Sudah Pakai Masker dan Jaga Jarak, Jangan Terbuai dan Merasa Aman dari Covid-19

Ingat Pesan Ibu, Jangan Lupa Pakai Masker. - Harian Jogja/Dok
21 Oktober 2020 15:07 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Untuk menahan laju penyebaran pandemi Covid-19, seruan memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan merupakan rekomendasi umum. Namun, dasar ilmiah yang mendasari rekomendasi ini sudah berusia puluhan tahun dan tidak lagi mencerminkan keadaan pengetahuan saat ini.

Memakai masker dan menjaga jarak memang masuk akal, tetapi hal ini tidak boleh membuat masyarakat terbuai dalam rasa aman palsu. Pasalnya, dengan masker saja tetesan infeksi dapat ditularkan dalam jarak beberapa meter dan tetap berada di udara lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Untuk mengubah hal ini, beberapa kelompok penelitian dinamika fluida dari TU Wien, University of Florida, Sorbonne University, Clarkson University, dan MIT telah bergabung dan mengembangkan model baru penyebaran tetesan infeksius yang lebih baik.

Baca juga: Adik Ipar & Ayah Karyawan Bank di Bantul Juga Positif Covid-19

Alfredo Soldati dari TU Wien menyatakan bahwa pemahaman mereka tentang propagasi tetesan yang telah diterima di seluruh dunia didasarkan pada pengukuran yang sudah berusia puluhan tahun, yakni sekitar 1930-an dan 1940-an.

"Saat itu metode pengukurannya belum sebaik sekarang, kami menduga terutama tetesan kecil belum bisa diukur dengan andal saat itu,” katanya seperti dikutip Medical Xpress, Rabu (21/10)

Pada model sebelumnya, perbedaan tegas dibuat antara tetesan besar dan kecil. Tetesan besar ditarik ke bawah oleh gravitasi, tetesan kecil bergerak maju hampir dalam garis lurus, tetapi menguap dengan sangat cepat.

Baca juga: Sudah Ada 5 Karyawan Bank di Bantul Positif Covid-19

Soldati menyatakan bahwa gambaran dulu tentang tetesan tersebut terlalu disederhanakan. Oleh sebab itu, dia bersama dengan tim peneliti dari berbagai universitas berupaya menyesuaikan model dengan penelitian terbaru untuk lebih memahami penyebaran Covid-19.

Dari sudut pandang mekanika fluida, situasinya terbilang rumit bagaimanapun juga, ini berkaitan dengan apa yang disebut aliran multifase yakni ketika partikel-partikel itu sendiri adalah cairan, tetapi bergerak dalam sebuah gas.

“Tetesan kecil sebelumnya dianggap tidak berbahaya, tetapi ini jelas salah. Bahkan ketika tetesan air telah menguap, partikel aerosol yang mengandung virus tetap ada. Hal ini memungkinkan virus menyebar dalam jarak beberapa meter dan tetap berada di udara untuk waktu yang lama,” katanya.

Dalam situasi sehari-hari, sebuah partikel dengan diameter 10 mikrometer (ukuran rata-rata tetesan air liur yang dipancarkan) membutuhkan waktu hampir 15 menit untuk jatuh ke tanah. Jadi, virus tetap mungkin bersentuhan bahkan ketika aturan jarak dipatuhi, misal dalam kasus orang di lift.

Selain itu, hal yang paling bermasalah adalah lingkungan dengan kelembapan relatif tinggi, seperti ruang rapat yang berventilasi buruk. Perawatan khusus diperlukan di musim dingin karena kelembapan relatif lebih tinggi daripada di musim panas.

Dengan demikian, Soldati menuturkan bahwa masker memang berguna karena menghentikan tetesan besar dan jaga jarak juga cukup berguna. Tetapi hasil studi menunjukkan bahwa tidak satu pun dari tindakan itu dapat memberikan perlindungan yang utuh.

Dengan model matematika yang sekarang telah disajikan, dan simulasi yang sedang berlangsung, dimungkinkan untuk menghitung konsentrasi tetesan pembawa virus pada jarak yang berbeda pada waktu yang berbeda.

“Hingga saat ini, keputusan politik tentang langkah-langkah perlindungan Covid sebagian besar didasarkan pada studi dari bidang virologi dan epidemiologi. Kami berharap ke depan, temuan dari mekanika fluida juga akan dimasukkan,” kata Soldati.

Sumber : Bisnis.com