Gunung Lawu Terbakar, Habitat Macan Tutul hingga Babi Hutan Terancam
Kebakaran hutan lindung Gunung Lawu di Ngawi mengancam habitat macan tutul, elang hitam, menjangan hingga babi hutan.
Planet Bumi/Youtube
Harianjogja.com, JAKARTA - Bumi selama empat setengah miliar tahun yang lampau tandus dan tidak dapat ditinggali.
Baru setelah Bumi memperoleh selimut oksigennya, kehidupan multiseluler benar-benar dapat berjalan. Tetapi para ilmuwan masih mencoba untuk memahami dengan tepat bagaimana dan mengapa planet kita memiliki atmosfer yang sangat kaya oksigen ini.
"Jika kita pikir kembali, ini adalah perubahan terpenting yang dialami planet kita dalam masa hidupnya, dan kami masih belum yakin bagaimana ini terjadi," ujar Nicolas Dauphas, seorang Profesor Ilmu Geofisika di Universitas Chicago. Kemajuan apa pun yang dapat kita buat untuk menjawab pertanyaan ini sangat penting," kata dia seperti dikutip dari phsy.org
Dalam sebuah studi baru yang diterbitkan 23 Oktober di Science, mahasiswa pascasarjana dari Chicago yaitu Andy Heard, Dauphas dan rekan mereka menggunakan teknik perintis untuk mengungkap informasi baru tentang peran kandungan besi di samudra dalam peningkatan atmosfer bumi.
Penemuan ini mengungkap lebih banyak tentang sejarah Bumi, dan bahkan dapat menjelaskan pencarian planet layak huni di sistem bintang lain.
Para ilmuwan dengan susah payah menciptakan kembali garis waktu dari zaman bumi kuno dengan menganalisis batuan yang sangat kuno seperti meneliti bagaimana susunan kimiawi batuan tersebut berubah dari kondisi pembentukannya.
"Hal yang menarik tentang itu adalah bahwa sebelum Peristiwa Oksigenasi Besar permanen yang terjadi 2,4 miliar tahun yang lalu, Anda melihat bukti di garis waktu untuk semburan oksigen kecil yang tiba-tiba ini, di mana tampaknya Bumi sedang mencoba mengatur tahap untuk atmosfer ini," ujar Heard, penulis pertama di makalah itu. "Tetapi metode yang ada tidak cukup tepat untuk memberikan informasi yang kami butuhkan," tambahnya
Jika ada air di sekitar benda, oksigen dan besi akan membentuk karat. "Pada masa-masa awal, lautan penuh dengan besi, yang dapat menelan oksigen bebas yang ada di sekitarnya," ujar Heard. Secara teoritis, pembentukan karat harus mengkonsumsi oksigen berlebih, sehingga tidak meninggalkan satu pun untuk membentuk atmosfer.
Heard dan Dauphas ingin menguji cara untuk menjelaskan bagaimana oksigen bisa terakumulasi. Mereka tahu bahwa beberapa besi di lautan sebenarnya bergabung dengan belerang yang keluar dari gunung berapi untuk membentuk pirit (lebih dikenal sebagai fool\'s gold). Proses itu sebenarnya melepaskan oksigen ke atmosfer. Pertanyaannya adalah proses mana yang "menang".
Untuk menguji ini, Heard menggunakan fasilitas mutakhir di Lab Origins Lab Dauphas untuk mengembangkan teknik baru yang lebih presisi untuk mengukur variasi kecil dalam isotop besi untuk mengetahui rute mana yang diambil besi. Berkolaborasi dengan para ahli dunia di University of Edinburgh, dia juga harus menyempurnakan pemahaman yang lebih lengkap tentang cara kerja jalur perubahan besi-ke-pirit. Kemudian, para ilmuwan menggunakan teknik untuk menganalisis batuan berusia 2,6 hingga 2,3 miliar tahun dari Australia dan Afrika Selatan.
Analisis mereka menunjukkan bahwa bahkan di lautan yang seharusnya menyimpan banyak oksigen ke dalam karat, kondisi tertentu dapat mendorong pembentukan pirit yang cukup untuk memungkinkan oksigen keluar dari air dan berpotensi membentuk atmosfer.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Kebakaran hutan lindung Gunung Lawu di Ngawi mengancam habitat macan tutul, elang hitam, menjangan hingga babi hutan.
Jadwal KA Bandara YIA Minggu 20 September 2026 tersedia 24 perjalanan. Cek jadwal YIA-Tugu dan Tugu-YIA lengkap.
Cukup Rp8.000, Ini Jadwal Lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo Hari Ini.
Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 20 September 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur. Simak jadwal tiap stasiun hingga Jogja.
Jadwal KRL Jogja-Solo Minggu 20 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Simak jadwal lengkap tiap stasiun dan tarif KRL Rp8.000.
MilkLife Soccer Challenge Yogyakarta 2026 diikuti 1.294 atlet. Satoru Mochizuki melihat peluang lahirnya bibit timnas dari turnamen usia dini.