Advertisement
Belum Ada Prediksi Waktu Pandemi Berakhir, Ini Saran Satgas Covid-19
Sejumlah warga menyantap sajian yang dijual salah satu warung makan di Kemayoran, Jakarta, Senin (26/7/2021). Pemerintah menyesuaikan aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 pada pelaku usaha kuliner dengan mengizinkan warung makan, pedagang kaki lima, lapak jajanan dan sejenisnya untuk buka dengan protokol kesehatan yang ketat sampai dengan pukul 20.00, menerima maksimal pengunjung makan di tempat tiga orang dan waktu makan maksimal 20 menit. ANTARA FOTO - Aditya Pradana Putra
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Masyarakat harus mulai beradaptasi dengan menjalani hidup berdampingan dengan virus Corona. Perilaku taat protokol kesehatan menjadi kunci utamanya.
Kasubbid Tracing, Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 Kusmedi Priharto mengatakan tidak ada yang dapat memprediksi kapan pandemi Covid-19 ini akan berakhir. Bahkan, virus terus bermutasi dan jumlah orang yang terpapar terus bertambah.
Advertisement
"Sudah sewajarnya mempersiapkan diri kita untuk hidup berdampingan dengan Covid-19. Seperti pada waktu ada flu spanyol yang ada di Indonesia juga sampai dengan 100 tahun," katanya pada, Kamis (29/7/2021).
Kusmedi menjelaskan virus Corona menular dari manusia ke manusia, tidak seperti virus lainnya seperti demam berdarah, flu burung atau flu babi yang medianya bisa dilakukan pemusnahan.
Untuk itu, setiap orang harus memiliki persiapan hidup bersama virus dengan tetap menjaga diri.
Pertama, vaksinasi. Kendati vaksinasi tidak membunuh virus, tetapi imunisasi tetap dibutuhkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh ketika virus berkembang di dalam tubuh kita.
Kedua adalah disiplin menerapkan protokol kesehatan dengan menggunakan masker, menjaga jarak dua meter ketika berkomunikasi dengan orang lain, dan senantiasa mencuci tangan.
"[Jika menjaga protokol kesehatan] penularan antara orang dengan orang itu hanya 1,5 -2 persen, efikasinya jauh lebih tinggi dari vaksin sendiri," katanya.
Covid-19 merupakan salah satu pandemi yang terjadi secara global sejak 2 tahun terakhir. Semua negara sedang berlomba-lomba untuk meningkatkan jumlah vaksinasi.
Berdasarkan data WHO, sebanyak 3,83 miliar dosisi vaksin telah didistribusikan ke seluruh penjuru dunia. Kendati demikian, para ahli kesehatan dari berbagai negara sepakat bahwa vaksinasi bukan senjata utama untuk menghentikan pandemi, melainkan dengan perilaku taat protokol kesehatan.
"Naik turunnya angka dari Covid-19 tergantung dari perilaku masing-masih. Kalau perilaku kita baik maka kita akan terhindar dari virus," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Operasi SAR KLM Nur Ainun Balqis Dihentikan, 2 Korban Masih Hilang
- Kawanan Gajah Liar Rusak Perumahan Karyawan di Siak, Tiga Motor Hancur
- DPR Nilai Penganiayaan Anak oleh Brimob Brutal, Desak Proses Pidana
- BBPOM Bagikan Kiat Pilih Takjil Aman Selama Ramadan
- SPPG NU Diresmikan di Lombok, Dorong Gizi Santri dan Ekonomi Umat
Advertisement
Transporter Baciro Jadi Ujung Tombak Pengolahan Sampah Organik di Jogj
Advertisement
Lalampa, Wisata Kuliner Khas Malut Favorit Saat Ramadan
Advertisement
Berita Populer
- Kementerian Luar Negeri Jepang Keluarkan Peringatan Global
- Tarif AS 10 Persen, Prabowo: Indonesia Siap Hadapi
- Badan Gizi Nasional Tegaskan Insentif Mitra MBG Dibayar Saat Libur Nas
- Heboh Agrinas Impor 105.000 Pikap India, APM Lokal Buka Suara
- 9 KKB Yahukimo Ditetapkan Tersangka
- PSS Sleman Kuasa Laga, Paksa Persipura Menyerah 2-0
- Perahu Migran Terbalik di Kreta, 5 Tewas dan 25 Hilang
Advertisement
Advertisement







