Praktisi Telemedicine Surati Jokowi Soal Obat Covid-19, Ini Isinya

Presiden Jokowi mengunjungi salah satu apotek di Kota Bogor, Jabar, Jumat (23/7 - 2021) / Foto: BPMI Setpres
24 Juli 2021 23:17 WIB Aziz Rahardyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) blusukan mengecek stok obat terapi Covid-19 ke apotek di Bogor, Jawa Barat. Tindakannya menuai kritik dari sejumlah pihak.

Kritik salah satunya disampaikan oleh Erik Tapan yang merupakan pendiri Perhimpunan Informatika Kesehatan Indonesia (PIKIN) sekaligus praktisi telemedicine/telekonsultasi sejak 1992. Dia menyampaikan surat terbuka kepada Presiden Jokowi.

Erik sebenarnya mengapresiasi Jokowi karena di masih sempat dan mau turun ke bawah, mengecek langsung stok obat-obatan yang diperlukan di era lonjakan pandemi Covid-19 ini.

Namun, menurutnya, ada baiknya pemerintah memperketat kanal obat-obatan ethical agar hanya terdistribusi secara tertutup atau closed distribution, termasuk yang berasal dari layanan telemedis.

"Artinya, obat-obatan tersebut hanya bisa diperoleh dengan resep dokter termasuk resep yang dikeluarkan online. Dengan demikian, usaha pihak yang berwenang lebih bisa difokuskan pada management atau menyiapkan stok secara terpadu dengan aplikasi database khusus," ujarnya, dikutip Sabtu (24/7/2021).

Menurut Erik, ketimbang mengguyur pasar dengan stok berlimpah sehingga masyarakat bisa membeli kapan dan di mana saja, lebih baik fokus kepada pasien yang memang membutuhkan obat tersebut.

"Yang penting Pemerintah bisa menjamin agar jika diperlukan orang sakit, stok produk ini ada di RS/Klinik/Apotik dengan database yang terintegrasi dan update. Resep diperlukan agar bisa terdata, siapa saja yang membeli, berapa banyak, Dokter yang mengeluarkan, dan lain-lain," tambahnya.

Berikut ini isi lengkap surat terbuka Dr. Erik Tapan yang ditujukan ke Presiden Jokowi:

Dengan hormat,
Pertama-tama saya ingin menyampaikan rasa salut dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bpk Jokowi karena di tengah kesibukan mengurus Negara masih sempat dan mau ke bawah mengecek langsung stok obat-obatan yang diperlukan saat ini.
Yang kedua, jika diperkenankan saya ingin mengusulkan agar obat-obatan Ethical distribusinya dilakukan secara tertutup / Closed Distribution. Artinya obat-obatan tersebut hanya bisa diperoleh dengan resep Dokter termasuk resep yang dikeluarkan online. Dengan demikian usaha pihak yang berwenang lebih bisa difokuskan pada management (menyiapkan stok) secara terpadu dengan aplikasi database khusus. Tidak perlu mengguyur pasar dengan stok berlimpah sehingga masyarakat bisa membeli kapan & di mana saja. Yang penting Pemerintah bisa menjamin agar jika diperlukan orang sakit, stok produk ini ada di RS/Klinik/Apotik dengan database yang terintegrasi dan update. Resep diperlukan agar bisa terdata, siapa saja yang membeli, berapa banyak, Dokter yang mengeluarkan, dll.

Semoga usul ini bisa diterima.
Terima kasih.

Sebelumnya, Jokowi sempat blusukan ke Apotek di kawasan Bogor, Jawa Barat, terungkap dalam video yang diunggah Sekretariat Presiden, Jumat (23/7/2021) malam.

Video viral berdurasi sekitar 36 detik itu menampakkan bahwa Kepala Negara yang mengenakan kemeja putih lengan panjang masuk ke sebuah apotek untuk menanyakan keberadaan dua obat yakni Oseltamivir dan Favipiravir.

Namun, dia justru mendapatkan informasi bahwa kedua obat tersebut sudah tidak tersedia di apotek tersebut. Jokowi pun menimpali jawaban petugas apotek tersebut.

"Terus saya cari di mana, kalau mau cari?," tanya mantan Wali Kota Solo tersebut. Presiden juga menanyakan sejak kapan obat tersebut tidak ada di apotek.

Mengetahui bahwa stok obat terapi Covid-19 tidak ada di apotek tersebut, Jokowi pun langsung menghubungi Menteri Kesehatan dan menanyakan stok obat terapi Covid-19.

Sumber : JIBI/Bisnis.com