Selat Hormuz Dibuka, Tekanan Industri Tekstil RI Belum Reda
Pembukaan Selat Hormuz bantu turunkan biaya energi, tapi industri tekstil Indonesia masih dibebani impor, gas mahal, dan utilisasi rendah.
Ilustrasi kucing/JIBI
Harianjogja.com, JAKARTA - Penyebaran virus Corona semakin mengkhawatirkan. Siapa pun bisa menjadi pembawa virus, tak terkecuali hewan lucu seperti kucing.
Hal itu disampaikan para peneliti dari Universitas Pertanian Huazhong, di Wuhan. Dari penelitian ditemukan bahwa lebih banyak kucing yang dapat tertular dan menularkan virus daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Para peneliti mengambil sampel darah, penyeka hidung, dan dubur dari 102 kucing di kota Wuhan antara Maret dan Januari. Menurut hasil yang diterbitkan dalam jurnal Emerging Microbes & Infections, 15 kucing memiliki antibodi Covid-19. Dari 15 ekor, 11 di antaranya memiliki antibodi penetral, yang merupakan protein yang sangat berhasil mengikat dan memblokir virus. Adapun kucing yang diteliti berasal dari jalanan, tempat penampungan, dokter hewan, hingga peliharaan.
Kendati demikian para peneliti mencatat tidak ada kucing yang menunjukkan gejala terinfeksi Covid-19 dan tidak ada yang mati. Tiga kucing dengan tingkat antibodi tertinggi semuanya dimiliki oleh seseorang yang telah didiagnosis Covid-19.
Sekarang, para peneliti percaya manusia mungkin perlu mengisolasi dari hewan peliharaan mereka jika orang tersebut positif terkena virus corona.
"Meskipun infeksi pada kucing liar tidak dapat sepenuhnya dipahami, masuk akal untuk berspekulasi bahwa infeksi ini mungkin disebabkan oleh kontak dengan lingkungan yang tercemar SARS-CoV-2, atau pasien Covid-19 yang memberi makan kucing," ujar penulis utama penelitian ini, Meilin Jin seperti dilansir dari Express UK, Kamis (10/9/2020).
Oleh karena itu, para peneliti menyarankan agar perlu dipertimbangkan untuk menjaga jarak yang sesuai antara pasien Covid-19 dan hewan pendamping seperti kucing dan anjing. Tindakan kebersihan dan karantina juga harus ditetapkan untuk hewan berisiko tinggi tersebut.
"Penyelidikan retrospektif memastikan bahwa semua sampel antibodi positif diambil setelah wabah, menunjukkan bahwa infeksi kucing dapat disebabkan oleh penularan virus dari manusia ke kucing. Yang pasti, masih perlu diverifikasi melalui investigasi infeksi SARS-CoV-2 sebelum wabah ini dalam berbagai sampel," tutur Meilin.
Tim juga dapat mempelajari risiko infeksi ulang. Menurut penelitian, antibodi pada kucing menunjukkan jenis reaksi yang dihasilkan kucing mirip dengan yang diamati pada infeksi virus corona musiman. Dengan kata lain, kucing-kucing itu berisiko terinfeksi ulang, yang mungkin serupa pada manusia.
"Kami menyarankan bahwa kucing memiliki potensi besar sebagai model hewan untuk menilai karakteristik antibodi terhadap SARS-CoV-2 pada manusia," tukasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Pemda DIY menyambut baik rencana gaji PPPK dibebankan ke APBN karena dinilai dapat meringankan beban anggaran daerah.
Viral tagging parkir memicu cekcok di tempat umum. Simak 10 etika parkir agar tidak mengganggu pengguna lain dan memicu konflik.
Kawasan wisata Bromo kembali dibuka 20 Agustus 2026 setelah kebakaran hutan dipadamkan. Pengunjung diminta mencegah sumber api.
Ribuan warga Kulonprogo memadati Alun-Alun Wates menyaksikan pawai HUT ke-81 RI yang diikuti 97 kontingen sekolah dan OPD.
BMKG mencatat 3.055 gempa susulan di Flores setelah gempa M7,7. Terbesar M6,2, sementara BNPB siapkan bantuan rumah warga terdampak.