Kementerian Pertanian Konsisten Berkontribusi terhadap Ekonomi Indonesia

Pertanian menjadi salah satu sektor yang tahan guncangan di antara sektor lain yang bertumbangan diterpa pandemi Covid-19. - Kementan
10 November 2021 16:07 WIB Media Digital News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Pertanian menjadi salah satu sektor yang tahan guncangan di antara sektor lain yang bertumbangan diterpa pandemi Covid-19. Sektor ini, terutama dari perkebunan, konsisten berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di tengah pagebluk Corona.

Pertumbuhan sektor pertanian ini tak lepas dari sokongan yang diberikan pemerintah kepada petani.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh positif 3,51% secara year on year (y-on-y). “Pada triwulan III/2021 ini, sektor pertanian tumbuh 1,35 persen,” sebut Kepala BPS Margo Yuwono, saat konferensi pers secara daring, Jumat (5/11/2021).

Secara keseluruhan, 66,42% produk domestik bruto (PDB) nasional berasal dari industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan.

Berdasarkan catatan BPS tahun lalu, sektor pertanian disebut tetap tumbuh positif sebesar 16,24% secara quarter to quarter (q-to-q) dan 2,19% secara y-on-y di triwulan II/2020 saat awal pandemi berlangsung.

Untuk pertumbuhan sektor pertanian kali ini, Margo mengutarakan kinerja positif subsektor perkebunan menjadi penopang utama. “Tanaman perkebunan tembus 8,34 persen didorong peningkatan produksi beberapa komoditas perkebunan, seperti kelapa sawit, kopi, kakao, dan tebu,” ungkapnya.

Kinerja positif komoditas perkebunan pun turut menopang pertumbuhan industri pengolahan, terutama industri makanan dan minuman (mamin). Tercatat pertumbuhan industri mamin sebesar 3,49% turut didukung oleh peningkatan produksi crude palm oil (CPO) minyak sawit mentah, dan turunannya untuk memenuhi permintaan domestik dan luar negeri. Tren perbaikan ekonomi tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga dunia.

Margo mengungkapkan indikator Purchasing Managers Index (PMI) global pada Juli, Agustus, dan September 2021 mencapai lebih dari 50. “Harga komoditas makanan, seperti minyak kelapa sawit, cokelat, dan kopi di pasar internasional pada Triwulan III/2021 juga meningkat baik secara q-to-q maupun y-on y,” papar Margo.

Membaiknya ekonomi dunia secara keseluruhan maupun beberapa mitra dagang Indonesia turut mendongkrak kinerja ekspor Indonesia, termasuk pertanian. Margo menyebutkan ekspor pertanian pada triwulan III/2021 mencapai 1,04 miliar dolar AS, atau meningkat 14,85% bila dibandingkan triwulan sebelumnya.

Pertumbuhan sektor pertanian tak lepas dari sokongan yang diberikan. Salah satunya melalui kredit usaha takyat (KUR) pertanian.

Berdasarkan data Direktorat Pembiayaan Pertanian Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, serapan KUR Pertanian per 1 November 2021 Rp71,854 triliun atau 102,65% dari alokasi dana Rp70 triliun.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) menerangkan KUR Pertanian memang membantu petani dalam hal permodalan untuk mengembangkan budi daya pertanian mereka.

"Selama ini petani selalu terhambat dalam hal permodalan. KUR ini amat membantu petani dalam mengembangkan budi daya pertanian mereka dari hulu hingga hilir," ujar Mentan SYL, Selasa (2/11/2021).

Direktur Jenderal PSP Kementan Ali Jamil menambahkan serapan yang melampaui target itu membuktikan jika KUR amat membantu dan sesuai dengan kebutuhan petani.

"KUR sektor pertanian sejalan dengan target Presiden Joko Widodo agar perekonomian dasar masyarakat bergerak kembali. KUR membantu budi daya petani dan meningkatkan kesejahteraan mereka," kata Ali.

Ia merinci, untuk sektor tanaman pangan dari target Rp26,812 triliun, terealisasi sebesar Rp19,161 triliun. Untuk hortikultura dari target Rp7,847 triliun, terealisasi Rp8,916 triliun. Perkebunan dari target Rp20,281 triliun realisasinya sebesar Rp25,138 triliun. Adapun peternakan dari target Rp15,058 triliun serapannya sebesar Rp13,149 triliun.

Untuk kombinasi pertanian, perkebunan dan peternakan (mixed farming) realisasi sebesar Rp4,626 triliun, dan jasa pertanian, perkebunan dan peternakan sebesar Rp862 juta. "Adapun debitur yang mengakses KUR dari seluruh lini sektor tersebut sebanyak 2.198.375 debitur," papar Ali.

Serapan KUR pertanian tertinggi dari Sumatra sebesar 136,5%, Jawa 123,3%, Sulawesi 65,0%, Bali-Nusra 64,6%, Maluku dan Papua 22,9%. "KUR pertanian ini sudah menjadi kebutuhan penting bagi pertanian untuk mencapai target ketahanan pangan nasional," ujar Ali.

Ali Jamil menjelaskan tahun ini, implementasi KUR Pertanian di lapangan diubah polanya dibanding tahun lalu.

“Saat ini kami mengedepankan pola klaster. Tahun lalu itu dari plafon Rp50 triliun, realisasinya melebihi target Rp55 triliun. Tahun ini kami rasa juga demikian,” papar dia.

Sistem klaster tersebut dimaksudkan untuk mendukung ketahanan pangan dan swasembada pangan yang tengah menjadi program nasional. Misalnya ada klaster padi sebagai program swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional. Lalu, ada juga ada klaster jagung agar bisa menjadi produksi unggulan.

“Mengapa jagung, karena jagung murah dan hasilnya besar. Lalu ada klaster sawit, kopi, jeruk, hortikultura, tebu. Dan yang sedang menjadi unggulan adalah klaster porang dan klaster sarang burung walet, ” kata Ali. (*)