Epidemiolog Sebut Vaksin Bukan Solusi Utama Tangani Virus Corona di Indonesia

Ilustrasi vaksin Covid-19. - Antara
09 September 2020 11:57 WIB Mia Chitra Dinisari News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Ahli epidemiologi memperingatkan pemerintah yang terlalu fokus dalam mengejar vaksin untuk mengalahkan COVID-19 dan mengabaikan sistem kesehatan masyarakat. Mereka menyebutkan aturan penggunaan masker yang lebih ketat dan pelacakan kontak yang lebih baik juga diperlukan.

Sebelumnya, perusahaan Bio Farma telah mencapai kesepakatan dengan Sinovac Biotech China untuk memasok vaksin ke Indonesia, dengan uji coba tahap tiga dimulai pada 1.600 sukarelawan di Indonesia.

BACA JUGA : Uji Vaksin Covid-19 Oxford dan AztraZeneca Disetop

Epidemiolog menyebutkan penyebaran penyakit semakin cepat, terutama di ibu kota provinsi Jakarta, dan di provinsi terpadat di Jawa Barat, Tengah dan Timur, dan tingkat pengujian tetap rendah yakni rata-rata antara sekitar 12.000 hingga 20.000 orang per hari di sebuah negara. sekitar 270 juta.

Dicky Budiman, seorang dokter medis yang saat ini sedang menulis gelar PhD tentang pandemi di Griffith University Queensland dan Dr Pandu Riono, seorang ahli epidemiologi Universitas Indonesia, menyuarakan kekhawatiran tentang strategi pemerintah seiring dengan meningkatnya jumlah kasus.

Dicky mengatakan bahwa dengan tingkat pengujian yang rendah, pemerintah "jauh tertinggal dari kecepatan penyebaran dan jauh dari pengendalian pandemi, terutama untuk Pulau Jawa [rumah bagi sekitar 140 juta orang] dengan lebih dari 50 persen populasi Indonesia".

BACA JUGA : Ini Harga Vaksin Corona Buatan China

"Ini adalah risiko. Seperti yang Anda ketahui, sejarah setiap pandemi adalah tidak ada pandemi yang diakhiri dengan vaksin. Vaksin bukanlah solusi ajaib untuk setiap pandemi, terutama dengan karakteristik COVID-19." Ujarnya dikutip dsri sydneymorningherald.

Pandu mengatakan bahwa dalam jangka panjang vaksin akan membantu menghentikan pandemi tetapi "dalam jangka pendek kita harus berhadapan dengan penguatan sistem kesehatan masyarakat, dengan pengawasan [virus], dengan perilaku masyarakat".

"Mereka mengabaikan situasi kesehatan masyarakat."

Pandu mengatakan, pemerintah perlu lebih tegas memberlakukan pemakaian topeng dan jarak sosial.

Trubus Rahadiansyah, Pakar Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti, mengatakan tidak menyangka wabah di Indonesia bisa segera diatasi berdasarkan kebijakan yang ada saat ini.

"Saya tidak melihat itu akan terjadi dalam jangka pendek, jangka menengah atau bahkan jangka panjang. Saya kira kebijakan pemerintah telah bergeser dari kesehatan ke ekonomi."

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia