Indonesia Baru Penuhi 5 Persen Kebutuhan SDM Nuklir

Plt Deputi Bidang SDM dan Iptek BRIN Edy Giri Rachman (kiri). - Ist.
14 Oktober 2021 06:17 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) bidang teknologi nuklir di Indonesia terus meningkat. Selain sektor industri, kesehatan juga banyak memanfaatkan teknologi nuklir untuk mempercepat dan efisiensi pekerjaan.

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) yang saat ini menjadi bagian dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bertekad untuk terus menambah SDM lulusan melalui perubahan Sekolah Tinggi Teknik Nuklir (STTN) menjadi Politeknik Nuklir Indonesia.

Plt Ketua STTN Batan Sukarman menjelaskan kebutuhan SDM bidang nuklir terutama untuk pemanfaatan alat radioaktif masih sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya pertumbuhan industri berbasis nuklir dengan memanfaatkan energi radioaktif. Selain itu, saat ini banyak sektor kesehatan yang mulai menggunakan teknologi nuklir dan terus terjadi peningkatan ke depannya, seperti untuk memproduksi radioisotop. Teknologi itu tidak bisa dilakukan oleh teknisi lain selain bidang nuklir.  

“Saat ini ada lebih dari 11.000 perusahaan yang masih membutuhkan petugas bidang nuklir seperti radioaktif, jumlah ini belum termasuk kebutuhan industri nuklir untuk kesehatan,” katanya, Rabu (13/10/2021).

Sukarman menyebut saat ini ketersediaan SDM nuklir di Indonesia baru terpenuhi sekitar 5% dari total kebutuhan. Oleh karena itu dengan berubah STTN menjadi Politeknik Nuklir akan memungkinkan adanya penambahan SDM dengan penerimaan mahasiswa yang lebih banyak. “Total kebutuhan kita untuk mensuplai SDM itu masih kurang,” katanya.

Plt Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) BRIN Edy Giri Rachman Putra menambahkan keterbatasan SDM nuklir memang snagat dipengaruhi oleh minimnya jumlah prodik teknik nuklir di Indonesia, sehingga lulusan yang dihasilkan pun sangat terbatas. Padahal posisi SDM nuklir sangat strategis, di sektor kesehatan misalnya, SDM nuklir sangat dibutuhkan untuk memastikan alat kesehatan dapat digunakan secara aman. Pekerjaan ini hanya bisa dilakukan oleh lulusan yang telah mendapatkan sertifikasi Surat Izin Bekerja Petugas Proteksi Radiasi (SIB PPR) yang diterbitkan oleh Bapeten.

“Mmemang kita di Indonesia, prodi paling banyak adalah sosial, teknik masih minim karena terkendala fasilitas. Apalagi teknik nuklir. Sehingga ke depan perlu terus dibangun link kuat antara perguruan tinggi sebagai sumber SDM untuk menyiapkan SDM Iptek ke depan,” ujarnya.

Edy menyebut dengan berubahnya STTN menjadi Politeknik akan menjadi terobosan penambahan SDM nuklir yang berkompeten. Jika saat ini jumlah mahasiswanya hanya ratusan, ke depan bisa mencapai 1.000 mahasiswa. Sehingga jumlah lulusannya pun terus bertambah untuk memenuhi kebutuhan SDM nuklir.

Pada Rabu (13/10/2021) telah diwisuda sebanyak 66 SDM nuklir lulusan STTN Batan. Selain sebagai sarjana terapan teknik, mereka telah diberikan Surat Izin Bekerja Petugas Proteksi Radiasi (SIB PPR) industri tingkat 1 dan SIB PPR Medis. “Proses mendapatkan SIB PPR melalui proses yang panjang, selain harus berbadan sehat yang dinyatakan oleh dokter, juga harus lulus pelatihan petugas proteksi radiasi yang diakui oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir," ucapnya. 

Plt Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN Agus Sumaryanto memastikan tingginya permintaan SDM nuklir ke depan, apalagi pada 2060 mendatang pemerintah tidak lagi menggunakan energi dengan bahan bakar fosil sebagai pembangkit tenaga listrik. Sehingga arahnya akan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). “Untuk menuju 2040 harus kita persiapkan” ujarnya.