Intlijen Israel Mengaku Berada di Balik Serangan Fasilitas Nuklir Iran

Simbol lembaga intelijen Israel, Mossad - Ilustasi
11 Juni 2021 23:27 WIB John Andhi Oktaveri News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA--Kepala dinas intelijen Mossad Israel, yang akan segera meninggalkan jabatannya karena pergantian rezim, mengaku negaranya berada di balik serangan terhadap program nuklir Iran dan seorang ilmuwan militer baru-baru ini.

Komentar oleh Yossi Cohen tersebut, saat berbicara kepada program investigasi Channel 12 Israel Uvda dalam segmen yang ditayangkan pada Kamis malam, menunjukkan pengakuan yang luar biasa oleh kepala badan intelijen yang biasanya bekerja secara rahasia, namun juga menunjukkan hari-hari terakhir pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Iran menyatakan tersangka di balik serangan pabrik Natanz adalah Israel dengan melakukan 'perang bayangan'. Israel berencana untuk menggagalkan kesepakatan nuklir Iran.

Pernyataan itu juga memberikan peringatan yang jelas kepada ilmuwan lain dalam program nuklir Iran bahwa mereka juga dapat menjadi target pembunuhan meski para diplomat di Wina mencoba untuk menegosiasikan persyaratan untuk mencoba menyelamatkan perjanjian nuklir 2015 dengan kekuatan dunia.

Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah mengirim para diplomatnya untuk menghidupkan kembali kesepakatan penting yang ditinggalkan pendahulunya, Donald Trump, pada 2018.

“Jika ilmuwan mau berganti karir dan tidak akan menyakiti kita lagi, maka ya, kadang-kadang kami menawarkan mereka jalan keluar”, kata Cohen seperti dikutip Aljazeera.com, Jumat (11/6/2021).

Di antara serangan besar yang menargetkan Iran, tidak ada lebih dahsyat dari dua ledakan tahun lalu di fasilitas nuklir Natanz. Di sana, ada sentrifugal untuk memperkaya uranium dari ruang bawah tanah yang dirancang untuk melindungi mereka dari serangan udara.

Pada Juli 2020, sebuah ledakan misterius menghancurkan perakitan sentrifugal canggih Natanz. Iran kemudian menuduh Israel sebagai pelakunya. Kemudian pada bulan April tahun ini, ledakan lain merobek salah satu ruang pengayaan bawah tanahnya.

Ketika membahas soal Natanz, pewawancara bertanya kepada Cohen ke mana dia akan dibawa jika bisa bepergian ke sana, dia berkata "ke ruang bawah tanah" di mana "sentrifugal dulu berputar".

"Tapi, sepertinya tidak seperti dulu," tambahnya.

Akan tetapi Cohen tidak secara langsung mengklaim serangan itu. Cohen juga tidak memerinci tentang bagaimana Israel menyelundupkan bahan peledak ke ruang bawah tanah Natanz.

Mereka juga membahas pembunuhan atas Mohsen Fakhrizadeh pada November tahun lalu. Dia merupakan ilmuwan Iran yang memulai program nuklir militer Teheran beberapa dekade lalu. 

AS dan sekutu regionalnya Israel menduga bahwa Iran sedang mencoba mengembangkan senjata nuklir. Tapi Teheran telah lama mempertahankan programnya untuk tujuan damai.

Sumber : JIBI/Bisnis.com