Kebakaran Gunung Lawu Merembet ke Hutan Lindung Ngawi, 13 Hektare Terbakar
Kebakaran Gunung Lawu meluas ke hutan lindung Ngawi. Tiga titik api masih menyala dengan luas area terbakar sekitar 13 hektare.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA--Masalah dinasti politik dibahas dalam sebuah diskusi yang digelar Selasa (18/8/2020).
Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menyebut banyak kasus dinasti politik di Indonesia yang keluarganya gagal terpilih saat orang tuanya tak memiliki jabatan penting atau berkuasa lagi.
"Kita lihat di Indonesia ada kasus-kasus ketika ada seorang tokoh maju, di mana mungkin ikuti di luar negeri, ketika orang tua sudah tak menjabat lagi ternyata ada kasus-kasus yang kita lihat ada kegagalan-kegagalan," ujar Eddy dalam diskusi daring bertajuk Merdeka dari Dinasti:Lah..Apa Mungkin?, Selasa (18/8/2020).
Eddy mencontohkan kiprah Agus Harimurti Yudhoyono, putra mantan Presiden ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono yang gagal memenangkan kontestasi di Pilkada DKI Jakarta, dan putra Alex Noerdin, Dody Reza Alex Noerdin yang juga kalah di Pilkada Sumatra Selatan.
AHY dan Dody Reza kalah ketika orang tuanya tak menjabat lagi.
BACA JUGA: Nasdem Resmi Merapat ke Suharsono-Totok di Pilkada Bantul
"Misal DKI AHY maju, SBY tak menjabat lagi beliau belum berhasil jadi gubernur. Begitu juga sahabat saya Dody Reza Alex Nurdin maju di Pilkada Sumatra Selatan, ketika pak Alex tak menjabat beliau akhirnya kalah," ucap dia.
Bahkan kata Eddy, ketika orangtuanya tak menjabat, tidak ada yang memilih bahkan partai yang mengusungnya maju.
Seperti yang dialami putra mantan Gubernur Kalimantan Timur Awang Farouk pada Pilkada 2 tahun lalu.
"Bahkan lebih ironis lagi setelah orang tuanya setelah keluarganya itu turun jabatan, bahkan sudah tak dianggap parpol untuk diusung. Mohon maaf secara hormat seperti Kalimantan Timur putra pak Awang Farouk di pilkada 2 tahun lalu mau maju itu tidak ada yang melihat, tidak ada yang melirik waktu itu," kata dia.
Hal tersebut juga dialami puteri mantan Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) dua periode 2008-2018 yang gagal menjadi anggota DPR meski petahana.
"Kami lihat legislatif demikian nasibnya ketika Syahrul Yasin Limpo turun sebagai gubernur, putrinya yang mau maju yang notabene anggota DPR RI incumbent mau maju lagi ternyata kalah," katanya.
Karena itu, Eddy menyoroti fenomena dinasti politik di Indonesia yang memilki kecenderungan kalah ketika keluarganya tak menjabat lagi sebagai pejabat pemerintah atau orang yang berkuasa.
"Jadi kita lihat ada fenomena yang menarik di Indonesia ketika keluarga tidak menjabat lagi, maka ya langsung jadi warga biasa jadi dan memiliki kecenderungan untuk punya kekalahan di berbagai kontestasi," ucap Eddy.
Eddy menambahkan bahwa ada kenaikan trend, bahwa keluarga petahana mengalami kekalahan.
"Di Pilkada 2015, 17, 18 ada kenaikan tren, di mana petahana keluarga petahana mengalami kekalahan sedikit demi sedikit," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
Kebakaran Gunung Lawu meluas ke hutan lindung Ngawi. Tiga titik api masih menyala dengan luas area terbakar sekitar 13 hektare.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 23 September 2026 lengkap dengan 15 perjalanan, waktu keberangkatan, stasiun, dan tarif Rp8.000.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 23 September 2026 dari Palur menuju Jogja lengkap dengan waktu keberangkatan di setiap stasiun.
Dana pendidikan gratis Rp93,7 triliun masih berupa hitungan awal. Mendiktisaintek akan membahasnya bersama Kemenkeu dan Danantara.
Harga iPhone 2027 berpotensi naik akibat biaya memori meningkat. Apple disebut sudah menyepakati harga RAM dan NAND Samsung untuk awal 2027.
Sleman Creative Weeks 2026 menghadirkan empat agenda seni dan budaya mulai 27 September hingga Oktober, termasuk festival film dan layang-layang.