Berhari-Hari Kampanye Door-to-Door, Suara Bajo Kalah Telak di Pilkada Solo

Pasangan calon atau paslon indepeden Pilkada Solo, Bajo. (Istimewa)
11 Desember 2020 16:27 WIB Kurniawan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Pasangan calon wali kota dan wakil wali kota di Bagyo Wahyono-FX Supardjo (Bajo) untuk sementara masih kalah telak dalam hal perolehan suara di Pilkada 2020 Solo.

Laman resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jumat (11/12/2020) 13.29 WIB, menunjukkan proses penghitungan suara di Pilkada Kota Surakarta sudah mencapai 56,38 persen. Surat surat sah yang sudah dihitung berasal dari 694 tempat pemungutan suara (TPS), sedangkan totalnya ada 1.231 TPS yang tersebar di 5 kecamatan.

Namun, Bajo yang bernomor urut pemilihan 02 hanya maraih 19.700 suara atau dengan persentase 13,5 persen. Pasangan ini kalah di seluruh kecamatan di Surakarta.

Sementara itu, Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa mampu meraup 126.042 suara atau 86,5 persen suara.

Hasil hitung cepat perolehan suara Pilkada Solo 2020 oleh Bawaslu Solo dan DPC PDIP Solo, Jumat pagi, juga menunjukkan keunggulan telak Gibran-Teguh dari rivalnya .

Berdasar hasil real count Bawaslu Solo, dari 1.231 TPS (100 persen), Bajo mendapat 35.302 suara atau 13,55 persen. Gibran-Teguh mendapat 225.148 suara atau 86,45 persen dan unggul di lima wilayah kecamatan.

Data tersebut tidak berbeda jauh dengan real count dari DPC PDIP Solo yang mencatat kemenangan pasangan Gibran-Teguh dengan 225.326 suara atau 86,13 persen. Bajo yang merupakan pasangan jalur perseorangan mendapat 36.298 suara atau 13,87 persen.

Perolehan suara pasangan Gibran-Teguh juga unggul dari Bajo pada lima kecamatan berdasar real count DPC PDIP Solo. Perolehan suara Bajo ini turun dari suara sah hasil verifikasi faktual oleh KPU Solo saat tahap pendaftaran paslon dari jalur independen.

Berdasar catatan Solopos.com, suara sah dukungan Bajo sebagai paslon independen ketika itu mencapai 38.831 dukungan. Namun, setelah penetapan sebagai cawali-cawawali Solo dan aktif door to door ke rumah warga, suara Bajo malah turun.

Persaingan Ketat

Perolehan suara Bajo berdasar real count Bawaslu dan DPC PDIP Solo juga bertolak belakang dari pernyataan Ketua Tim Pemenangan Bajo, Sigit Prawoso, beberapa hari menjelang pemungutan suara. Menurut Sigit, dukungan terhadap paslon Bajo terus bertambah.

Kepada Solopos.com saat deklarasi dukungan mahasiswa lintas kampus di Resto Balekambang, Solo, Sigit menyatakan optimismenya Bajo bakal meraup 80 persen suara. Alasannya, dia meyakini parpol pendukung Gibran-Teguh tak bekerja all-out.

Sigit juga meyakini suara PDIP untuk Gibran-Teguh tak utuh mengingat perjalanan turunnya rekomendasi DPP PDIP kepada pasangan itu melalui pertarungan sengit. Ketika itu DPC PDIP Solo mengusulkan pasangan Achmad Purnomo-Teguh Prakosa.

Upaya Gibran mendaftar cawali Solo dari DPC PDIP Solo gagal. Akhirnya ia melawan dengan mendaftarkan diri ke DPD PDIP Jawa Tengah (Jateng). Tak hanya Gibran, saat itu ada beberapa figur yang juga mendaftar sebagai cawawali lewat DPD PDIP Jateng.

Setelah melalui persaingan ketat akhirnya DPP PDIP menjatuhkan pilihan kepada pasangan Gibran-Teguh. Tak hanya PDIP, sejumlah parpol peserta Pemilu 2019 juga memberikan rekomendasi kepada pasangan Gibran-Teguh, seperti PAN, Partai Gerindra, Partai Golkar, PSI, dan beberapa parpol lainnya.

Sejumlah Faktor

Terlepas dari itu, turunnya perolehan suara paslon Bajo setelah pemungutan suara Pilkada Solo, Rabu (9/12/2020), bisa karena sejumlah fakfor. Faktor itu antara lain pendukung Bajo mengalihkan dukungan kepada Gibran-Teguh, suara pendukung Bajo tidak dihitung karena surat suara hasil pencoblosan rusak (tak sah), atau banyak pendukung Bajo tidak mencoblos.

Ketua Ormas Panji-Panji Hati atau Tikus Pithi Hanata Baris, Budi Yuwono, pada beberapa kesempatan menyatakan mempunyai metode penggalangan dukungan yang efektif karena merupakan warisan para pendahulu bangsa Indonesia. Metode itu yakni pendekatan sekasur, sedapur, dan sesumur.

Metode itu mengutamakan pendekatan kepada orang dalam lingkup terdekat para pendukung, mulai dari istri, anggota keluarga inti, hingga para kerabat. Namun pada pertarungan politik Pilkada 2020 ini tampaknya metode tersebut tak terlalu berhasil.

Sumber : JIBI