SBY Sebut Dinamika Pilpres AS Bisa Jadi Pelajaran di Indonesia

Susilo Bambang Yudhoyono - Instagram Ani Yudhoyono
29 November 2020 06:17 WIB Rio Sandy Pradana News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Amerika Serikat telah menggelar Pemilu yang dilaksanakan di tengah pandemi Covid-19. Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan pesan agar dinamika politik yang terjadi selama Pilpres Amerika Serikat (AS) 2020 bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia.

SBY mengaku tidak menyangka Negeri Paman Sam yang dianggap sudah mapan dan matang budaya politik hingga peradaban bisa terbelah. Dinamika politik yang sebagian besar kalangan menganggap tidak berpengaruh, ternyata kenyataannya tidak.

"Bangsa kita ini majemuk, sejak merdeka selalu ada perbedaan dan konflik. Oleh karena itu siapapun yang memimpin Indonesia, jagalah. Jangan sampai bangsa ini terbelah, karena mahal sekali harganya," kata SBY yang dikutip melalui tayangan video yang diunggah lewat akun Facebook @SBYudhoyono, Sabtu (28/11/2020).

Baca juga: Data Chat WhatsApp Bisa Dipulihkan, Begini Caranya

Dia melanjutkan berdasarkan pandangan pribadinya, Partai Demokrat merasa ketika Trump memimpin selalu didiskreditkan. Banyak kebijakan dari Presiden Obama yang dibongkar atau seperti ada bentuk deligitimasi.

Selanjutnya, Trump merasa dipermalukan ketika dimakzulkan di Kongres AS, yang mayoritas adalah dari Partai Demokrat. Hal tersebut yang menyebabkan masyarakat setempat menjadi terbelah dan ada polarisasi tajam,

SBY menyebut sebagian kalangan melihat Trump sengaja menjalankan politik yang seperti itu untuk kepentingan politiknya dengan harapan ada pendukung dia yang total mendukungnya. Jadi, Pilpres AS ini memang terjadi dalam suasanya yang masyarakatnya terbelah, sehingga keras sekali.

Baca juga: Tahap Pertama, DIY Dijatah 2,2 Juta Vaksin Covid-19

Dia menilai sejak Pilkada 2017 melihat ada polarisasi yang tajam dalam di dunia politik Indonesia. Identitas menjadi unsur utama dalam kontestasi politik pilkada hingga pemilu di tingkat nasional.

"Ini tidak bagus karena sebuah bangsa yang sudah terbelah di banyak negara, tidak mudah untuk menyatukan kembali. Jangan sampai ke depan nanti, ada parpol yang menyenangi politik identitas maupun polarisasi politik untuk kepentingan politiknya. Itu sangat berbahaya," ujarnya.

Menurutnya, bangsa Indonesia harus bisa membangun budaya politik yang bagus, memastikan bangsa kita harus bersatu apapun dinamika politik yang terjadi.

Sumber : Bisnis.com