Akses Kesehatan Berbasis Teknologi Harus Dibuka Lebih Luas

Penandatanganan MoU terkait upaya bersama dalam mengoptimalkan penggunaan teknologi dalam menurunkan kematian ibu dan anak Serta pencegahan stunting, Selasa (2/11/2021). - Ist.
03 November 2021 05:47 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pembukaan akses kesehatan berbasis teknologi informasi harus dibuka lebih luas lagi untuk pemerataan layanan kesehatan. Terutama layanan kesehatan maternal untuk mengupayakan menekan angka kematian ibu (AKI), angka kematian bayi (AKB) serta stunting.

Co-Founder dan Chief Business Development Officer Sehati Group, Anda Sapardan menilai pemerintah perlu membuka akses kesehatan berbasis teknologi seluas-luasnya. Karena pemerataan kualitas layanan kesehatan maternal mendesak untuk dilakukan. Teknologi yang tepat menjadi alat penting untuk pemerataan layanan kesehatan tersebut. Saat ini tersisa waktul sekitar 1.000 hari untuk mengejar bonus demografi 2045 dan SDGs 2030, di mana penurunan AKI, AKB dan Stunting menjadi komponen utama.

BACA JUGA : Pakar: Paten Produk Teknologi Kesehatan Tak Menghambat

“Urgensi penerapan teknologi informasi dalam bidang kesehatan maternal saat ini sangat mendesak. Pemerataan pelayanan kesehatan yang berkualitas menjadi kebutuhan masyarakat tidak terkecuali di daerah-daerah terdepan, terpencil dan tertinggal,” katanya di sela-sela Semiloka Nasional Penguatan Perencanaan dan Pelaksanaan Upaya Kesehatan Menuju Indonesia Sehat Pasca Pandemi Covid-19, di  Yogyakarta, Selasa (2/11/2021).

Ia menambahkan pemanfaatan teknologi kesehatan maternal dapat mempercepat ketercapaian  salah satu dari enam building blocks WHO yakni health information system. Penguatan sistem kesehatan ini akan mampu mendorong upaya preventif, efisiensi yang bermuara pada peningkatan kualitas pelayanan dan pembiayaan kesehatan lebih terstruktur dan ekonomis.

“Salah satunya melalui penggunaan alat kesehatan maternal berbasih Internet of Medical Think [oMT], TeleCTG. Ini hasil inovasi anak bangsa menjadi pertama di dunia yang mampu mendiagonosa risiko kematian ibu, bayi dan stunting lebih dini,” katanya.

Anda mengatakan ada empat komponen penting yang harus disiapkan untuk mengakselerasi transformasi digital khususnya di bidang kesehatan maternal. Antara lain komitmen untuk membuat kebijakan yang mengarah pada percepatan transformasi digital. SDM menjadi penting untuk terus ditingkatkan kualitasnya melalui pelatihan inklusi digital.

“Selanjutnya terkait teknologi, artinya segala hal yang membuat kegiatan menjadi mudah menjadi sebuah keharusan. Inovasi melalui TeleCTG merupakan teknologi terkini untuk urusan pelayanan kesehatan maternal. Terakhir adalah infrastruktur, misalnya kesediaan listrik, jaringan internet” ujarnya.

Ketua Asosiasi Dinas Kesehatan M. Subuh dalam kesempatan itu menyoroti terkait pentingnya manajemen pelayanan kesehatan yang harus terus ditingkatkan. Teknologi memang menjadi hal penting dalam memberikan layanan kesehatan. Persiapan yang baik menurutnya akan menciptakan suatu kesiapsiagaan dalam menagani suatu permasalahan kesehatan.

BACA JUGA : BPJS Kesehatan Beri Penghargaan kepada Media

“Permasalahan kesehatan masyarakat ini menjadi perhatian dunia, sehingga dalam penguatan layanan kesehatan kita ingin rehospital emergency manajemen program. Tingkat komunitas organisasi haru memahami dan harus diperkuat. Soal pandemi misalnya tidak bicara tentang tingkat keparahan suatu penyakit melainkan pada penyebaran penyakit,” katanya.

Plt Dirjen Bina Bangda Kemendagri, Sugeng Hariyono menyatakan pentingnya kesesuaian antara anggaran pusat dan daerah yang harus diikuti dengan dukungan perencanaan yang matang untuk menghasilkan layanan kesehatan yang baik.

“Misalnya terkait profil kesehatan dianalisis data dan informasi untuk mendapatkankesimpulan fenomena dan masalah. Karena kalau tidak muncul dalam perencanaan tidak akan muncul dalam anggaran,” ujarnya.