Viral Rumah Mewah Diobral, Begini Kondisi Sebenarnya

Proyek rumah mewah. - Ilustrasi/Bisnis.com
10 Juli 2021 08:57 WIB Yanita Petriella News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Belakangan muncul kabar bahwa ada rumah mewah di kawasan Pondok Indah dan Menteng Jakarta diobral. Namun para broker menyatakan hal tersebut tidak benar. Mereka menyatakan tidak ada rumah mewah di kawasan Pondok Indah dan Menteng yang diobral murah.

Direktur Utama PT ERA Graharealty Tbk Darmadi Darmawangsa mengatakan tidak ada rumah mewah di kawasan Pondok Indah dan Menteng yang diobral murah. Hal itu dikarenakan rumah di kawasan Pondok Indah Menteng merupakan rumah yang dihuni atau end user, bukan untuk investasi seperti di wilayah lain. 

"Jadi mereka yang tinggal di Pondok Indah tidak mungkin menjual rumahnya dengan harga obral karena ketika mereka jual, mereka enggak bisa beli lagi," ujarnya, Kamis Malam (8/7/2021). 

Dia menuturkan Pondok Indah memiliki 3 kelas yakni kelas pertama dengan nilai Rp40 juta - 50 juta per meter persegi, lalu kelas dengan harga Rp30 juta - Rp40 juta, dan kelas selanjutnya Rp20 juta - Rp28 juta.  

Namun, dia menjamin tidak ada penjualan harga obral untuk rumah second di Pondok Indah. 

"Tidak ada penjualan harga murah rumah di Pondok Indah karena terbatas rumah second di Pondok Indah," tuturnya. 

Sementara itu, Ketua DPD AREBI DKI Jakarta Clement Francis mengatakan terjadi koreksi harga rumah sekunder di Pondok Indah sekitar 5 persen hingga 10 persen.  

Unntuk wilayah Pondok Indah, harga rumah sekitar Rp 40 juta hingga 50 juta per meter persegi (m²) pada 2019. Dua tahun setelahnya, harganya terkoreksi menjadi sekitar Rp 30 juta-Rp 35 juta per m².

Di daerah Menteng, harganya sekitar Rp 85 juta-Rp 90 juta per m² pada 2019, sedangkan tahun ini menurun menjadi Rp 65 juta-Rp70 juta per m². 

"Kondisi tersebut bisa disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan dana cash, sementara minat pembelian properti jauh menurun. Penurunan harganya hanya 5 persen hingga 10 persen," ucapnya. 

Ketua Umum Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida berpendapat penurunan harga jual pada rumah mewah di secondary market bisa jadi merupakan kasuistik yakni terjadi pada wilayah dan kasus tertentu.

"Penurunan di beberapa wilayah tidak bisa mengambarkan properti keseluruhan," tekannya. 

Kondisi Stagnan

Dia menjelaskan khusus pasar properti kelas, penjualan baru sedang dalam kondisi stagnan. Penurunan yang terjadi pada tahun lalu belum bisa terdongkrak di tahun ini.

"Segmen hunian mewah hanya memiliki pangsa pasar yang kecil tapi memang membentuk pasar. Sekarang pasar properti mewah itu memang sedang drop, kita berproses untuk mengangkatnya lagi. Caranya dengan menggerakkan yang kelas menengah lebih dulu," tuturnya. 

CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengatakan tidak semua wilayah di Jakarta mengalami penurunan harga yang drastis. Di beberapa titik lokasi memang terjadi tingkat penawaran harga rumah yang terkoreksi sampai 50 persen dari harga pasaran setempat. 

"Memang terjadi koreksi harga di beberapa titik dapat mencapai 30 persen hingga 50 persen tetapi hanya sedikit rumah yang menurun. Tidak semua rumah dalam satu wilayah harganya jatuh sampai 50 persen," katanya. 

Secara rerata, koreksi harga rumah second yang terjadi masih aman di kisaran 2,85 persen. 

Sumber : bisnis.com