100 Buruh Rokok Akan Long March ke Istana untuk Temui Jokowi

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat FSP RTMM SPSI Sudarto (tengah). - Ist.
06 Oktober 2021 05:37 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Sebanyak 100 buruh rokok dari berbagai daerah akan melakukan longmarch menuju ke Istana Negara untuk menemui Presiden Jokowi. Mereka akan membawa lukisan hasil karya petani tembakau sekaligus menyampaikan aspirasi ke Jokowi untuk menunda kenaikan cukai rokok.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat FSP RTMM SPSI Sudarto menjelaskan aksi jalan kaki itu akan dilakukan pada pada 11 Oktober 2021 mendatang dimulai dari kantor pusat organisasinya di kawasan Ciracas menuju Istana Negara dengan jarak sekitar 30 kilometer. Jumlah buruh yang akan ikut sebanyak 100 orang dan semuanya akan mengenakan pakaian adat dari daerah masing-masing.

BACA JUGA : Perusahaan di DIY Mulai Pekerjakan Buruh yang Dirumahkan

“Dalam longmarch ini kami akan membawa lukisan karya petani tembakau MN Wibowo dengan panjang 2 meter x 1,5 meter untuk kami bawa ke istana,” katanya Selasa (5/10/2021).

Sudarto menambahkan aksi long march itu dilakukan sebagai tindakan untuk memprotes rencana kenaikan cukai rokok yang akan kembali diberlakukan pada 2022 mendatang, setelah upaya lobi belum mendapatkan tanggapan dari pusat. Ia memastikan pelaksanaan jalan kaki akan dilakukan dengan protokol kesehatan.

“Kalau tidak pandemi mungkin kami mengerahkan 100.000 orang, tetapi kami memahami situasi sehingga hanya sekitar 100 orang untuk jalan kaki, agar bisa menemui Pak Jokowi atau paling tidak pejabat Sekretariat Presiden,” katanya.

Ia sangat berharap dapat bertemu langsung dengan Presiden Jokowi untuk dapat menyampaikan aspirasi secara langsung. Menurutnya rencana kenaikan cukai rokok akan membunuh produk kearifan lokal berupa sigaret kretek tangan (SKT) yang jumlah pabriknya tergolong banyak di Indonesia. “Setiap tahun ini sejan 10 tahun terakhir ada 6.000 buruh rokok yang terkena PHK, kalau cukai terus dinaikkan tentu akan semakin banyak buruh yang harus kehilangan pekerjaan,” katanya.

BACA JUGA : Serikat Buruh DIY Berharap PPKM Tak Diperpanjang

Ketua PD FSP RTMM SPSI DIY, Waljid Budi Lestarianto menyatakan sejak tahun 2017 sudah ada dua perusahaan rokok di DIY yang tutup, dari sebelumnya total ada delapan pabrik. Sebagian besar pabrik tersebut memproduksi SKT.

“Sehingga buruh rokok DIY ikut ambil bagian untuk melakukan aksi dalam menyampaikan aspirasi ini. Kami juga sudah membahas langkah apa yang harus ditempuh ketika aspirasi kami ini nanti tidak mendapatkan tanggapan,” katanya.