Vaksinasi Harus Lebih Progresif karena Gelombang Covid-19 Hantam Ekonomi

Pekerja menyelesaikan pembuatan perangkat alat elektronik rumah tangga di PT Selaras Citra Nusantara Perkasa (SCNP), Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (19/8/2020). Bisnis - Abdullah Azzam
23 Juni 2021 13:57 WIB Rahmad Fauzan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pelaku usaha meminta pemerintah lebih progresif menggelar vaksinasi karena semakin mengganasnya pandemi Covid-19 saat ini.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan program vaksinasi nasional yang sudah menjangkau sekitar 23 juta masyarakat sebenarnya sudah cukup progresif dalam upaya pemulihan kesehatan nasional di tengah kembali melonjaknya kasus Covid-19 di Tanah Air.

"Namun, kami menyayangkan adanya gelombang kedua [Covid-19] dan strain baru ini. Sebab, dari pelaku usaha yang terdampak sudah mulai banyak yang pelan-pelan mulai pulih. Gelombang kedua ini pasti akan kembali memengaruhi dunia usaha seiring dengan pengetatan kembali mobilitas masyarakat," ujar Shinta, Selasa (22/6/2021).

Kendati demikian, sambungnya, upaya pemerintah dalam menjalankan program vaksinasi terhadap masyarakat yang dibarengi dengan penerapan PPKM mikro diakuinya akan memberikan dampak kepada dunia usaha.

Menurut Shinta, sektor-sektor seperti ritel, transportasi dan logistik, hotel dan restoran, serta UMKM akan merasakan dampak ulangan seperti yang dialami sebelumnya. Mau tidak mau, lanjutnya, pengaruhnya juga akan dirasakan oleh perekonomian nasional.

Adapun, risiko yang berpotensi dialami seperti kembali anjloknya indeks penjualan riil (IPR) serta perumahan terhadap 15 persen pekerja di sektor ritel menjadi hal yang mesti dihadapi oleh dunia usaha menyusul gelombang kedua Covid-19 dan kebijakan PPKM mikro yang diambil pemerintah.

Dia memperkirakan dampak dari pelonjakan kasus Covid-19 serta penerapan PPKM berskala mikro akan mulai menghambat pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2021. Tetapi, Shinta tidak membuat estimasi terkait dengan angka pertumbuhan ekonomi yang realistis bisa dicapai pada periode tersebut.

Tidak hanya melalui program vaksinasi nasional, upaya mempercepat program vaksinasi juga diupayakan oleh swasta melalui program Vaksinasi Gotong Royong yang menargetkan 20 juta pekerja swasta sampai dengan penghujung tahun ini.

Bekerjasama dengan swasta, pemerintah dikatakan telah mendapatkan komitmen sebanyak 15 juta dosis vaksin dari produsen asal China, Sinopharm sampai dengan akhir 2021. Pemerintah, sambungnya, juga masih membidik peluang pengadaan vaksin dari CanSino dan Sputnik untuk mempercepat pemulihan, khususnya untuk dunia usaha.

Saat ini, program tersebut telah berjalan dan memvaksinasi sebanyak 250.000 pekerja swasta untuk alokasi pertama dari total 500.000 dosis vaksin merek Sinopharm. Pada alokasi kedua, ditargetkan sebanyak 1 juta vaksin Sinopharm akan diberikan kepada 500.000 karyawan swasta.

"Vaksinasi akan mengendalikan Covid-19. Pada saat Covid bisa dikendalikan, barulah bisa dipulihkan ekonomi. Namun, vaksinasi tetap perlu diserta dengan protokol kesehatan karena orang yang sudah divaksin tetap masih berpeluang terinfeksi," ujarnya.

Selain itu, tambah Shinta, pelaku usaha dipastikan akan meminta stimulus lebih banyak dari pemerintah. Selain bantuan sosial untuk pelaku usaha yang sedang berjalan dan PPnBM yang dinilai cukup membantu, pelaku usaha memerlukan insentif di sisi suplai dan permintaan.

Sumber : JIBI/Bisnis.com