 2021 adalah salah satu bentuk kontribusi FHCI dalam upaya pengembangan human capital Indonesia. “IHCS adalah agenda rutin dua tahunan yang selalu dinanti dan ditunggu-tunggu oleh dunia HC di Indonesia.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kontribusi nyata FHCI sebagai mitra strategis pemerintah untuk membangun SDM Indonesia yang unggul. FHCI memiliki peran strategis dalam menjembatani profesional HCM di kalangan BUMN dan swasta dengan akademisi dan Kementerian BUMN,” ujar Alexandra.

Ia mengatakan tema IHCS tahun ini diselaraskan dengan era pandemi dan paska pandemi yang telah mengubah total manajemen human capital di dunia. “RETHINK, REINVEST, REINVENT merupakan cara untuk menjawab tantangan akibat pandemi. Diperlukan cara dan metode baru pengembangan HCM yang sebelumnya tidak atau belum pernah dilakukan, termasuk akselerasi tranformasi teknologi digital untuk mendukung transformasi human capital Indonesia,” tegasnya.

Bonus Demografi dan Masa Depan Human Capital Management

Indonesia diperkirakan akan menikmati bonus demografi pada 2030 – 2040 mendatang di mana 64% jumlah penduduk didominasi oleh usia produktif. Agar bisa menikmati bonus tersebut, Indonesia perlu meningkatkan kualitas sumber daya manusia dari sisi pendidikan, keterampilan, kesiapan menghadapi persaingan, dan lain-lain. Ini menjadi salah satu alasan penyelenggaraan IHCS 2021 yaitu sebagai upaya peningkatan kualitas human capital di atas sekaligus mendukung Visi Indonesia Maju.

“IHCS merupakan ajang untuk mereview talent-talent untuk bisa bersaing secara global. Kami mendorong para praktisi HCM BUMN dan swasta mempersiapkan organisasi dan talent yang agile untuk menghadapi tantangan bisnis ke depan,” ujar Wakil Menteri II BUMN, Kartiko Wirjoatmodjo di sesi press conference. Ia mengatakan Kementerian BUMN berkomitmen untuk membangun SDM yang adaptif dan ia berharap kegiatan IHCS bisa membantu mentransform human capital ke depan.

Salah satu hal unik dari IHCS 2021 adalah kehadiran dua sayap FHCI yaitu Srikandi BUMN dan BUMN Muda yang akan menyampaikan paparan inspiratif pada hari kedua mengenai Women and Youth Leadership. Hal ini sangat esensial mempertimbangkan riset-riset yang membuktikan bahwa diversity dalam kepemimpinan memberikan nilai tambah dan meningkatkan kinerja perusahaan.

Secara keseluruhan, Alexandra berharap insights yang diperoleh pada sesi IHCS 2021 dapat menjadi langkah awal dari diskusi mendalam di organisasi para peserta untuk mendukung Transformasi HC dan perubahan way of working paska pandemi di masing-masing organisasi. Ia juga berharap, sesi dua hari IHCS 2021 dapat memberikan ide gagasan baik bagi penyusun kebijakan, praktisi HC, maupun perguruan tinggi yang berperan dalam pendidikan SDM untuk mendorong pengembangan talenta Indonesia yang unggul dan berdaya saing global.

“Kami bertekad untuk tetap menjadikan Indonesia Human Capital Summit sebagai agenda rutin dua tahunan dari FHCI. Kami sangat bersemangat menjadikan IHCS sebagai barometer terdepan dan referensi utama serta benchmark bagi pengembangan dunia Human Capital Indonesia,” pungkas Alexandra. (ADV)