Advertisement
Jakarta Diroyeksi Tenggelam, Bagaimana Nasib Bisnis Rumah di Utara Jakarta?
Seorang warga berjalan di Pantai Indah Kapuk 2, Jakarta, Minggu (14/3/2021). - Antara Foto/Fauzan/rwa
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA — Senior Director Office Services Colliers Indonesia, Bagus Adikusumo mengatakan isu DKI Jakarta Tenggelam tidak memengaruhi peminat perumahan di pinggir pantai khususnya di Jakarta Utara. Permintaan akan rumah di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) 2 masih cukup tinggi.
"Prediksi ini di lapangan enggak ada mempengaruhi penjualan di Jakarta Utara. Pasar properti saat ini banyak diminati orang-orang yang ingin membeli rumah. Rumah masih terjual dengan bagus khususnya di area PIK 2 padahal di lahan reklamasi," ujarnya, Rabu (4/8/2021).
Advertisement
Pembangunan properti komersial dan apartemen di utara Jakarta pun tetap berjalan. Meskipun ada penurunan peminat properti komersial dan apartemen, lanjutnya, bukan disebabkan karena isu Jakarta akan tenggelam.
"Tersendatnya penjualan properti komersial dan apartemen ini dikarenakan oversupply dan dilema Covid-19 ini kapan segera berakhir," katanya.
Dia menilai pemerintah pun tak akan berdiam diri membuat Jakarta akan tenggelam. Upaya yang dilakukan pemerintah dengan membangun tanggul raksasa atau Giant Sea Wall di utara Jakarta.
"Tanggul raksasa itu setahu saya program jangka panjang DKI dan pembangunan nasional Indonesia. Ada keterlambatan dan slowing down, saya kira wajar ini proyek besar dan perlu analisis menyeluruh. Pemerintah enggak akan biarkan Jakarta tenggelam," ucap Bagus.
Sementara itu, Kepala Sub-Direktorat Perkotaan Ditjen Tata Ruang Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Eko Budi Kurniawan menuturkan Jakarta akan tenggelam pada tahun 2050 karena dipicu land subsidence sebenarnya sudah banyak diprediksi.
Tanah ambles disebabkan oleh dua kelompok besar, yakni faktor geologi yakni gempa tektonik dan faktor geoteknik berupa pengambilan air tanah, konsolidasi alami, serta beban bangunan.
Sejak tahun 2014, pemerintah sudah memperkirakan Jakarta bisa tenggelam karena amblesnya tanah lebih cepat dari ketinggian air.
Adapun penurunan tanah paling tinggi sekitar 14 sentimeter sampai 14,5 sentimeter per tahun.
"Tapi, ada lokasi lain yang mengalami penurunan lebih dalam. Kalau dipukul rata, penurunan terjadi sedalam 7,5 sentimeter per tahun. Di Pluit termasuk paling cepat," tuturnya.
Menurutnya, apabila terjadi kebocoran pada 2050, diperkirakan air laut bisa mencapai tengah kota dan dapat menyebabkan kerugian yang besar.
"Pada 2050, kalau air laut bisa sampai tengah kota, bayangkan berapa kerugiannya. Kami prediksi kerugiannya akan mencapai US$200 miliar dollar. Itu belum termasuk 1,5 juta lapangan kerja yang hilang dan masyarakat yang harus pindah," terang Eko.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memberikan pernyataan terkait prediksi tenggelamnya DKI Jakarta dalam kurun waktu 10 tahun mendatang di Kantor Direktur Intelijen Nasional, Selasa (27/7/2021) waktu setempat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Polisi Didesak Tangkap Dalang Teror Penyiram Air Keras Aktivis
- Tips Mudik Aman 2026, Gunakan Layanan 110 Jika Ada Gangguan
- Pulau Jawa Terancam Krisis Air, Bappenas Ingatkan Risiko Serius
- Serangan Air Keras ke Andrie Yunus Dinilai Ancam Demokrasi
- Terminal Jatijajar Prediksi Puncak Arus Mudik 18 Maret 2026
Advertisement
Jadwal Bus Sinar Jaya Rute Jogja-Parangtritis dan Baron, 15 Maret
Advertisement
Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul
Advertisement
Berita Populer
- Arus Mudik Jalur Selatan Jateng Mulai Terlihat di Wangon Banyumas
- Iran Serang Target Israel dan AS, IRGC Luncurkan Drone dan Rudal
- DLHK DIY Siapkan Evakuasi 900 Ton Sampah Saat Lebaran 2026
- Komisi III DPR Kecam Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS
- Trump Ancam Serang Pulau Kharg Jika Selat Hormuz Diblokir Iran
- Kasus Campak Bantul Naik 17 Kasus, Banguntapan Tertinggi
- Terminal Jatijajar Prediksi Puncak Arus Mudik 18 Maret 2026
Advertisement
Advertisement







