Advertisement
YLKI Sebut Penanganan Covid-19 di Indonesia Kurang Tepat
Warga antre saat akan melakukan tes cepat (rapid test) Covid-19, di area Terminal Domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Jumat (18/12/2020). Pengelola Bandara Ngurah Rai Bali mulai Jumat (18/12) menyediakan layanan Rapid Test Antigen setelah sebelumnya telah menyediakan layanan Rapid Test Antibodi yang dapat digunakan sebagai salah satu syarat untuk melakukan perjalanan. - Antara/Fikri Yusuf
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA - Pemerintah dinilai inkonsisten dalam penanganan pandemi Covid-19. Upaya mengutamakan ekonomi berujung resesi, sementara kasus dan rasio kematian Indonesia jadi yang tertinggi di Asia.
Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)Tulus Abadi menuturkan inkonsistensi pemerintah membuat penanganan Covid-19 di Indonesia menjadi sangat gamang bahkan cenderung kurang tepat.
Advertisement
"Pemerintah dalam manajemen penanganan pandemi inkonsisten sejak awal hingga akhir 2020 ini berjalan timpang. Ekonomi resesi, Covid-19 juga juara satu di level Asia, Indonesia di 629.000 kasus dengan rasio kematian 3 persen. Ini pertanyaan tegas politik menangani pandemi," ujarnya, Senin (21/12/2020).
Dia melanjutkan pada penentuan libur panjang Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 (Nataru 2020) pun pemerintah masih terlihat bingung. "Penentuan libur panjang Nataru pemerintah tambak limbung, masyarakat konsumen dan swasta jadi korban," imbuhnya.
Dia menegaskan waktu libur panjang akhir tahun yang sejak jauh-jauh hari diumumkan 11 hari dipangkas menjadi terpisah antara libur Natal dan Tahun Baru membuat masyarakat konsumen yang sudah terlanjur membeli tiket ke tempat wisata menjadi kerepotan.
Selain itu, aturan baru kewajiban rapid test antigen dan PCR pun turut andil yang membuat masyarakat meminta pengembalian tiket hingga Rp300 miliar. Swasta menjadi korban, pemerintah, terang Tulus kembali menunjukkan kemampuannya tidak dapat belajar dari pengalaman sebelumnya.
"Di luar negeri libur panjang akhir pekan saja ditiadakan, Indonesia malah dipanjang-panjangkan, 17 Agustus dan Maulid Nabi dipanjangkan, ini pun dengan begini pasca libur Nataru pasti naik kembali angka-angkanya. Rasio keterpaparannya di Jakarta 9,8 persen sementara WHO rekomendasi 5 persen, masih lebih tinggi 100 persen dari WHO," paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Aktivis KontraS Andrie Yunus Diserang Air Keras di Jakarta
- KPK Ungkap Pembagian Kuota Haji 2024 oleh Yaqut Cholil Qoumas
- Skandal Haji Eks Menag Yaqut: Kode T0, Bayar Rp84 Juta Bisa Berangkat
- Gugatan Kalah, KPK Jebloskan Mantan Menag Yaqut ke Rutan Merah Putih
- Hashim Djojohadikusumo Akan Pimpin Satgas Pembiayaan Taman Nasional
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Zakat ASN Sleman Rp13,2 Miliar, Dukung Program Masjid Ramah Pemudik
- Arus Mudik Tol Jogja-Solo Diprediksi Memuncak 18 Maret 2026
- Hashim Djojohadikusumo Akan Pimpin Satgas Pembiayaan Taman Nasional
- Hipertensi Dominasi Temuan Cek Kesehatan Gratis di Kulonprogo
- KPK Tahan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas Terkait Kasus Kuota Haji
- Hukuman Mati Kini Jadi Pidana Khusus di Indonesia
- Polisi Bongkar Peredaran Pil Sapi di Sewon Bantul, Ribuan Butir Disita
Advertisement
Advertisement









