Kisah Perantau Penyintas Covid-19 Asal Jogja, Terpapar Virus Setelah Divaksin

Presiden Joko Widodo mengunggah foto adaptasi kebiasaan baru di tengah pandemi Covid-19. - Instagram @jokowi
30 Juni 2021 12:27 WIB Herdanang Ahmad Fauzan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Maret 2021 lalu, seorang pria 27 tahun bernama Rizaldy,  sempat berpikir bahwa setengah dari masalah hidup yang dialaminya setahun terakhir telah rampung.

Perantau yang tinggal di Duren Sawit Jakarta Timur, yang saat itu menjadi penerima vaksin Covid-19 racikan Sinovac itu yakin dirinya telah kebal dari virus SARS-CoV-2 alias Corona dan tak perlu risau lagi bila beraktivitas di luar ruang. Rizaldy juga sudah tak sabar merencanakan kunjungan ke kampung halamannya di Jogja yang sempat tertunda akibat pandemi.

Namun, dua bulan berlalu, perasaan lega tersebut berubah jadi horor. Alih-alih bebas, pada pengujung Mei lalu Rizaldy justru menyandang status pasien positif Covid-19 dan mesti menjalani isolasi selama hampir dua pekan.

“Saya sempat tidak percaya dan berpikir hasil yang positif itu kurang valid. Tapi selang sehari setelah dinyatakan positif akhirnya saya merasakan juga gejala-gejala seperti pusing dan hilang penciuman. Akhirnya percaya juga kalau vaksin memang bukan jaminan,” kata Rizaldy ketika dikonfirmasi Bisnis, Selasa (29/6/2021).

Pengalaman bergelut dengan Covid-19 diakui Rizaldy merupakan salah satu momen terberat dalam hidupnya.

“Soalnya mau ngapa-ngapain jadi susah dan benar-benar harus istirahat total. Bertahan saat terpapar Covid-19 ternyata lebih kompleks daripada yang saya bayangkan di awal,” imbuhnya.

Baca juga: Sempat Ditutup Sebentar, Tim Pemakaman BPBD Sleman Kembali & Makamkan 22 Jenazah

Rizaldy bukan satu-satunya. Ajeng, 25, seorang karyawan swasta di Bekasi, juga merasakan pengalaman tidak beda jauh. Dua pekan setelah disuntik vaksin, Ajeng tiba-tiba pusing dan badannya demam tinggi.

“Saat itu sebenarnya sudah feeling kalau saya positif, tapi setengah belum percaya karena saya yakin saya kebal setelah divaksin,” kata Ajeng.

Ajeng bercerita gejala yang dialaminya lumayan berat. Selain demam, dia merasakan sesak napas dan sempat mendapat perawatan khusus di rumah sakit.

Ajeng mengakui bahwa sejak divaksin, dirinya mulai abai terhadap protokol kesehatan dan bersikap lebih santai.

“Menyesal juga sih akhirnya karena gara-gara meremehkan, pekerjaan saya jadi terhambat dan ujung-ujungnya jadi merepotkan banyak orang,” sambungnya.

Seperti kata Rizaldy dan Ajeng, vaksin memang bukan jaminan. Berbagai studi dari ilmuwan telah menyatakan penerima vaksin masih bisa tepapar virus Covid-19. Terutama virus baru varian Delta, yang disebut-sebut berbagai publikasi masih sukar ditangkal oleh vaksin-vaksin Covid-19 yang sudah ada.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Pengendalian AS (CDC) hingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan agar orang-orang tetap menjaga protokol kesehatan meski sudah divaksin. Sikap ini juga yang kemudian diamplifikasi oleh Pemerintah Indonesia.

Bukan cuma menjaga protokol, Kementerian Kesehatan belakangan juga mengimbau masyarakat agar mempertebal pertahanan diri. Salah satunya dengan penggunaan masker ganda untuk mencegah transmisi.

“Jadi perlu didobel masker medis dan masker kain yang tiga lapis, sehingga akan lebih memastikan untuk menghalangi transmisi droplet. Jika menggunakan masker kain saja, maka samping kiri dan kanan masih ada bolong sehingga masih sangat mungkin terjadi penularan,” kata Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi dalam paparannya Selasa (29/6/2021).

Dalam 11 hari terakhir, kasus harian bahkan selalu meningkat di angka 10.000 kasus lebih. Total hingga Selasa (29/6/2021), data Satgas Covid-19 di Indonesia menunjukkan total kasus kumulatif di Indonesia menembus 2.156.465 kasus. Sebanyak 228.835 kasus masih berstatus kasus aktif, sedangkan korban meninggal sudah mencapai 58.024 jiwa.

Kata Epidemiolog

Epidemiolog Universitas Indonesia (UI) Budi Haryanto menilai kenaikan kasus merupakan elaborasi dari berbagai faktor. Salah satu di antaranya adalah kesadaran masyarakat yang rendah.

“Jadi terlepas dari kebijakannya, lockdown itu memang perlu. Lockdown di sini dalam artian adalah melockdown diri masing-masing. Jika kesadaran untuk menjaga diri, menjaga penularan di lingkungan keluarga dan sekitar meningkat, saya yakin transmisi kasus bisa berkurang,” kata Budi dalam diskusi daring Minggu (27/6/2021).

Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas Covid-19 BNPB Alexander K Ginting mengamini hal tersebut. Meski demikian, kata Alex, saat ini bukanlah momen yang tepat untuk saling menyalahkan.

Menurut Alex saat ini yang terpenting adalah mengubah sikap. Perlu ada kesadaran untuk membatasi aktivitas dan interaksi fisik hingga lingkungan yang paling kecil sekalipun.

Alex juga mengimbau kesadaran turut dimunculkan industri maupun perkantoran agar membatasi aktivitas pekerja. Jika perlu, dia menyarankan kantor-kantor memberlakukan kebijakan bekerja dari rumah masing-masing, alias work from home (WFH) dengan semaksimal mungkin.

“Kemudian, mal-mal itu jangan kita kunjungi dulu. Jangan ada interaksi, sehingga kita bisa mencapai suatu kelandaian kasus,” katanya.

Dengan adanya perubahan perilaku semacam itu, kemudian dielaborasi dengan peningkatan pelayanan kesehatan dari pemerintah dan fasilitas kesehatan, Alex yakin angka kasus tambahan bisa melandai pada pertengahan Juli ini.

Di Jakarta yang merupakan pusat persebaran virus contohnya, peningkatan pelayanan memang telah coba diupayakan. Kementerian Kesehatan pekan ini mulai melakukan penambahan tempat tidur di sebagian fasilitas kesehatan seperti RSDC Wisma Atlet, Pasar Rumput, dan Rusun Nagrek.

Tak kurang dari 3 rumah sakit vertikal Kemenkes di Ibu Kota juga telah dikonversi menjadi rumah sakit khusus Covid-19. Masing-masing adalah RSPI Sulianti Saroso, RSUP Persahabatan dan RSUP Fatmawati.

Kemudian, pelayanan deteksi juga ditingkatkan dengan pemberlakuan tes acak di sejumlah fasilitas transportasi umum.

Upaya vaksinasi juga terus dipergencar dengan peningkatan target secara bertahap. Presiden Joko Widodo dalam pernyataan terbarunya memasang target 1 juta vaksinasi per hari bisa dipertahankan sampai akhir Juli, lalu angkanya bisa dinaikkan menjadi 2 juta vaksinasi per hari pada Agustus.

“Saya mengingatkan bahwa seluruh pihak tetap harus bekerja keras agar target 1 juta per hari vaksinasi terjaga, dan dapat kita tingkatkan dua kalilipat pada Agustus 2021,” kata Jokowi, Senin (28/6/2021).

Vaksinasi, kendati bukan jaminan, tetap punya andil. Banyak studi telah menyimpulkan bahwa risiko dan gejala Covid-19 yang dirasakan penerima vaksinasi cenderung lebih ringan ketimbang penyintas yang belum divaksin.

Teranyar, data penelitian Departemen Kesehatan Inggris menunjukkan vaksinasi setelah satu dosis bisa meningkatkan 35 persen imunitas sedangkan vaksinasi dua dosis bisa menawarkan 79-96 persen imunitas.

Hanya saja, berkaca dari kasus yang dialami Rizaldy, Ajeng dan barangkali ratusan ribu warga Indonesia lain, pola pikir bahwa vaksin bisa menjamin situasi aman agaknya mesti tetap ditepis jauh-jauh.

Sebab, tanpa penerapan protokol kesehatan dan kehati-hatian yang kuat, upaya perlawanan terhadap pandemi Covid-19 hanya akan seperti melukis di atas air.

Sumber : bisnis.com