Usai Dikurung 3 Hari, Gusti Moeng Putri Kraton Solo Ziarah ke Imogiri

Raja Paku Buwono (PB) XIII menghadiri tradisi Tinggalan Dalem Jumenengan atau peringatan naik tahta raja di Keraton Kasunanan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (22/4). - Antara/Mohammad Ayudha
15 Februari 2021 16:27 WIB Ichsan Kholif Rahman News Share :

Harianjogja.com, SOLO -- Salah satu tokoh Dewan Adat Kraton Kasunanan Solo, GKR Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, berziarah ke Makam Raja-Raja Mataram Islam di Imogiri, Bantul.

Ziarah itu dilakukan setelah dia bersama GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani yang merupakan putri kandung PB XIII, dua abdi dalem penari, dan seorang sentono dalem terkunci selama tiga hari dua malam di Keputren Kraton.

Saat berziarah, Gusti Moeng memohon kepada Gusti Allah agar kondisi Kraton Solo segera membaik.

Dia juga mengambil hikmah dari kejadian tersebut. Meskipun harus tidur beralaskan tikar dan makan dedaunan, Gusti Moeng dapat mengetahui kondisi di dalam Kraton Solo seusai diusir pada 2017 lalu. 

“Semoga dijauhkan dari bahaya serta orang-orang tidak berkepentingan yang mengaku utusan raja. Orang-orang itu justru memperkeruh suasan kraton dan menghambat perdamaian,” kata adik kandung Paku Buwono (PB) XIII dikutip dari JIBI, Senin (15/2/2021).

Gusti Moeng mengatakan kondisi dalam kraton sangat memprihatinkan, bangunan cagar budaya rusak tidak terawat. Gusti Moeng mendokumentasikan seluruh kondisi kraton itu.

Sebelumnya, Gusti Moeng terkurung di dalam kraton bersama GKR Timoer Rumbai Kusuma Dewayani yang merupakan putri kandung PB XIII, dua abdi dalem penari, dan seorang sentono dalem.

Usai pengusiran 2017 lalu, Gusti Moeng dan para gusti lain tidak dapat masuk ke keraton karena tak memperoleh izin dari Sinuhun Pakubuwono XIII. Hal itu membuat aktivitas adat dan budaya kraton tidak berjalan semestinya.

Hal itu juga dikarenakan tertutupnya akses abdi dalem dan abdi dalem garap.

“Kegiatan pengembangan budaya dan penelitian di Sasana Pustaka juga berhenti. Kondisi dokumen, naskah, budaya, warisan leluhur kami tidak tahu,” papar dia.

Dia berharap polemik keraton segera berakhir karena sangat berdampak pada pengembangan budaya jawa. Polemik itu menjadi kerugian masyarakat adat dan seluruh warga Indonesia.

Sumber : JIBI/Solopos