Bandar Judi Kelas Kakap di Klaten Tobat, Siap Naik Haji Tahun Depan

Pak Ko - JIBI/Solopos/Ponco Suseno
03 November 2020 18:07 WIB Ponco Suseno News Share :

Harianjogja.com, KLATEN—Pak Kocrit alias Pak Ko, 55, bandar judi kelas kakap di Klaten menyatakan bertobat, Senin (2/11/2020). Pak Ko yang menjadi bandar judi togel selama 30 tahun terakhir dengan omzet Rp80 juta per hari itu telah membulatkan tekad meninggalkan dunia hitam.

Lepas dari dunia preman dan perjudian, Pak Ko memutuskan mencari duit halal. Saat sekarang, Pak Ko membuka berbagai usaha wisata dan kuliner. Sebagai bentuk "penebusan dosa", Pak Ko akan lebih giat mendalami ilmu agama dan bertekad menunaikan ibadah haji dan umrah paling cepat tahun depan. Bukan dengan uang hasil judi, tapi Pak Ko akan mengumpulkan uang halal dari bisnis barunya di bidang wisata dan kuliner tersebut untuk modal naik haji dan umrah.

BACA JUGA: Refly Harun Ungkap Alasan Bikin Konten Bareng Gus Nur: Menambah Subscriber

Di dunia premanisme dan perjudian di Klaten, nama besar Pak Ko telah berkibar sejak 1990. Saat memutuskan meninggalkan dunia hitam, Pak Ko juga berpamitan dengan teman-temannya yang masih berkecimpung di dunia preman dan perjudian. Meski godaan untuk kembali ke dunia hitam itu masih ada, Pak Ko mengaku tak akan mencla-mencle dengan keputusan yang telah diambil.

Pak Ko bernama lengkap Aditya Kristiawan. Suami dari Yeni Imelda Fiatun ini saat sekarang berdomisili di Jl. Dewi Sartika Gang 3 No 1 RT 003/RW 003, Kelurahan Klaten, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten.

Bapak dua anak ini ingin menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat. Pak Ko menyadari selama 30 tahun terakhir telah banyak merugikan ribuan orang saat menggeluti dunia preman dan perjudian. Sebelum menjadi bandar judi kelas kakap di Klaten, Pak Ko dikenal sebagai tukang jambret, tukang copet, dan sebutan lainnya yang bernada negatif.

BACA JUGA: Tak Kunjung Menikah, Chef Juna: Gue Siap Sendiri Sampai Tua

"Aku ngrugekke masyarakat wis akeh. Aku wis tobat dan berhijrah. Saiki aku pengen nulung masyarakat. Agar dosaku sedikit terkurangi. Agar sing gawe urip iso ngampuni aku [Tuhan Yang Maha Esa]. Aku pengin mendalami ilmu agama. Jika ada rezeki halal, aku ingin umrah dan naik haji tahun depan. Tak sekadar haji-hajian. Harus resik tenan atiku dan dari uang yang halal [saat naik haji dan umrah]," kata Pak Ko saat ditemui wartawan di Kedai Kopi Bima 66 di pojok Alun-alun Klaten, Senin (2/11/2020) malam.

Langkah Pak Ko pensiun dari dunia preman dan bandar judi berawal dari pergolakan batin yang panjang. Kali pertama hati Pak Ko tergugah ingin meninggalkan dunia hitam saat dirinya berada di dalam penjara. Pak Ko merasa sering dijebloskan ke penjara saat Idulfitri. Gema takbir yang berkumandang di malam Idulfitri telah menggetarkan hatinya untuk berpikir agar segera kembali ke jalan yang benar. Hal itu pula yang dirasakan Pak Ko saat menjalani masa hukuman di tahun 2019.

"Selama di dunia hitam [dunia preman dan bandar judi], saya sudah tiga kali masuk penjara. Pertama tahun 2006 [lima bulan], 2015 [enam bulan], dan 2019 [1 tahun 4 bulan]. Setiap saya di penjara itu pasti pas hari raya [Idulfitri]. Saya menangis saat mendengar takbir. Saat di penjara di tahun 2019 itu, saya sudah membulatkan tekad untuk bertaubat," kata Pak Ko.

BACA JUGA: Banjir Demo, UU Cipta Kerja Tetap Efektif Berlaku Hari Ini

Di samping muncul dari lubuk hatinya paling dalam untuk bertaubat, kisah Pak Ko yang kembali ke jalan yang benar juga banyak dipengaruhi anggota keluarganya. Hal itu terutama keberadaan kedua anaknya (Yana Ayu Indah Aprilianti dan Diva). Perasaan bersalah dan memikirkan anggota keluarganya itu sering membuat Pak Ko selalu gelisah saat akan tidur.

"Setiap ingin tidur [malam], saya selalu berpikir opo selamanya aku ngene terus. Saya ngunduri tuwo. Anakku wis wayah ragat. Saya merasa malu dengan anak saya. Anak saya juga bilang, ini yang terakhir buat saya [saat di penjara kali ketiga]. Mental anak saya jadi malu saat berkumpul dengan keluarga [besar] dan teman-temannya. Akhirnya saya putuskan bertaubat setelah keluar dari penjara [Pak Ko menjalani program asimilasi di tengah pandemi Covid-19 sejak Agustus 2019. Pak Ko akan bebas murni, Februari 2021]," katanya.

Begitu keluar dari penjara, Pak Ko langsung tancap gas menggeluti bisnis halal di bidang wisata dan kuliner. Sejauh ini, usaha yang digeluti Pak Ko, seperti membuka usaha objek wisata Batu Putih di Gajah Rejo, Talang, Bayat. Di bidang kuliner memiliki Cafe dan Resto Bima 66 di Pasar Pedan, Kedai Kopi Bima 66 di pojok selatan Alun-alun Klaten, Istana Susu Segar di Rawa Jombor dan Pasar Sore depan Plasa Matahari Klaten, Soto Ayam/Penyetan Gbyos yang menjadi kuliner khas Klaten di Angkringan Lik Ko.

BACA JUGA: Meski Bawa Kenikmatan, Hubungan Seks saat Menstruasi Bisa Berbahaya

"Di Kedai Kopi Bima 66 saya memiliki 15 karyawan. Saya niatnya ingin nulung orang," katanya.

Yeni Imelda Fiatun, 46, istri Pak Ko, mengaku bahagia melihat suaminya telah bertaubat. Sebagai seorang istri, Yeni berharap apa yang menjadi keinginan Pak Ko, yakni ingin pergi berhaji dan umrah dapat terlaksana dengan baik.

"Keputusan ini di luar dugaan saya sebagai istri. Saya juga selalu berdoa saat malam hari. Saat suami ingin hijrah, saya dan anggota keluarga juga diajak ngobrol sebanyak 4-5 kali," katanya.

Sumber : JIBI/Solopos