Sembuh dari Covid-19, Trump Tampil Perdana di Hadapan Publik

Presiden AS Donald Trump memberi isyarat saat tiba di balkon Gedung Putih di Washington D.C., AS, pada Sabtu (10/10/2020). - Bloomberg
11 Oktober 2020 06:47 WIB Aprianto Cahyo Nugroho News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Pasca menjalani rawat inap karena positif terjangkit Covid-19, Presiden Donald Trump akhirnya tampil di hadapan publik untuk pertama kalinya pada Sabtu (10/10/2020).

Melansir Bisnis.com dari Bloomberg, Trump muncul di balkon Gedung Putih dan menyapa pendukungnya yang berkumpul di bawahnya. Ia mengatakan bahwa virus corona akan diberantas untuk selamanya dengan kekuatan ilmu pengetahuan dan pengobatan AS.

"Terima kasih atas doanya," kata Trump dari balkon Truman Gedung Putih, seperti dikutip Bloomberg.

Trump datang dengan memakai masker dan melepasnya sebelum berbicara. Sebagian besar pendukungnya terlihat mengenakan masker, namun berdiri berdekatan tanpa menunjukkan jarak sosial.

Dalam pidatonya, Trump menyinggung sejumlah topik yang biasa ia ungkapkan, termasuk kemungkinan kecurangan pemilih. Pidato Trump berlangsung sekitar 18 menit, jauh lebih pendek dari pidato kampanye tipikal Trump.

Penampilan tersebut disebut menunjukkan bahwa presiden telah pulih dari Covid-19 dan siap untuk melanjutkan pekerjaan dan persaingan melawan calon Presiden Partai Demokrat, Joe Biden.

Namun, kemunculan trump ini tanpa dilengkapi dengan pernyataan dari tim dokternya bahwa dia telah sembuh dari virus corona. Pihak Gedung Putih pun tidak merilis pembaruan resmi mengenai kondisi kesehatan Trump sejak Kamis (8/10).

Trump diperkirakan melanjutkan jadwal perjalanan kampanye yang padat pekan ini di Florida, Pennsylvania, dan Iowa. Ajudan Trump mengatakan Presiden sangat ingin kembali ke acara publik setelah pertarungannya dengan virus corona. Terlebih, posisi trump saat ini tertinggal di belakang Biden dalam jajak pendapat.

Acara tersebut Sabtu berisiko memperdalam kekhawatiran di antara para pemilih mengenai penanganan Trump terhadap pandemi yang telah menyebabkan puluhan orang di lingkaran dalam pemerintahannya terinfeksi dan lebih dari 210.000 warga AS meninggal dunia.

Sumber : Bloomberg, Bisnis.com