Aksi Hitamkan Solo, Ini yang Bikin Remaja Gabung Perguruan Silat

Beberapa pelajar SMP asal Ngawi, Jawa Timur, yang ditangkap polisi di Plaza Manahan, Solo, Selasa (22/9/2020) malam. JIBI - Solopos/Nicolous Irawan
24 September 2020 08:47 WIB Akhmad Ludiyanto News Share :

Harianjogja.com, SOLO--Sebanyak 27 remaja ditangkap aparat Polresta Solo di Plaza Manahan, Selasa (22/9/2020) malam terkait rencana aksi hitamkan Solo yang dilakukan massa perguruan silat.

Kini, mereka sudah dipulangkan dan beberapa di antara mereka terpaksa ditilang lantaran mengendarai sepeda motor berknalpot brong. Semua orang yang ditangkap tersebut ternyata remaja berusia belasan. Hal ini menunjukkan anggota perguruan silat bukan hanya orang dewasa, tetapi juga remaja.

BACA JUGA : Warga Pertanyakan Nasib Usaha yang Tertutup Jalan Tol

Lantas, mengapa para remaja tertarik bergabung dengan perguruan silat?

Dosen Psikologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Fadjri Kirana Anggarani, mengatakan, ada berbagai motif yang mendorong remaja bergabung dengan perguruan silat.

Hal ini sangat bergantung pada setiap individu. Akan tetapi, menurutnya hal itu bisa dipahami melalui proses perkembangan yang terjadi pada diri remaja.

Motif

Usia remaja yang merupakan masa transisi dari anak-anak ke dewasa yang membuat mereka ingin mencoba hal-hal baru. Hal ini merupakan bagian dari menentukan pola perilaku, sifat, ataupun nilai yang paling sesuai sekaligus bagian dari pencarian identitas diri. Hal tersebut umumnya terjadi pada masa awal-awal remaja.

Bahkan, pada masa remaja mereka juga memiliki sosok idola sebagai role model identitas diri. Bergabung menjadi anggota perguruan silat bisa menjadi manifestasi diri mereka mengikuti idola mereka.

BACA JUGA : Rumah Rusak akibat Bentrok Sesama Anggota PSHT

“Remaja cenderung melihat dirinya sendiri dengan kacamata merah jambu sehingga melihat diri sesuai dengan yang dicita-citakan. Sehingga, bisa jadi mengikuti persilatan adalah bagian dari diri yang dicita-citakan,” ujarnya kepada Solopos.com, Rabu (23/9/2020).

Pada masa pertengahan, remaja juga cenderung ingin mengeksplorasi banyak hal yang belum diketahui. “Maka bisa jadi mengikuti perguruan silat adalah bagian dari hal ini,” imbuhnya.

Pada masa remaja akhir, mereka cenderung memberi banyak perhatian pada lambang-lambang kematangan. Bagi remaja yang mengikuti persilatan maka barang kali ada anggapan ini sebagai lambang kematangan.

“Terakhir, teman memiliki pengaruh yang cukup besar kepada remaja. Pengaruh peer [rekan] untuk mengikuti persilatan bisa menjadi faktor eksternal yang mempengaruhi remaja mengambil keputusan tersebut,” imbuh dia.

Namun, Fadjri mengingatkan remaja bukan hanya berperan untuk diri sendiri, tetapi bagian dari orang tua. “Jika memang remaja saat ini merasa ada gejolak jiwa muda untuk mengeksplorasi banyak hal, melakukan hal-hal bersifat superioritas, maka ingatlah bahwa sesungguhnya identitas peran remaja tidak hanya mengenai diri mereka sendiri. Tetapi juga berkaitan dengan peran sebagai anak dari orang tua dan peran sebagai anggota dari sebuah keluarga. Sebelum melakukan hal-hal yang bisa membahayakan diri, ingatlah mengenai orang-orang yang mencintai selama ini,” tandasnya.

BACA JUGA : Tugu Perguruan Silat di Sragen Akan Dirobohkan

Sementara itu, orangtua juga perlu memberikan arahan dengan cara yang positif agar remaja tidak merasa bergejolak dengan perkembangannya dan melakukan kontrol dengan tarik ulur.

Sumber : JIBI/Solopos