Pakar: Era Industri 4.0, Tapi Banyak Perusahaan Belum Peduli Pentingnya Data 

Kegiatan Kuliah Umum Sesi 1 International General Lectures Engineering Asset Management for Productivity Improvement. - Ist.
28 September 2021 07:57 WIB Sunartono News Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Pakar menilai masih banyak perusahaan yang belum peduli terhadap pentingnya data meski saat ini masuk dalam era industri 4.0. Padahal melalui data menjadi pertimbangan dalam menentukan program menuju kesuksesan suatu usaha.

Ketua Program Studi Teknik Industri, Program Magister FTI UII Winda Nur Cahyo menambahkan industri 4.0 memang berbasis data. Hanya saja, hingga saat ini masih banyak perusahaan di Indonesia belum terlalu peduli terhadap pentingnya data. 

“Data masih tersebar di mana-mana dan tidak dikumpulkan, padahal data base sangat menentukan arah kemajuan perusahaan ke depan,” katanya dalam rilisnya Selasa (28/9/2021).

BACA JUGA : Pemanfaatan Big Data di Pemerintahan Masih Rendah

Ia menambahkan, UII secara akademik memiliki konsentrasi mendorong perusahaan maupun pelaku UMKM, bersama peneliti, dosen dan mahasiswa untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah, salah satunya memanfaatkan Drone Emprit Academic.

“Business Intelligence merupakan kunci sukses bagi perusahaan dalam mengembangkan bisnisnya di era revolusi industri 4.0. Hal tersebut dipengaruhi kemampuan pemanfaatan big data,” katanya.

Pakar Media Sosial sekaligus Founder Drone Emprit and Media Kernels Ismail Fahmi mengatakan analisis percakapan di medsos dapat dijadikan kunci sukses perusahaan, lembaga serta organisasi sosial, dan politik di era revolusi industri 4.0. Analisis tersebut membuat pola pemikiran manusia berubah cenderung mempermudah melakukan suatu tindakan. 

Ia menambahkan meelalui big data, dapat diketahui produk apa saja yang sedang laris dan tidak laku. Selain itu, dapat mengetahui hal-hal apa saja yang sedang menjadi perhatian atau percakapan masyarakat. 

“Sebagai akselerasi transformasi proses bisnis bagi perusahaan dengan memanfaatkan big data media sosial. Big data untuk memudahkan menentukan sikap mengambil kebijakan bisnis meningkatkan modal dan produksi serta kebijakan suatu organisasi dan lembaga dalam mensukseskan suatu program kerja,” ujarnya.