Wujudkan Industri Batik Ramah Lingkungan, Ini Strategi Kemenperin

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin Doddy Rahadi. - ist
10 April 2021 08:47 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Perindustrian melalui satuan kerja terkait menerapkan sejumlah strategi untuk mempercepat perluasan realisasi industri batik yang ramah lingkungan. Kementerian Perindustrian mendorong pelaku industri batik untuk mengoptimalkan pemanfaatan potensi sumber daya lokal terbarukan serta melakukan efisiensi energi dalam proses produksinya.

Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kemenperin Doddy Rahadi menyatakan strategi mewujudkan batik ramah lingkungan di antaranya menyusun standar, labelisasi dan sertifikasi produk batik sebagai upaya untuk penjaminan kualitas mutu batik, seperti SNI batik, Standar Industri Hijau (SIH) untuk produk batik.

Selain itu pengembangan aplikasi Batik Analyzer yang merupakan aplikasi pendeteksi batik dan tiruan batik serta pembuatan peralatan membatik hemat energi, seperti kompor listrik, canting listrik, mesin cap batik otomatis.

“Prinsipnya industri hijau atau industri berwawasan lingkungan juga bisa diterapkan di semua sektor industri, termasuk Industri skala kecil dan menengah seperti industri batik sekalipun,” katanya Sabtu (10/4/2021).

Ia menambahkan dengan adanya Standar Industri Hijau (SIH) untuk produk batik sejak 2019 diharapkan bisa membantu perajin batik dalam mengimplementasikan prinsip industri hijau dalam proses produksinya.

“Karena dalam SIH tersebut terdapat pedoman tentang penggunaan bahan baku, bahan penolong, dan energi; proses produksi; produk; manajemen pengusahaan sampai pada pengelolaan limbahnya,” katanya.

Kepala BBKB Kemenperin Titik Purwati Widowati menambahkan penerapan industri hijau di kerajinan batik yaitu pengunaan sumber daya terbarukan. Sebagai bahan bakunya seperti penggunaan media batik dari serat alam, penggunaan pewarna alami dan formula malam batik.

Bahan baku produksi batik masih menggunakan malam (lilin) dari formulasi parafin yang bersumber dari minyak bumi dan diprediksi perlahan akan habis. Kenyataan ini dapat mengancam kelangsungan industri batik tanah air, selain itu, sebagian bagian besar parafin masih diperoleh dengan cara impor.

“Maka perlu perekayasaan alat untuk meningkatkan produktivitas serta penerapan teknologi daur ulang limbah sisa malam batik maupun bahan pewarna juga bisa membantu mewujudkan industri batik ramah lingkungan,” katanya.