Rekaman Black Box Sriwijaya Air Akan Dipublikasikan 30 Hari setelah Kecelakaan

Tim patroli laut Bea Cukai dari Pangkalan Sarana Operasi Bea Cukai Tanjung Priok turut melakukan pencarian terhadap pesawat Sriwijaya Air SJ 182 tujuan Jakarta-Pontianak yang hilang kontak di sekitaran perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (09/01). - Humas Bea Cukai
19 Januari 2021 12:27 WIB Anitana Widya Puspa News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) memastikan laporan awal (preliminary report) investigasi Sriwijaya Air SJ-182 akan dipublikasikan kepada masyarakat dalam 30 hari setelah kecelakaan.

Ketua Subkomite Investigasi Kecelakaan Penerbangan, Capt. Nurcahyo Utomo mengatakan telah mengunduh seluruh isi perekam data penerbangan (flight data recorder/FDR) dari kotak hitam (black box) Sriwijaya Air SJ-182.

BACA JUGA : KNKT Unduh Data Black Box Sriwijaya Air SJ-182. Apa Isinya

"Data dari FDR telah sukses diunduh dan berisi 370 parameter dan 18 data penerbangan. Diharapkan dalam 30 hari setelah kecelakaan, preliminary report dapat dipublikasikan pada masyarakat," kata Nurcahyo dalam keterangan resmi, Selasa (19/1/2021).

Sebelumnya, Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono berupaya menyingkap alasan pesawat tidak menuju ke arah semestinya seperti yang dilaporkan oleh menara pengawas.

FDR menjadi data yang paling penting untuk mengungkap kecepatan, ketinggian, posisi pesawat, informasi mesin, hingga posisi bujur dan lintang pesawat. Hal ini, termasuk alasan mengapa pesawat Sriwijaya Air ini menuju arah yang tidak semestinya.

“Arah hidung pesawat dan lintasannya, posisi GPS-nya kita bisa melihat lintasannya kenapa, mengarah ke mana. Kita akan lihat kenapa dari tower menanyakan kok berbelok ke arah Barat Laut. Kita bisa lihat dari FDR itu,” ujarnya melalui rekaman video yang dikutip, Senin (18/1/2021).

BACA JUGA : Data Detail Blackbox Sriwijaya Tidak Akan Disampaikan

Melalui data FDR ini, KNKT kemudian berhasil mengkonfirmasi data ADS-B dan wreckage engine yang menyebutkan bahwa kedua mesin masih beroperasi atau hidup sampai pesawat membentur air.

Sambil terus mempelajari data FDR, KNKT saat ini juga menunggu pencarian cockpit voice recorder (CVR) yang tengah dilakukan Tim Gabungan. CVR merupakan salah satu bagian penting kotak hitam yang berguna untuk proses investigasi lebih lanjut.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia