Jokowi Desak Kekerasan di Myanmar Dihentikan: Keselamatan Rakyat Prioritas Utama

Presiden Joko Widodo - Antara/BPMI Setpres/Handout
19 Maret 2021 15:37 WIB Fitri Sartina Dewi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendesak penghentian penggunaan kekerasan di Myanmar. Presiden juga menyampaikan ucapan duka cita dan simpati yang mendalam terhadap korban dan keluarga korban dari aksi kekerasan yang terjadi di Myanmar.

Hal tersebut disampaikan Presiden dalam pernyataan pers terkait perkembangan situasi terkini di Myanmar, Jumat (19/03/2021).

“Atas nama seluruh rakyat Indonesia, saya menyampaikan dukacita dan simpati yang mendalam kepada korban dan keluarga korban akibat penggunaan kekerasan di Myanmar. Indonesia mendesak agar penggunaan kekerasan di Myanmar segera dihentikan sehingga tidak ada lagi korban berjatuhan," kata Jokowi seperti dikutip dari Youtube Sekretariat Presiden, Jumat (19/3/2021).

Jokowi menegaskan bahwa keselamatan dan kesejahteraan rakyat harus menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, penggunaan kekerasan harus segera dihentikan.

Presiden menegaskan Indonesia juga mendesak agar segera dilakukan dialog dan rekonsiliasi untuk memulihkan demokrasi, perdamaian, dan stabilitas di negara tersebut.

“Saya akan segera melakukan pembicaraan dengan Sultan Brunei Darussalam sebagai Ketua Asean agar segera dimungkinkannya diselenggarakan pertemuan tingkat tinggi ASEAN yang membahas krisis di Myanmar,” ujarnya.

Sementara itu, sejumlah negara, termasuk Indonesia mengecam aksi penggunaan kekerasan oleh militer Myanmar kepada para pengunjuk rasa hingga menimbulkan korban jiwa dan korban luka-luka.

Adapun, Kondisi di Myanmar memanas setelah Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi dan sejumlah tokoh senior lainnya dari partai berkuasa ditangkap dalam penggerebekan pada Senin (1/2).

Penangkapan berlangsung setelah beberapa hari ketegangan antara pemerintahan sipil dan militer berpengaruh meningkat, yang menimbulkan kekhawatiran kudeta pascapemilu. Militer menyebut bahwa pemilu di Myanmar diwarnai kecurangan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia