Advertisement
Trump Ancam Serang Pulau Kharg Jika Selat Hormuz Diblokir Iran
Tentara Iran berpatroli di Selat Hormuz, Iran selatan, Selasa (30/4/2025). /ANTARA/Xinhua - Ahmad Halabisaz.
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam akan menyerang infrastruktur minyak di Pulau Kharg jika kebebasan navigasi di Selat Hormuz terganggu. Ancaman tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan itu disampaikan Trump melalui akun media sosialnya di Truth Social. Ia menyebut keputusan untuk tidak menyerang fasilitas minyak di Pulau Kharg bisa berubah apabila Iran menghambat jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Advertisement
"Saya telah memilih untuk TIDAK menghancurkan infrastruktur minyak di pulau itu. Namun, jika Iran, atau siapa pun, melakukan sesuatu untuk mengganggu kebebasan dan keamanan pelayaran kapal melalui Selat Hormuz, saya akan segera mempertimbangkan kembali keputusan ini," tulis Trump di Truth Social.
Trump juga menyinggung kemungkinan operasi militer terhadap Pulau Kharg yang menurutnya berpotensi menjadi salah satu serangan udara paling kuat di kawasan Timur Tengah.
BACA JUGA
Trump menyebut serangan udara AS di pulau itu dalam operasi terhadap Iran akan menjadi “salah satu serangan pengeboman terkuat dalam sejarah Timur Tengah.”
Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari, termasuk di Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan serta korban sipil dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangan terhadap wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di berbagai titik di Timur Tengah.
Eskalasi konflik tersebut juga memicu blokade de facto di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi penghubung utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar global. Kondisi ini turut memengaruhi aktivitas ekspor dan produksi energi di kawasan tersebut.
Angkatan Bersenjata Iran bahkan menegaskan bahwa mereka menguasai Selat Hormuz dan tidak akan mengizinkan Amerika Serikat maupun negara yang terlibat dalam serangan terhadap Iran untuk melintasi perairan tersebut.
“Tanpa keraguan atau kelalaian apa pun, Selat Hormuz berada di bawah pengelolaan bijaksana pasukan angkatan laut pemberani Garda Revolusi. Agresor Amerika dan sekutu mereka tidak berhak untuk melintas di sini,” kata Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Central Headquarters, unit yang bertanggung jawab mengawasi operasi militer, Kamis.
Di tengah situasi tersebut, Iran menyatakan tetap membuka akses bagi kapal-kapal dari India untuk melintasi Selat Hormuz dengan aman. Pernyataan ini disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk India, Mohammad Fathali.
"Ya, Anda bisa melihatnya nanti, dan saya pikir setelah dua atau tiga jam… Karena kami percaya bahwa Iran dan India adalah teman," katanya kepada RT India ketika ditanya tentang jalur pelayaran kapal-kapal India.
Sebelumnya, Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga melakukan percakapan telepon untuk membahas upaya menjaga kelangsungan pasokan energi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Menurut laporan stasiun televisi News 18, India juga sedang melakukan negosiasi dengan Iran guna memastikan jalur pelayaran tetap aman bagi delapan kapal tanker lainnya.
Sementara itu, laporan dari stasiun televisi NDTV menyebut setidaknya dua kapal tanker India, Pushpak dan Parimal, telah berhasil melewati Selat Hormuz setelah komunikasi antara kedua pemimpin negara tersebut dilakukan.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz sempat hampir terhenti setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari yang memicu balasan serangan Iran terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur maritim paling penting di dunia karena menjadi rute utama pengiriman minyak, produk minyak bumi, serta gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia. Jalur ini menyumbang sekitar 20 persen dari total perdagangan global minyak dan gas alam cair.
India sendiri mengimpor lebih dari 60 persen kebutuhan gas alam cairnya dari luar negeri, dengan sebagian besar pasokan berasal dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan Qatar yang pengirimannya melalui Selat Hormuz.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Destinasi Wisata dengan Panorama Samudera dari Atas Karang Gunungkidul
Advertisement
Berita Populer
- Gibran Terima Rismon Sianipar di Istana Wapres
- Belasan Dapur MBG di Bantul Ditutup Sementara
- Siswa SLB Negeri Pembina Jogja Bagi-bagi Takjil kepada Warga
- KPK Beberkan Pungutan Percepatan Haji Khusus yang Menjerat Gus Yaqut
- Dampak Perang, Bursa AS Anjlok Dipicu Lonjakan Harga Minyak
- Rismon Tegaskan Ijazah Jokowi dan Gibran Asli
- Polda DIY Siapkan 21 Drone, Tangani Kemacetan Arus Mudik Lebaran
Advertisement
Advertisement







