Banyak Menteri Kesehatan Mundur karena Gagal Redam Covid-19, Siapa Saja Mereka?

Menteri Kesehatan Selandia Baru David Clark - Bloomberg
25 September 2020 21:47 WIB Aprianto Cahyo Nugroho News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Menteri Kesehatan (menkes) menjadi salah satu garda terdepan perang terhadap pandemi Covid-19 karena memegang peran dalam mengambil kebijakan.

Namun, sejumlah menkes di berbagai negara di penjuru dunia terpaksa mengundurkan diri karena penanganan pandemi yang tidak sesuai harapan.Menkes juga kerap berseberangan dengan pemerintah dalam hal kebijakan penanganan Covid-19.

Jaringan Informasi Bisnis Indonesia telah merangkum adalah daftar menteri-menteri yang telah mengundurkan diri dari sejumlah negara di dunia selama masa pandemi Covid-19. Berikut daftarnya:

Belanda

Menkes Belanda Bruno Bruins menjadi yang pertam amengundurkan diri. Pada 20 Maret 2020, ia mengajukan pengunduran diri kepada Raja Belanda. Malam sebelumnya, Bruins pingsan karena kelelahan saat berdiri di podium di majelis rendah parlemen dalam debat tentang kesiapan negara terhadap pandemi Covid-19.

Dalam sebuah pernyataan, Bruins mengatakan secara fisik dia tidak lagi mampu melakukan tugas itu. Dia membandingkan memerangi virus corona dengan olahraga profesional tingkat tinggi.

"Dan saya telah menyimpulkan bahwa tubuh saya tidak dapat lagi menangani ini karena kelelahan," katanya, seperti dikutip NL Times.

"Raja telah mengabulkan pengunduran diri ini dengan penghormatan tertinggi, atas rekomendasi Perdana Menteri, dengan rasa terima kasih atas berbagai layanan penting yang diberikan oleh menteri kepada-Nya dan Kerajaan," ungkap Kabinet Raja dalam sebuah pernyataan.

Ekuador

Selanjutnya, Menteri Kesehatan Ekuador Catalina Andramuno juga mengundurkan diri pada Sabtu (21/3/2020), hanya beberapa jam setelah para pejabat mengumumkan jumlah kasus virus corona hingga lebih dari 500 di negara itu.

Beberapa jam setelah pengumuman tersebut, pejabat mengonfirmasi pengunduran diri Menteri Kesehatan Catalina Andramuno, tanpa memberikan rincian. Pemerintah juga menunjuk Juan Carlos Zevallos sebagai penggantinya.

Mundurnya Catalina juga berbarengan dengan pengunduran diri Menteri Tenaga Kerja Ekuador, Andrés Madero.

Brasil

Belanda dan Ekuador tidak ada apa-apanya dibandingkan Brasil. Negeri Samba tersebut bahkan mengganti Menteri Kesehatan dua kali dalam waktu kurang dari satu bulan.

Menteri Kesehatan Luiz Mandetta dipecat oleh presiden Jair Bolsonaro pada 16 April 2020 menyusul pertentangan atas tindakan isolasi sosial. Bolsonaro menganggap bahwa tindakan tersebut tidak diperlukan.

Posisi Mandetta kemudian digantikan oleh Nelson Tiech. Namun, Ia juga mengundurkan diri secara tiba-tiba meskipun hanya menjabat kurang dari satu bulan. Pengunduran diri Teich ini akba

Berita pengunduran diri Teich disambut dengan cemas oleh para dokter yang tengah berjuang melawan pandemi. Seorang profesor epidemiologi di Yale School of Medicine Albert Ko mengatakan bahwa pengunduran Menkes Brasil tersebut akan berdampak pada upaya pengendalian virus.

“Kehilangan dua menteri kesehatan akan benar-benar berdampak dramatis pada kemampuan negara untuk melawan epidemi,” kata Ko, seperti dikutip The Guardian.

Chile

Pada 14 Juni 2020, giliran Menkes Chile Jaime Manalich yang mengundurkan diri.setelah pemerintah gagal menerapkan kebijakan lockdown terbatas yang ia prakarsai.

Manalich mempromosikan kebijakan Chile tentang "penguncian dinamis", yang membatasi pergerakan di lingkungan tertentu daripada di seluruh kota. Tetapi ketika kasus-kasus membengkak pada Mei, pemerintah memberlakukan lockdown di ibu kota Chile, Santiago.

Setelah berhanti, ia segera digantikan oleh Enrique Paris, mantan kepala Medical College.

“Misi pertama Menteri Paris adalah memerangi virus corona, tetapi dia juga memiliki tugas memimpin reformasi sistem kesehatan publik dan swasta secara mendalam,” kata Presiden Sebastian Pinera, seperti dikutip Bloomberg.

Selandia Baru

Pada 2 Juli 2020, Menkes Selandia Baru David Clark mengumumkan pengunduran dengan alasan perannya akan menjadi gangguan dari kesuksesan pemerintah menekan pandemi virus corona.

“Kepemimpinan kesehatan kita harus memiliki kepercayaan publik,” kata Perdana Menteri Jacinda Ardern dalam sebuah pernyataan. Dia menunjuk Menteri Pendidikan Chris Hipkins untuk mengangani kementerian kesehatan hingga pemilihan umum September.

Clark berada di bawah tekanan setelah dua kali melanggar aturan lockdown ketat dengan bepergian ke luar wilayah lokalnya untuk berolahraga. Dia menawarkan untuk mengundurkan diri pada saat itu, tetapi Ardern menahannya, dengan mengatakan tidak pantas untuk mengganti menteri saat pandemi berkecamuk.

"Perdana menteri menjelaskan pada saat itu bahwa dalam keadaan normal dia akan menerima pengunduran diri itu, tetapi dia tidak ingin gangguan signifikan pada sistem kesehatan di tengah tanggap darurat," kata Clark kepada wartawan saat itu.

Polandia

Pada 18 Agustus, Menteri kesehatan Polandia Lukasz Szumowski memngumumkan pengunduran dirinya di tengah dugaan penyalahgunaan wewenang pengadaan peralatan medis

Szumowski telah menjadi tokoh populer di pemerintahan Perdana Menteri Mateusz Morawiecki setelah pihak berwenang memberlakukan lockdown yang ketat dan dini selama pandemi Covid-19. Langkah ini telah terbukti membatasi jumlah infeksi dan kematian di Polandia.

Tetapi dalam beberapa pekan sebelum pengunduran dirinya, jumlah infeksi harian virus corona meningkat. Szumowski juga menghadapi tuduhan bahwa perusahaan milik saudara laki-lakinya telah menerima jutaan dana bantuan pemerintah selama krisis.

Beberapa peralatan medis yang dibeli oleh pemerintah Polandia untuk melawan virus juga terbukti tidak efektif.

Dilansir dari Euronews, Szumowski membantah melakukan kesalahan dan mengatakan bahwa pengunduran dirinya adalah sesuatu yang telah dia rencanakan untuk beberapa waktu dan tidak ada hubungannya dengan tuduhan tersebut.

Ceko

Menkes Ceko menjadi yang terbaru dalam daftar menteri kesehatan yang mengundurkan diri. Ia mengumumkan pengunduran dirinya pada hari Senin (21/9), dengan mengatakan pemerintah membutuhkan strategi berbeda untuk mengatasi lonjakan kasus virus corona.

Padahal, Republik Ceko sebelumnya menjadi salah satu negara Uni Eropa paling sukses dalam menekan wabah melalui tindakan karantina awal dan ketat. Namun, Ceko sekarang menjadi salah satu negara yang paling terpukul oleh Covid-19 menyusul pelonggaran pembatasan pada bulan Juni.

Setelah kasus virus corona melonjak, kabinet kembali memperketat aturan jarak sosial, sambil tetap berjanji untuk menghindari penguncian penuh untuk meminimalkan dampak terhadap ekonomi.

“Saya ingin menciptakan ruang untuk cara baru dalam mengatasi epidemi virus corona, yang pasti saya akan tetap bersama untuk beberapa waktu ke depan,” kata Adam Vojtech di televisi, seperti dikutip Bloomberg.

Pihak oposisi telah lama menyerukan pemecatan Vojtech karena tidak konsistennya pemerintah dalam penanganan krisis. Pada bulan Agustus, Vojtech memerintahkan pemakaian wajib masker wajah, namun keputusannya dibatalkan oleh Perdana Menteri Andrej Babis. Belakangan , perdana menteri mengatakan langkah tersebut mungkin merupakan kesalahan.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia