Mirip! Ini Perbedaan Gejala Covid-19, DBD, dan Malaria

Ilustrasi demam yang bisa menjadi gejala Covid-19, DBD, dan Malaria - istimewa
26 Agustus 2021 20:17 WIB Feni Freycinetia Fitriani News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Selain membuat udara menjadi sejuk, musim hujan juga membawa sejumlah penyakit seperti malaria dan demam berdarah dengue (DBD). Namun, malaria, DBD, dan Covid-19 ternyata memiliki banyak gejala yang sama.

DBD dan malaria adalah penyakit yang ditularkan melalui vektor dan wabah menyebar secara sporadic. Kehadiran Covid-19 di Indonesia dan dunia dapat memungkinkan ketiga infeksi menyebar secara bersamaan dan memicu kekhawatiran.

Meskipun berbeda jenis penyakit, ketiganya disebabkan oleh virus dan dapat menginfeksi tubuh dan menyebabkan banyak gejala, yang terutama bersifat pernapasan dan menyebabkan peradangan. Hal ini lantas membuat bingung masyarakat.

Melansir dari Times of Indian pada Kamis (26/8/2021), berikut adalah cara membedakan gejala Covid-19, DBD, dan malaria:

1. Demam berdarah (DBD)
Penyakit ini dapat disebabkan oleh empat jenis nyamuk pembawa virus dapat menyebabkan gejala seperti demam sangat tinggi, sakit kepala parah, nyeri sendi dan otot. Di saat yang sama menimbulkan gejala gastrointestinal seperti mual, sakit perut dan diare.

2. Malaria
Sementara malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium menyebabkan gejala yang parah seperti demam yang melemahkan disertai dengan menggigil, mialgia yang hebat, sakit kepala, kelelahan, berkeringat dan kadang-kadang, kejang (dalam kasus yang jarang terjadi).

3. Covid-19
Seseorang yang terinfeksi Covid-19 dapat menyebabkan sejumlah gejala yang dapat menyerang orang secara berbeda, baik itu ringan, sedang atau berat.

Beberapa ciri umum dari Covid-19 adalah demam yang meningkat, kedinginan, batuk, pilek, sakit tenggorokan, kesulitan bernapas, sakit kepala, mialgia, kelelahan, dan kelemahan yang hebat.

Apakah ada gejala yang harus diwaspadai?
Gejala yang tumpang tindih sulit untuk membedakan antara penyakit atau menunda pengobatan tepat waktu. Namun, ada beberapa perbedaan kecil yang mencolok antara ketiga penyakit tersebut, antara lain:

- Hilangnya indra penciuman dan perasa mungkin hanya ada pada pasien Covid-19.

- Saluran pernapasan bagian atas dan tanda-tanda peradangan seperti batuk, perubahan suara, iritasi tenggorokan mungkin tidak muncul pada DBD dan malaria. Itu adalah ciri khas utama dari infeksi Covid-19.

- Gejala gastrointestinal, seperti mual dan diare mungkin tidak selalu menimpa mereka yang terinfeksi Covid-19 (karena gejala tersebut terkait dengan varian virus yang lebih baru, bukan jenis aslinya).

- Sesak napas, nyeri dada, atau masalah pernapasan biasanya tidak menyertai DBD dan malaria.

- DBD dan malaria sering dimulai dengan sakit kepala atau lemas, yang mungkin tidak selalu terjadi jika Anda telah terpapar Covid-19.


Terlepas dari gejala di atas, DBD, malaria, dan Covid-19 memiliki beberapa perbedaan yang mungkin ingin diketahui oleh seseorang yang dicurigai terinfeksi, di antaranya:

1. Waktu inkubasi dan gejala penyakit berbeda
Gejala Covid-19 dapat muncul hanya dalam 2-3 hari pascakontraksi. Sedangkan malaria dan DBD, penyebaran melalui gigitan nyamuk memiliki waktu yang lebih lama, bahkan terkadang menyerang dalam waktu 22-25 hari.

2. Intensitas dan jenis
Infeksi Covid-19 jauh lebih parah dan kompleks, serta dapat menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa. Tingkat keparahan juga berkorelasi dengan faktor risiko yang signifikan, termasuk usia dan kekebalan, yang biasanya tidak terlihat pada DBD dan malaria.

3. Menular dan tidak
DBD dan malaria merupakan penyakit tidak menular, di mana tidak dapat menyebar dari orang ke orang. Sedangkan Covid-19 sangat menular.

4. Risiko terpapar
DBD dan malaria dianggap lebih berisiko bagi seseorang yang tinggal di daerah tropis, seperti Indonesia, dengan risiko yang diketahui sama. Namun, Covid-19 dapat menyerang kapan saja dan menyebar melalui area penularan yang tinggi.

Sumber : Bisnis.com