Dokumen Terbaru 9/11, Arab Saudi Tak Terlibat Meski 15 Pembajak Adalah Warganya

Peringatan jelang 20 tahun tragedi 11 September di Flight 93's Memorial Plaza, Pennsylvania, AS - Bloomberg / Ryan Collerd.
12 September 2021 17:17 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA— Sebuah dokumen terbaru yang melihat hubungan antara warga Arab Saudi di AS dengan dua penyerang pada tragedi 9/11, dibuka oleh Biro Intelijen Federal (FBI) Amerika Serikat (AS).

Kerabat korban telah lama mendesak pemerintah AS untuk  mengungkapkan dokumen itu. Pejabat Arab Saudi disebut memiliki pengetahuan sebelumnya tetapi tidak mencoba untuk menghentikan serangan itu.

Akan tetapi dokumen tersebut tidak memberikan bukti bahwa pemerintah Saudi terkait dengan rencana 9/11. Padahal, sebanyak 15 dari 19 pembajak pesawat adalah warga negara Arab Saudi.

Baca juga: Kuota Penonton PON Papua di Bawah 10.000 Orang, Termasuk Pembukaan dan Penutupan

Menjelang dokumen itu dibuka ke publik, Kedutaan Besar Arab Saudi di Washington menyambut baik rencana pengungkapan tersebut dan sekali lagi menyangkal adanya hubungan antara kerajaan dan para pembajak serta menggambarkan klaim tersebut sebagai "salah dan jahat".

Dokumen itu dideklasifikasi pada peringatan 20 tahun serangan teror paling mematikan di tanah AS ketika hampir 3.000 orang tewas setelah empat pesawat dibajak sebelum ditabrakkan ke sejumlah gedung termasuk di New York.

Beberapa keluarga korban telah menekan Presiden Joe Biden untuk membuka rahasia dokumen tersebut dengan mengatakan tidak akan menghadiri upacara peringatan hari Sabtu di New York jika dia tidak siap untuk membeberkannya.

Dokumen FBI setebal 16 halaman itu masih banyak disunting. Hal ini didasarkan pada wawancara dengan sumber yang identitasnya dirahasiakan dan menguraikan kontak antara sejumlah warga negara Arab Saudi dan dua pembajak, Nawaf al-Hazmi dan Khalid al-Midhar.

Baca juga: Antisipasi Kebakaran, Rutan Pajangan Gelar Simulasi Penanganan Bencana

Para pembajak menyamar sebagai pelajar untuk memasuki AS pada tahun 2000. Memo FBI mengatakan bahwa mereka kemudian menerima dukungan logistik yang signifikan dari Omar al-Bayoumi, yang menurut saksi adalah sering berkunjung ke Konsulat Arab Saudi di Los Angeles meskipun status resminya pada saat itu sebagai mahasiswa.

Bayoumi, sumber tersebut mengatakan kepada FBI, memiliki "status yang sangat tinggi" di konsulat.

"Bantuan Bayoumi untuk Hamzi dan Midha antara lain penerjemahan, perjalanan, penginapan dan pembiayaan," menurut memo itu seperti dikutip BBC.com, Minggu (12/9/2021).

Dokumen FBI juga mengatakan ada hubungan antara dua pembajak dan Fahad al-Thumairy, seorang imam konservatif di Masjid Raja Fahad di Los Angeles. Dia digambarkan oleh sumber sebagai "memiliki keyakinan ekstremis".

Baik Bayoumi maupun dan Thumairy meninggalkan AS beberapa minggu sebelum serangan 9/11.

Badan tersebut juga mengutip Jim Kreindler, seorang pengacara untuk kerabat korban 9/11, yang mengatakan bahwa dokumen yang dirilis itu "memvalidasi argumen yang dibuat dalam gugatan hukum mengenai tanggung jawab pemerintah Rab Saudi atas serangan 9/11".

Sumber : Bisnis.com