Tidak Lawan Kotak Kosong, Gibran Diprediksi Menang Mudah di Pilkada Solo

Gibran Rakabuming Raka - Mohammad Ayudha
22 Agustus 2020 20:37 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi News Share :

Harianjogja.com, SOLO - Gibran Rakabuming Raka diyakini melenggang mulus memenangi kursi wali kota Solo dalam Pilkada 2020, dan tak akan terbendung pasangan independen, Bagyo Wahyono-FX Supardjo atau Bajo.

Pasangan calon independen Bagyo Wahyono-FX Supardjo atau Bajo berpeluang head to head melawan pasangan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa atau Gibran-Teguh di Pilkada Solo 2020.

Kemunculan Bajo menggugurkan prediksi sebelumnya bahwa Gibran bakal melawan kotak kosong. Pengamat administrasi publik dan pemerintahan daerah Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Didik G Suharto, menilai pilkada kali ini terasa seperti menu racikan elite penguasa.

Dia menyebut pasangan Gibran-Teguh lebih mudah mengalahkan pasangan Bajo dari pada jika melawan kotak kosong. Apabila melawan kotak kosong, Gibran harus mampu mendulang suara lebih dari 50 persen dari suara sah.

“Terlebih apabila pasangan Bajo di tengah kontestasi ternyata gembos, entah disengaja atau tidak. Pilkada seperti ini saya rasa tidak akan dinamis,” katanya, Sabtu (22/8/2020)

Sepanjang dua pasangan calon, yakni Bajo dan Gibran-Teguh tidak mampu merepresentasikan suara publik, publik tidak akan antusias mengikuti Pilkada Solo.

Di sisi lain, apabila Gibran melawan kotak kosong dan kotak kosong mendapatkan suara, hal itu akan sangat memalukan bagi Gibran sendiri dan partai pengusung maupun pendukungnya.

Bukan Lagi Pesta Demokrasi

Karena itulah, pasangan Bajo lebih mudah dikalahkan oleh Gibran-Teguh di Pilkada Solo ketimbang kotak kosong. Didik menyebut realitas di banyak tempat, Pilkada bukan lagi menjadi pesta demokrasi rakyat.

Dari awal proses pencalonan, para elite lah yang berkuasa. Rakyat suka tidak suka disodori menu yang diolah para elite, yang ironisnya sering kali abai dengan harapan rakyat bawah.

“Yang saya khawatirkan, Pilkada yang saat ini berlangsung atau Pilkada sebelumnya, yang kadang terjadi adalah Pilkada yang didesain sejak awal siapa yang bertarung. Kalau ini terjadi, demokrasi di negara kita ini semu, sudah didesain oleh para elite. Sebenarnya ini sangat menyakiti rakyat,” kata dia.

Terlebih, apabila proses Pilkada berlangsung terdapat pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa dijawab. Maka hal tersebut secara tidak langsung mencederai Pilkada itu sendiri.

Seperti diberitakan, Bajo berpeluang menjadi lawan Gibran-Teguh di Pilkada Solo setelah dinyatakan lolos verifikasi faktual oleh KPU Soo. Bajo memenuhi syarat minimal dukungan sebanyak 35.870 suara atau 8,5 persen dari daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2019.

Sumber : JIBI/Solopos