Impor Migas Masih Besar, Apakah Indonesia Krisis Energi?

Pekerja menyelesaikan pembuatan tangki LPG milik Pertamina EP di Balongan, Indramayu, Jawa Barat, Selasa (4/2/2020). - Antara/Dedhez Anggara
13 November 2020 05:07 WIB Muhammad Ridwan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA—Indonesia masih mengimpor minyak dan gas bumi untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri.

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional Djoko Siswanto menjelaskan Indonesia masih memiliki ketergantungan dari negara lain untuk komoditas liquefied petroleum gas (LPG) dan beberapa produk bensin.

Untuk LPG, katanya, rasio ketergantungan Indonesia untuk impor komoditas itu semakin meningkat setiap tahun. Pada tahun ini, rasio ketergantungan mencapai 300 persen. Di sisi lain, produksi dalam negeri terus merosot.

"Impor BBM dan LPG terus meningkat ini tanda krisis energi untuk dua komoditas ini. Cadangan dan sumber daya belum ditemukan signifikan, regulasi cadangan penyangga energi juga belum diteken presiden, impor minyak mentah masih cukup tinggi dan bergantung pada negara timur," katanya dalam webinar yang digelar Asosiasi Perusahaan Pemboran Minyak, Gas dan Panas Bumi Indonesia (Apmi), Kamis, (12/11/2020).

Lebih lanjut, tutur Djoko, kebutuhan Indonesia akan makin meningkat apabila nantinya seluruh kilang yang sedang dipersiapkan telah rampung.

Kebutuhan minyak mentah akan meningkat menjadi 1,8 juta barel pada saat kilang-kilang itu rampung, sedangkan pada saat ini produksi di dalam negeri hanya mencapai 700.000 barel per hari.

"Produksi kita minyak mentah turun, kebutuhan makin meningkat apalagi kalau bangun kilang baru," jelasnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia