Pengembangan Rute Baru Maskapai ke Timur Indonesia Ada Potensi dan Resiko

Selama masa pembatasan penerbangan, perusahaan memaksimalkan utilisasi pesawat dengan mengoperasikan 20 persen armadanya sebagai angkutan kargo. - Citilink
09 September 2021 11:47 WIB Anitana Widya Puspa News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Langkah Citilink dan Sriwijaya Air untuk memperluas pasar barunya ke Timur Indonesia menjelang penghujung akhir tahun ini dalam suasana pandemi dinilai penuh tantangan, meskipun tak sedikit potensi yang bisa diraup. 

Pemerhati penerbangan Alvin Lie mengatakan kebijakan tersebut merupakan pilihan bisnis dari masing-masing maskapai.

Alvin memaparkan lazimnya ada sejumlah strategi pengembangan bisnis yang bisa diambil oleh maskapai. Diantaranya, yakni pertama dengan mengembangkan produk lama, pelanggan baru serta pengembangan pasar.

BACA JUGA : KA Bandara YIA Akan Beroperasi Sesuai Jadwal Penerbangan

Kemudian, opsi lainnya adalah pengembangan produk baru, pelanggan lama dan pengembangan produk. Lalu adapula produk lama, pelanggan lama dengan intensifikasi pasar. Terakhir adalah Produk baru, pelanggan baru dengan diversifikasi.

“Itu semua pilihan bisnis. Sriwijaya dan Citilink pasti juga memperhitungkan aktivitas dan produktivitas pesaing yang melayani rute atau wilayah tersebut,” ujarnya, Rabu (8/9/2021).

Menurutnya, maskapai bisa membuka jaringan barunya untuk mengetes pasar sembari melihat hasil atau respon pengguna. Apabila ternyata hasil respon pengguna memuaskan, rute tersebut lebih baik dilanjutkan tetapi apabila masih sepi penumpang tentu harus disetop.

Perluasan pasar ini memang tidak mudah karena hasilnya tidak pasti. Dia mencontohkan seperti nasib Citilink yang juga telah membuka rute perdananya menuju bandara Jenderal Besar Sudirman, Purbalingga. Pasca peresmiannya pada tahun ini, animo penumpang tinggi.

Namun, pada prakteknya keberlangsungannya tak bertahan lama karena jumlah penumpang tidak memadai untuk mendukung rute yang dilayani oleh Citilink dengan menggunakan pesawat ATR.

Pemerhati penerbangan Gerry Soedjatman mengatakan pembukaan rute yang dilakukan oleh sejumlah maskapai tersebut merupakan bentuk antisipasi menjelang akhir tahun. Pada akhir tahun ini selalu diproyeksikan bahwa mobilitas penumpang mengalami pertumbuhan sehingga membutuhkan peningkatan ketersediaan kapasitas yang secara otomatis juga menyebar ke rute-rute baru.

Apalagi dalam kondisi saat ini, kapasitas maskapai yang tersedia memang masih banyak, sehingga jika memang ada pasar yang potensial dapat dipakai untuk membuka rute baru. Rute-rute di wilayah timur tersebut juga nyatanya berpotensi untuk pasar kargo.

BACA JUGA : KA Bandara YIA Akan Beroperasi Sesuai Jadwal Penerbangan

“Selain itu, untuk ke Indonesia Timur, proporsi penumpang yang berupa rotasi pekerja juga lebih tinggi daripada di bagian barat Indonesia. Ini yang disasar,” jelasnya.

Sriwijaya Air mengumumkan untuk membuka rute barunya di wilayah timur Indonesia melalui Maluku Tenggara dari Jakarta melalui Makassar - Ambon - Langgur dan Langgur - Ambon - Makassar mulai 10 September 2021.

Direktur Niaga Sriwijaya Air Group Henoch Rudi menjelaskan pemesanan rute terbaru penerbangan tersebut bisa diakses dari Jakarta (via Makassar dan Ambon) serta dari Makassar (via Ambon).

Penerbangan Ambon – Langgur dan Langgur – Ambon ini juga terkoneksi langsung dengan penerbangan Sriwijaya Air dari/ke Makassar, sehingga akan memberikan kemudahan akses transportasi bagi masyarakat Makassar yang ingin menuju/dari Langgur.

Menurutnya, di tengah pandemi saat ini berbagai upaya harus dilakukan maskapai guna membangkitkan lagi industri penerbangan tanah air.

Terlebih lagi, pandemi juga telah mempengaruhi operasi sektor penerbangan, termasuk Sriwijaya Air selama kurang lebih satu setengah tahun belakangan ini. Salah satunya dengan pembukaan rute baru yang diharapkan dapat memancing daya tarik penumpang untuk bepergian kembali.

“Sriwijaya Air mencoba memanfaatkan momentum melandainya kondisi pandemi di tanah air, sehingga waktu ini kami anggap tepat untuk membuka rute Ambon – Langgur – Ambon yang terkoneksi pula dengan Makassar ini, mengingat kondisi perekonomian masyarakat Maluku Tenggara, Ambon dan Makassar yang kami yakini sedang mencoba bangkit dari kondisi yang sulit,” ujarnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia