Advertisement
Mau Buka Sekolah saat Pandemi Covid-19? Ini Panduan dari WHO...
Seorang guru bahasa Inggris sedang mengajar saat dilaksanakannya sedang sekolah tatap muka di salah satu rumah warga di Kota Kupang, NTT Senin (10/08/2020). - Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA – Anak usia di bawah 18 tahun berkontribusi pada 8,5% dari seluruh kasus infeksi Covid-19 yang ada di dunia. Hal tersebut disampaikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO).
Oleh karena itu, sebelum kembali bersekolah, perlu mempertimbangkan beberapa hal.
Advertisement
Berdasarkan pada pedoman pertimbangan tindakan kesehatan masyarakat terkait sekolah dalam konteks Covid-19 yang disusun Tim Komunikasi Risiko WHO, menyebut bahwa keputusan untuk menutup, menutup sebagian, atau membuka kembali sekolah sepenuhnya perlu didasari oleh pendekatan berbasis risiko.
Pendekatan tersebut antara lain terkait dengan bagaimana pelaksanaan sekolah bisa memaksimalkan edukasi, meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan murid, guru, staf, dan lingkungan masyarakat secara umum, dan tetap membantu mencegah penyebaran wabah Covid-19 di lingkungan sekitar.
Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika akan kembali membuka sekolah atau memutuskan untuk tetap membuka sekolah yaitu:
Pertama, perhatikan kondisi epidemologis Covid-19 di tingkat lokal. Kondisi ini bisa berbeda-beda dari satu tempat dengan yang lainnya bahkan di dalam satu negara.
Kedua, pertimbangkan keuntungan dan risikonya. Apakah membuka sekolah lebih memberikan keuntungan atau malah membawa risiko kesehatan bagi murid, guru, dan staf jika sekolah dibuka.
Ketiga, terkait hal itu perlu juga memperhatikan intensitas transmisi di wilayah sekolah, apakah tidak ada kasus atau transmisi sporadis, transmisi klaster, atau transmisi komunitas.
Keempat, pertimbangkan pula dampak keseluruhan dari penutupan sekolah pada edukasi, kesehatan publik, dan kesejahteraan, terutama pada populasi yang rentan dan terpinggirkan misalnya anak perempuan, terlantar atau disabilitas.
Kelima, perhatikan kefektifan strategi belajar jarak jauh.
Keenam, terkait deteksi dan respons, apakah dinas kesehatan wilayah setempat mempu bereaksi cepat apabila terjadi kasus.
Ketujuh, terkait dengan kapasitas sekolah atau istitusi pendidikan. Perhatikan apakah sekolah mampu menyediakan lingkungan yang sehat dan bisa beroperasi dengan aman.
Kedelapan, perlu adanya koordinasi dan kolaborasi dengan dinas kesehatan setempat.
Kesembilan, memastikan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat juga diterapkan tak hanya di sekolah, tapi juga di lingkungan sekitar sekolah dan dari masing-masing murid, guru, dan staf yang bertugas di sekolah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
- Wisatawan Lumajang Tersambar Petir, Satu Tewas di Pantai Bambang
- Gempa M 6,5 Guncang Maluku Barat Daya, Warga Berhamburan
- Iran Batasi Selat Hormuz, Ini Negara yang Diizinkan Melintas
- Kualitas Udara Jakarta Memburuk saat Arus Balik, Kategori Tidak Sehat
- Antrean Truk di Ketapang Mengular 12 Jam, Sopir Keluhkan Layanan
Advertisement
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja 29 Maret, Cek Waktu Berangkat
- Jadwal KRL Jogja-Solo Hari Ini, Minggu 29 Maret 2026: Tarif Rp8.000
- Akses Tol Jogja-Solo GT Purwomartani Ditutup Sementara, Ini Alasannya
- Hajar Persiba 2-0, Persela ke 5 Besar Klasemen Pegadaian Championship
- Jadwal KRL Solo ke Jogja Hari Ini, Minggu 29 Maret 2026
- Remaja Bandungan Tewas Tenggelam di Rawa Pening Saat Liburan Keluarga
- Konsumsi Pertamax Melonjak 33,9 Persen Selama Periode Lebaran 2026
Advertisement
Advertisement








