Pertamina Rugi Sekitar Rp10 Triliun di Semester I/2020, Hingga Akhir Tahun Bagaimana?

Pekerja memeriksa produk minyak pelumas dalam kemasan botol di Production Unit Jakarta Pertamina Lubricants. - Antara / M Agung Rajasa
25 Agustus 2020 12:27 WIB Ilman A. Sudarwan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Kinerja PT Pertamina (Persero) sebagai induk usaha pada paruh pertama tahun ini merugi US$761,23 juta atau sekitar Rp10,85 triliun (kurs 30 Juni Rp14.265).

Pembalikan kinerja menjadi merugi ini akibat tiga faktor utama yang menghantui industri perminyakan global di tengah pandemi Covid-19 yakni harga jual di hulu yang jatuh ke bawah titik keekonomian, perubahan pola konsumsi energi terutama minyak dan gas akibat pembatasan sosial berskala besar, serta fluktuasi nilai tukar rupiah dan dolar Amerika Serikat yang mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan migas.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan di Bisnis Indonesia edisi Senin (24/8/2020), Pertamina membukukan pendapatan sebesar US$20,48 miliar pada semester I/2020. Dibandingkan dengan pendapatan pada periode yang sama tahun lalu sebesar US$25,46 miliar. Artinya sepanjang 6 bulan tahun ini jumlah pendapatan Pertamina menyusut 19,56 persen.

Perusahaan hanya berhasil meningkatkan penjualan ekspor minyak mentah, gas bumi, dan produk minyak menjadi US$1,76 miliar. Jumlah ini naik 9,75 persen secara year-on -ear (yoy). Namun, nilainya tak signifikan untuk mengatrol total penjualan perseroan.

Pasalnya, pos lainnya mengalami penurunan. Perinciannya pendapatan dalam negeri minyak mentah, gas bumi, energi panas bumi, dan produk minyak sebagai kontributor terbesar, turun 19,82 persen menjadi US$16,56 miliar

Seiring penurunan pendapatan, Pertamina terlihat melakukan efisiensi dengan melakukan pemangkasan beban. Tercatat beban pokok penjualan dan beban langsung menyusut dari US$21,98 miliar menjadi US$18,87 miliar atau mencapai 14,13 persen yoy.

Sehingga secara operasi, sepanjang periode 6 bulan pertama tahun ini, induk perusahaan energi milik negara itu membukukan laba kotor US$1,6 miliar. Turun 54,87 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$3,56 miliar.

Kerugian muncul seiring selisih kurs yang harus ditanggung perseroan. Pada tahun lalu, pos nilai tukar ini menghasilkan pendapatan US$64 juta, akan tetapi pada semester I/2020 pos nilai tukar memberikan kerugian US$211,83 juta. Dampaknya perusahaan membukukan rugi sebelum pajak penghasilan sebesar US$58,3 juta.

Kerugian Pertamina membesar setelah dimasukkan pajak penghasilan sebesar US$702,93 juta. Dengan penambahan pos pajak ini maka rugi tahun berjalan perseroan menjadi US$761,23 juta. Jumlah rugi semakin menumpuk setelah dilakukan perhitungan penyesuaian pendapatana dari entitas anak. Pos ini memberi tambahan kerugian sebesar US$164,71.

Sehingga dengan capaian ini, total kerugian komprehensif Pertamina menjadi US$925,95. Berbanding periode yang sama tahun sebelumnya mencatatkan laba US$627,84 juta.  

Di sisi lain, beban keuangan perseroan juga meningkat 9,27 persen yoy menjadi US$522,78 juta. Beban keuangan ini meningkat sejalan dengan liabilitas perseroan yang terkerek 13,11 persen secara year to date (ytd) menjadi US$40,56 miliar.

Salah satu pendorong utamanya adalah penambahan utang obligasi sebesar 15,47 persen ytd dari posisi akhir akhir tahun lalu, atau sebesar US$1,95 miliar menjadi US$14,56 miliar.

Utang ini sekaligus mengerek rasio debt to equity (DER) perseroan menjadi 1,36x dari 1,14x di akhir 2019.

Peningkatan DER tersebut terjadi karena di tengah kenaikan liabilitas, ekuitas perseroan menyusut 4,99 persen menjadi US$29,66 miliar. Adapun, total liabilitas dan ekuitas perseroan atau setara total aset perseroan tercatat sebesar US$70,08 miliar atau naik 4,47 persen ytd.

VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menjelaskan faktor selisih kurs memang menjadi salah satu penekan kinerja perseroan pada paruh pertama tahun ini. Di luar itu, perseroan juga menghadapi persoalan dari sisi penjualan dan fluktuasi harga minyak global.

“Pertamina terkena triple shock yakni dari sisi demand atau penurunan penjualan yang signifikan, harga minyak mentah yang turun sehingga berdampak pada pendapatan di sektor hulu serta fluktuasi rupiah sehingga terjadi kerugian selisih kurs,” katanya kepada Bisnis, Senin (24/8/2020).

Meski begitu, Fajriyah menuturkan perseroan tetap optimistis dapat memperbaiki kinerja di sisa tahun ini. Perseroan mengharapkan perbaikan harga minyak dunia serta konsumsi bahan bakar minyak secara ritel maupun industri akan menjadi pendorong kinerja pada sisa tahun ini.

Selain itu, dari sisi internal perseroan terus melanjutkan upaya perbaikan seperti penghematan biaya hingga 30 persen, mengatur ulang prioritas investasi dan renegosiasi kontrak eksisting. Perseroan, lanjutnya, juga terus melakukan refinancing utang untuk menurunkan biaya bunga.

Di sisi lain, perseroan juga berupaya meningkatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) untuk meminimalisasi dampak fluktuasi nilai tukar. Hal ini, menurutnya juga diharapkan dapat menekan biaya operasional secara umum. Dengan berbagai upaya ini, perseroan tetap optimistis mencetak laba pada akhir 2020.

“Pertamina optimis sampai akhir tahun akan ada pergerakan positif sehingga ditargetkan laba juga akan positif. Mengingat, perlahan harga minyak dunia sudah mulai naik dan juga konsumsi BBM baik industri maupun retail juga semakin meningkat,” katanya.

Associate Director BUMN Research Group (BRG) LM-Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan penurunan kinerja Pertamina memang tak terhindarkan sejalan dengan kondisi industri. Namun, menurutnya dampak efisiensi yang masih minim turut berkontribusi terhadap penurunan kinerja tersebut.

“Meskipun upaya efisiensi telah dilakukan, namun penurunan delta biaya jauh lebih kecil dibandingkan penurunan delta revenue yang merosot tajam. Sehingga, angka bottom line menjadi negatif,” katanya kepada Bisnis.

Harga minyak mentah hari ini

Harga minyak mentah di WTI sepanjang 2020/Dok. Bloomberg

Menurutnya, perbaikan pengelolaan struktur beban dan biaya ke depan akan menjadi poin penting jika Pertamina ingin mengembalikan performa. Hal tersebut, juga perlu diikuti dengan upaya renegosiasi kontrak, renegosiasi utang jatuh tempo, hingga mengatur ulang prioritas belanja modal perseroan.

Dia mengatakan upaya perampingan struktur perusahaan dengan memangkas anak usaha juga perlu dijalankan dengan optimal. Menurutnya, perampingan di sektor hulu, hilir, dan pengiriman dapat mempercepat proses menghasilkan nilai bagi perseroan.

“Dengan birokrasi lebih pendek dan keterkaitan value chain, mestinya Pertamina bisa bergerak lebih lincah dan menghasilkan output-outcome yang lebih baik,” katanya.

Dalam rencana restrukturisasi Kementerian BUMN, Pertamina akan mendivestasikan atau melikuidasi 25 anak usaha hingga 2021. Pada tahun ini, upaya itu akan dimulai dengan divestasi satu anak usaha, dan likuidasi tujuh anak usaha.

Toto menambahkan percepatan pembayaran utang pemerintah lewat program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) akan memberi dampak positif. Selain, itu kesuksesan stimulus pemerintah dalam menggenjot aktivitas ekonomi akan turut menentukan kinerja perseroan ke depan.

Sebagai catatan, dalam program PEN 2020, Pertamina menjadi salah satu BUMN yang akan menerima dukungan berupa pembayaran utang pemerintah sebesar Rp40 triliun. Secara total, dukungan yang akan diberikan kepada BUMN dalam program ini mencapai sekitar Rp143,63 triliun.

Penurunan kinerja Pertamina sebagai holding pada paruh pertama tahun ini juga terjadi pada anak usah.  PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), sub holding gas Pertamina dalam laporan bulanan hingga semester I/2020, volume distribusi gas turun 9 persen yoy menjadi 811 BBTUD.

Selain itu, untuk lifting hulu tercatat anjlok 34 persen yoy, sedangkan regasifikasi turun 19 persen. Adapun, LPG Processing terjun 44 persen yoy. Meski begitu, emiten yang 56,96 persen sahamnya dimiliki Pertamina ini sejatinya mulai mengalami peningkatan kinerja pada bulan terakhir semester I/2020.

Dalam laporan bulanan itu, PGAS membukukan kenaikan volume distribusi gas konsolidasi untuk periode Juni 2020 sebesar 14,1 persen secara bulanan, menjadi 758 BBTUD. Pada bulan sebelumnya, distribusi gas konsolidasi PGAS mencapai 664 BBTUD.

"
“Kenaikan volume distribusi gas konsolidasi naik dari bulan sebelumnya karena pembukaan kembali aktivitas ekonomi per Juni setelah diterapkannya pembatasan sosial berskala besar [PSBB] dan juga seiring dengan berakhirnya libur Idul Fitri,” tulis Manajemen Perusahaan Gas Negara dalam laporannya."

Sementara itu, transmisi gas tercatat naik 4,1 persen menjadi 1.233 MMSCFD dibandingkan transmisi pada Mei yang mencapai 1.184 MMSCFD. Adapun, lifting hulu tumbuh 26,1 persen menjadi 19.462 BOEPD, dari bulan sebelumnya sebesar 15.433 BOEPD.

Emiten pelat merah itu juga telah mencatatkan kenaikan 2 persen dari sisi kinerja regasifikasi, menjadi sebesar 83 BBTUD pada Juni 2020. Hal ini terjadi seiring meningkatnya konsumsi dari PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN.

Kemudian, untuk kinerja LPG processing perseroan berhasil membukukan kenaikan signifikan yaitu 1.830 persen dari bulan sebelumnya 8 TPD menjadi sebesar 163 TPD pada Juni 2020.  Adapun, kinerja oil transportation turun 1,6 persen ke level 10.131 BOPD dari capaian Mei 2020 sebesar 10.294 BOPD.

Namun, perseroan belum menyampaikan laporan keuangan semester I/2020 seperti induknya. Berdasarkan pengumuman perusahaan, tengah dilakkukan penelaahan laporan semester I/2020 terlebih dahulu.

Anak usaha Pertamina lainnya yang melantai di bursa, PT Elnusa Tbk. (ELSA) juga mengalami tren serupa. Laba bersih perseroan tergerus 15,77 persen secara yoy menjadi Rp130,34 miliar. Penyebabnya utamanya adalah kenaikan beban operasional.

Pada periode tersebut, sejatinya perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp3,89 triliun, naik 3,35 persen yoy. Beban pokok juga hanya naik 2,65 persen menjadi Rp3,47 triliun, sehingga laba kotor masih tumbuh 9,58 persen yoy menjadi Rp419,26 miliar.

Namun, beban penjualan, beban umum dan administrasi, hingga beban keuangan perseroan seluruhnya mengalami kenaikan. Selain itu, perseroan menanggung beban lain-lain neto sebesar Rp25,75 miliar, naik 1.053,34 persen yoy. Alhasil laba bersih perseroan tak tak bisa tumbuh.

Head of Corporate Communication Elnusa Wahyu Irfan sebelumnya mengatakan bahwa kondisi pada tahun ini memang cukup menantang. Dia menyatakan perseroan akan merevisi target pendapatan dan laba yang semula ditargetkan Rp9,1 triliun dan Rp400 miliar.

Sejalan dengan kinerja Pertamina, dia menyatakan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah, volatilitas harga minyak menjadi momok bagi perseroan pada tahun ini. Hal ini juga kian pelik dengan adanya dampak negatif dari penyebaran Covid-19 di Tanah Air.

“Tantangan eksternal yang kami hadapi saat ini sangat kompleks, dengan adanya tiga faktor tersebut kami akan merevisi target. Tetapi, kami yakin kinerja keuangan [laba] 2020 akan tetap positif,” katanya beberapa waktu lalu.

Emiten terakhir milik Pertamina yang ada di lantai bursa adalah PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk. (TUGU). Emiten di bidang jasa asuransi ini juga mengalami penurunan kinerja seperti emiten di holding Pertamina lainnya.

Meski pendapatan premi bersih dan pendapatan underwriting bersih tercatat meningkat, secara kumulatif pendapatan perseroan turun 6,75 persen secara yoy menjadi Rp1,19 triliun. Perseroan juga mengalami peningkatan beban usaha sebesar 5,02 persen menjadi Rp1,04 triliun.

Alhasil, perusahaan yang 58,5 persen sahamnya dimiliki Pertamina ini mengalami penurunan laba bersih sebesar 55,29 persen secara yoy menjadi Rp96,56 miliar pada semester I/2020. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, laba bersih perseroan mencapai Rp215,99 miliar.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia