Lebih Baik dari Sinovac, Vaksin Covid-19 Pfizer-BioNTech Hasilkan Lebih Banyak Antibodi

Petugas medis menyuntikkan vaksin COVID-19 "Comirnaty" Pfizer-BioNTech di pusat vaksinasi Paris, Prancis (12/5/2021)./Antara - Reuters/Gonzalo Fuentes
19 Juni 2021 17:57 WIB Mia Chitra Dinisari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA -Vaksin Sinovac yang paling banyak digunakan di Indonesia disebut tak sebaik vaksin Covid-19  Pfizer-BioNTech.

Vaksin BioNTech SE Covid-19 memicu tingkat antibodi yang "jauh lebih tinggi" dibandingkan dengan suntikan Sinovac buatan China, South China Morning Post melaporkan Sabtu, mengutip sebuah studi oleh Universitas Hong Kong.

Hasilnya menunjukkan beberapa penerima vaksin Sinovac mungkin memerlukan suntikan ketiga, kata surat kabar itu, mengutip pemimpin peneliti Benjamin Cowling.

Ahli epidemiologi memimpin studi yang ditugaskan pemerintah yang melacak respons antibodi dari 1.000 orang yang divaksinasi.

Cowling memperingatkan tes antibodi mungkin gagal untuk mengambil sejumlah kecil antibodi yang dihasilkan oleh tusukan Sinovac. Dia mengomentari rekomendasi penasihat ilmiah pemerintah untuk memotong waktu karantina bagi pelancong yang divaksinasi yang dites positif untuk antibodi tetapi negatif untuk virus, kata surat kabar itu dilansir dari Bloomberg.

Sementara itu, Strait Times mengutip jika awal pekan ini, para pejabat di Indonesia memperingatkan bahwa lebih dari 350 pekerja medis telah tertular Covid-19 meskipun telah divaksinasi dengan Sinovac dan puluhan lainnya telah dirawat di rumah sakit.

Hal ini, meningkatkan kekhawatiran tentang kemanjurannya terhadap varian virus yang lebih menular.

Sebelumnya pada bulan Juni, Uruguay merilis data dunia nyata tentang dampak vaksin Covid-19 Sinovac Biotech di antara populasinya yang menunjukkan lebih dari 90 persen efektif dalam mencegah penerimaan dan kematian perawatan intensif.

Pemerintah Uruguay juga mempelajari keefektifan vaksin Pfizer-BioNTech di antara 162.047 petugas kesehatan dan orang-orang yang berusia di atas 80 tahun, dan mengatakan bahwa suntikan itu 94 persen efektif untuk mencegah masuk dan kematian di unit perawatan intensif, dan mengurangi infeksi hingga 78 persen.
 

Sumber : Bisnis.com