Kapal & Pemakaman Berusia 2.200 Tahun Ditemukan Arkeolog Tenggelam di Bawah Laut Mediterania

Kapal kuno tenggelam di kota bawah laut Mesir/Science Alert
27 Juli 2021 21:07 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Bangkai kapal dan pemakaman berusia lebih dari 2.000 tahun ditemukan di di bawah Laut Mediterania.

Para arkeolog menemukan bangkai kapal Mesir kuno berusia 2.200 tahun yang tenggelam beserta pemakaman.

Semua itu tersembunyi di bawah Laut Mediterania di Thonis-Heracleion, sebuah kota yang tenggelam sejak lama.

Kapal sepanjang 25 meter tersebut merupakan jenis kapal dengan layar besar yang dapat dipercepat lajunya oleh pendayung.

"Itu tenggelam setelah terkena balok besar dari kuil terkenal Amun, yang hancur total selama peristiwa bencana di abad kedua SM," kata tim arkeolog dalam sebuah pernyataan yang dirilis European Institute for Underwater Archaeology.

Peristiwa bencana yang dimaksud oleh tim ahli mungkin adalah gempa Bumi.

Serangkaian gempa Bumi mengakibatkan kota itu secara bertahap jatuh ke laut, hingga benar-benar tenggelam sekitar 1.000 tahun lalu.

Dilansir dari Science Alert, Selasa (27/7/2021), kapal tersebut sekarang terletak di bawah tanah liat dan puing-puing yang berjarak lebih dari lima meter dari kuil.

BACA JUGA: 17 Ibu Hamil Terinfeksi Covid-19 di Bantul Meninggal Dunia

Dengan bantuan sonar jenis baru, para ahli berhasil menemukan kapal yang dibangun dengan teknik mortise-and-tenon tersebut.

Saat ini, tim masih tidak mengetahui kargo apa yang dibawa kapal itu ketika tenggelam.

Di lokasi kota bawah air ini, para arkeolog juga menemukan tanah pemakaman yang digunakan sejak 2.400 tahun lalu.

Tanah pemakaman itu ditutupi dengan tumpukan batu yang biasa digunakan di Mesir kuno untuk menandai lokasi pemakaman.

Selain itu, tim juga menemukan jimat emas yang menggambarkan Bes, dewa Mesir yang dikaitkan dengan kelahiran dan kesuburan.

Orang Mesir kuno terkadang menggunakan gambar dewa untuk melindungi anak kecil dan wanita yang melahirkan.

Kota bawah laut ini ditemukan kembali oleh para arkeolog dengan Kementerian Purbakala dan European Institute for Underwater Archaeology pada 1999-2000.

Para ilmuwan masih terus mempelajari sisa-sisa kota sejak saat itu.

Sumber : Suara.com