Hasil Survei: Penonton Video OTT di Indonesia Habiskan Waktu 3 Miliar Jam Per Bulan

Ilustrasi layanan streaming video. - Bloomberg/Daniel Acker
10 Desember 2020 04:57 WIB Lukas Hendra TM News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Sebanyak 180 juta konsumen di Asia Tenggara mengalirkan delapan miliar jam konten video over-the-top (OTT) per bulan yang menjadikan OTT sebagai salah satu saluran media yang tumbuh paling cepat di kawasan ini. Temuan itu menurut penelitian yang dilakukan The Trade Desk, sebuah perusahaan teknologi periklanan yang berbasis di California, AS dan tercatat di bursa Nasdaq.

Studi yang mensurvei kebiasaan penggunaan dan menonton pada platform OTT di Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam, menunjukkan bahwa Covid-19 telah mempercepat adopsi OTT. Dalam riset yang dipublikasikan pada Senin (7/12/2020) itu menunjukkan lebih dari setengah (57 persen) pengguna OTT mengatakan mereka streaming lebih banyak konten OTT selama pandemi.

BACA JUGA : OTT KPK, Pejabat Kemensos Ditangkap Bersama Sejumlah

Kebiasaan ini kemungkinan akan berlanjut bahkan setelah Covid-19 dengan 73 persen berencana mempertahankan atau meningkatkan konsumsi OTT setelah pandemi berakhir. Mitch Waters, SVP Asia Tenggara Australia dan Selandia Baru The Trade Desk, mengungkapkan pandemi telah mendorong perpindahan yang dipercepat ke OTT, dan tidak ada jalan untuk mundur.

Ini, lanjutnya, tidak mengherankan, mengingat banyak konsumen menghabiskan lebih banyak waktu di rumah, dan konten OTT lebih nyaman dan lebih mudah diakses daripada sebelumnya.

“Namun, penelitian kami menunjukkan bahwa pergeseran ini hanya terjadi dalam satu arah. Pengiklan memahami ini. Mereka ingin memindahkan kampanye untuk menjangkau konsumen di mana mereka berada, sehingga mereka dapat menerapkan data ke kampanye video dengan cara yang tidak mungkin dilakukan melalui saluran tradisional, seperti TV linier,” katanya seperti dikutip dalam keterangan resminya, Senin (7/12/2020).

Layanan OTT memungkinkan pemirsa untuk melakukan streaming konten video yang diproduksi secara profesional melalui internet sesuai permintaan, dari perangkat apa pun termasuk TV pintar, komputer pribadi, atau perangkat seluler. 

BACA JUGA : Siswa Jogja Sekolah di Poskamling, DPUPKP: Ada Intervensi

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa OTT berpotensi mengganggu TV prime-time tradisional secara serius. Mayoritas pemirsa OTT (70 persen) lebih memilih untuk menonton di antara jam 8 malam - 12 pagi, membawa streaming ke kompetisi langsung dengan TV tradisional untuk pemirsa primetime yang berharga.

Selain itu, hampir satu dari lima pemirsa OTT sama sekali tidak menonton TV tradisional dalam tiga bulan sebelum survei. Pemirsa Asia Tenggara juga mencari OTT untuk konten favorit mereka, dengan 58 persen mengikuti OTT untuk menonton program favorit mereka versus hanya 48 persen pada siaran tradisional.

Sebagai bagian dari pergeseran ini, pemirsa Asia Tenggara bersedia menerima iklan untuk konten gratis. Secara regional, lebih dari 100 juta orang menggunakan platform OTT yang didukung iklan, dengan sebagian besar pemirsa (89 persen) bersedia menonton iklan dengan imbalan pemrograman gratis. 

“Karena layanan streaming terus menyediakan konten streaming yang lebih banyak dan lebih kaya untuk memenuhi permintaan konten OTT yang terus meningkat, merek dapat menciptakan pengalaman iklan yang menarik yang ingin dinikmati pemirsa Asia Tenggara,” kata Waters. 

BACA JUGA : OTT KPK di Jogja Seperti Pecah Telur

Dia menambahkan dengan OTT, pengiklan memiliki kesempatan untuk berinvestasi dalam pendekatan dan platform periklanan berbasis data yang akan membantu mereka berhasil di masa depan TV yang baru ini.

INDONESIA TIGA MILIAR JAM

Penelitian itu juga menunjukkan bahwa pemirsa mengalirkan delapan miliar jam OTT per bulan di seluruh Asia Tenggara. Dari jumlah tersebut, sebanyak tiga miliar jam di Indonesia saja. Pasar teratas lainnya termasuk Filipina sebanyak 2,2 miliar jam streaming per bulan.

Sementara, Thailand dengan 1,41 miliar jam per bulan dan Vietnam dengan 1 miliar jam per bulan. 

57 persen pemirsa OTT telah meningkatkan streaming selama Covid-19 dan 73 persen berencana untuk mempertahankan atau meningkatkan konsumsi OTT bahkan setelah pandemi.

Serapan streaming selama Covid-19 menjadi yang tercepat di Indonesia, dengan 66 persen streaming lebih banyak, 59 persen di Vietnam, dan 58 persen di Malaysia. Secara regional, 17 persen pemirsa OTT belum menonton TV tradisional selama tiga bulan sebelum menanggapi survei. Angka itu lebih tinggi di Filipina (22 persen) dan Malaysia (23 persen). 89 persen pemirsa Asia Tenggara akan menonton iklan dengan imbalan konten streaming gratis.

BACA JUGA : Begini Nasib Proyek Saluran Air Hujan Kota Jogja yang

Indonesia dan Filipina sangat toleran terhadap iklan, dengan jumlah pemirsa yang ingin menonton empat atau lebih iklan per jam konten gratis masing-masing sebesar 38 persen dan 42 persen. 

Pengiklan dapat menjangkau lebih dari 100 juta konsumen di Asia Tenggara pada platform yang didukung iklan. Streaming yang didukung iklan sangat populer di Thailand, di mana pengiklan dapat menjangkau 7 dari 10 pemirsa OTT Thailand.

 

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia