Midodareni di Solo Diserang Massa Atas Nama Agama, Ini Pernyataan Gusdurian

Polisi berjaga di gang masuk lokasi kejadian keributan antarwarga di Mertodranan, Pasar Kliwon, Solo, Minggu (9/8/202). - JIBI/Solopos.com/Nicolous Irawan
10 Agustus 2020 12:57 WIB Budi Cahyana & Kurniawan News Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Jaringan Gusdurian meminta polisi mengusut tuntas penyerangan atas nama agama terhadap warga yang menggelar tradisi midodareni di Kampung Mertodranan, Kelurahan Pasar Kliwon, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (8/8/2020) malam.

Komunitas yang berupaya memelihara gagasan Presiden Keempat Indonesia sekaligus tokoh NU, mendiang Abdurrahman Wahid, tersebut mengutuk kericuhan tersebut karena mencederai nilai-nilai kemanusiaan.

“Kekerasan tidak bisa dibenarkan atas alasan apa pun,” kata Alissa Wahid, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, melalui keterangan tertulis, Minggu (9/8/2020).

BACA JUGA: Wali Kota Banjarbaru Kalimantan Selatan Meninggal Dunia Akibat Covid-19

Menurut dia, kepolisian harus menegakkan hukum tanpa mempertimbangkan opsi harmoni sosial yang hanya akan melanggengkan praktik kekerasan dan intoleransi. “Pelaku harus dihukum setimpal sesuai dengan undang-undang yang berlaku,” ujar Alissa.

Jaringan Gusdurian juga meminta kepada pemerintah daerah agar menjamin keamanan warga negara, khususnya kelompok rentan serta meminta tokoh agama setempat untuk bahu-membahu menebar gagasan agama yang penuh rahmah. Sebab, intoleransi terjadi salah satunya karena adanya ideologisasi nilai-nilai eksklusivisme yang dibalut dengan semangat keagamaan.

“Kami mengajak para Gusdurian dan masyarakat umum untuk terus merawat semangat Bhinneka Tunggal Ika sebagai warisan para pendiri bangsa. Sejak didirikan, Indonesia merupakan bangsa majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, adat istiadat, dan lain sebagainya. Kami menyerukan kepada seluruh warga negara Indonesia untuk tidak menggunakan kekerasan dan ujaran kebencian pada mereka yang berbeda. Sebagaimana kata Gus Dur, kemajemukan harus bisa diterima tanpa adanya perbedaan,” kata Alissa.

BACA JUGA: Lantai Atas Pasar Prawirotaman Dilengkapi Panggung hingga Tempat Nongkrong

Keributan terjadi di RW 001 Kampung Mertodranan, Kelurahan Pasar Kliwon, Solo, Sabtu (8/8/2020) malam.

Puluhan orang tidak dikenal mendatangi rumah salah seorang warga sekitar pukul 17.45 WIB. Tak lama berselang terjadi keributan di Mertodranan yang mengakibatkan sekitar tiga orang luka ringan.

“Tadi malam tidak ada bakar-bakaran. Pak polisi langsung antisipasi. Kejadian sekitar Magrib sampai setelah Isya. Setelah itu dijaga terus oleh polisi. Jalarane [penyebab] nya kesalahpahaman. Ada wargaku mau lamaran. Rumangsane  acara yang melanggar," ujar Supatno, Lurah Pasar Kliwon, Minggu (9/8/2020).

BACA JUGA: Zona Kuning Boleh Buka Pembelajaran Tatap Muka, Ini Kata Disdik Kota Jogja

Dia tidak tahu penyebabnya. Kericuhan itu membuat sekitar tiga orang di Mertodranan terluka. “Keluarga dikumpulkan karena mau lamaran. Tapi dikira acara tertentu. Mereka dikira kelompok tertentu atau bagaimana, saya kurang tahu,” ujar dia.

Selain menyebabkan tiga orang luka, keributan di Mertodranan itu juga membuat beberapa kendaraan rusak.

Kapolresta Solo, Kombes Pol Andy Rifai, mengatakan kondisi para korban tindak kekerasan itu sudah membaik dan menjalani rawat jalan. “Kondisi korban sudah membaik, sudah rawat jalan. Pengamanan keluarga korban juga sudah kami lakukan,” ujar dia.

BACA JUGA: Ledakan di Beirut Setara Gempa 3,3 Magnitudo, Muncul Lubang Sedalam 43 Meter

Andy menyatakan polisi masih menyelidiki insiden tersebut. Dia tidak menyebutkan berapa saksi yang sudah dimintai keterangan. Dia beralasan seluru anggotanya masih bertugas di lapangan.

Acara yang digelar malam itu adalah tradisi Midodareni, atau doa persiapan sebelum upacara pernikahan yang diikuti oleh sekitar 20 orang.

Di tengah melancarkan aksinya, sekelompok orang memekikkan teriakan takbir, meneriakkan bahwa Syiah bukan Islam, dan penganut Syiah halal darahnya. Massa mencurigai Midodareni yang dilakukan malam itu merupakan kegiatan ritual keagamaan diyakini oleh penganut Syiah.