Eropa Kini Mulai Tinggalkan Batu Bara, Indonesia Kapan?

Pemandangan PLTU Paiton 1 dan 2 dari sisi perairan utara Probolinggo. Istimewa - PLN
10 Februari 2021 21:57 WIB Denis Riantiza Meilanova News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Batu bara diperkirakan masih akan memegang peranan penting bagi ketahanan energi nasional, setidaknya hingga 30 tahun mendatang.

Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan dan Tata Kelola Minerba Irwandy Arif mengatakan bahwa sampai dengan 2020 porsi batu bara dalam bauran energi nasional mencapai 38,7 persen dan ditargetkan turun menjadi 30 persen pada 2025.

Namun, berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), hingga 2050 porsi batu bara dalam bauran energi diperkirakan masih mencapai 25 persen.

BACA JUGA: Polri Akan Tindak Penyebar Hoaks Meninggalnya Ustaz Maaher

"Jadi, kapan Indonesia akan mengakhiri penggunaan batu bara seperti yang dilakukan Eropa? Sepertinya masih panjang jalannya. Apakah 2060,2070? Ini tergantung perkembangan EBT [energi baru terbarukan], dan lain-lain," ujar Irwandy dalam sebuah webinar, Rabu (10/2/2021).

Dia mengatakan bahwa saat ini sudah muncul tanda-tanda peringatan bagi industri batu bara, mulai dari Eropa yang segera menerapkan kebijakan near zero emission coal, China menurunkan jumlah impor batu bara, harga batu bara yang terus menurun, hingga perkembangan EBT di dunia dan Indonesia.

Akan tetapi, untuk kawasan Asia, hingga 2040 diperkirakan penurunan permintaan batu bara tidak begitu signifikan karena masih banyaknya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara yang beroperasi.

"Eropa akan segera mengakhiri penggunaan batu baranya. Namun, sebaliknya di Asia itu akan peak pada 2027 dan akan turun, tapi tidak signifikan karena sebagian besar dari pembangkit listrik batu bara terdapat di Asia. Memang ada pengurangan, tapi konsumsi masih cukup banyak," katanya.

Sementara itu, pemerintah saat ini gencar untuk mendorong penghiliran batu bara. Pemerintah ingin mewujudkan terbangunnya sejumlah industri hilir batu bara skala komersial, mulai dari gasifikasi, cokes making, coal upgrading, pencairan batu bara, coal slurry, UCG, dan briket batu bara, pada 2030 dengan kapasitas total mencapai 37,6 juta ton.

Sumber : Bisnis.com