Peneliti Temukan Potensi Pengobatan Baru Penyakit Malaria

Nyamuk malaria
08 Agustus 2020 05:37 WIB Lukas Hendra TM News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-- Peneliti di The Australian National University (ANU) memimpin sebuah studi yang hasilnya dapat mengarah pada pengobatan baru untuk memerangi malaria yang resistan terhadap obat, serta meningkatkan obat yang ada.

Malaria disebabkan oleh Plasmodiumparasit, yang menyebar ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Studi mereka dipublikasikan di jurnal Nature pada kategori Communications, Kamis (6/8/2020) dengan judul The natural function of the malaria parasite’s chloroquine resistance transporter.

Menurut penulis utama, Dr Rowena Martin dan mahasiswa PhD Sarah Shafik, evolusi berkelanjutan dari parasit yang resisten terhadap obat-obatan yang ada merupakan ancaman yang signifikan untuk pengendalian dan pemberantasan malaria.

Baca juga: Ini Penyebab Orang Sering Mengingau Menurut Ahli

Martin bersama timnya melihat PfCRT, protein yang penting untuk resistensi multidrug pada parasit malaria dan juga merupakan target obat yang menjanjikan. Martin mengatakan selama 20 tahun, para peneliti di seluruh dunia telah mencoba memahami fungsi PfCRT dan mengapa itu penting untuk kelangsungan hidup parasit.

“Kami telah berhasil menjawab pertanyaan lama ini,” kata Martin seperti dikutip dari laman The Australian National University, Jumat (7/8/2020).

Sementara itu, Shafik menambahkan bahwa ada kebutuhan nyata untuk mengidentifikasi target obat baru untuk malaria, serta untuk mempelajari lebih lanjut tentang biologi parasit dan protein yang bertanggung jawab untuk resistensi multidrug.

"Studi kami tentang PfCRT berkontribusi terhadap semua tujuan ini," ujarnya.

Baca juga: Pakar: Kelas Online Tak Baik Bagi Kesehatan Anak

Penelitian itu menunjukkan PfCRT dapat dihambat oleh obat-obatan, yang menunjukkan bahwa fungsi alaminya adalah target yang 'dapat diminum', serta membuka jalan bagi desain terapi baru.

"Mengetahui bagaimana fungsi PfCRT akan membantu mengembangkan obat yang memblokirnya," kata Martin.

Dia menambahkan selain membunuh parasit secara langsung, obat ini dapat digunakan dalam terapi kombinasi untuk meniadakan resistensi multidrug yang disebabkan oleh PfCRT dan dengan demikian memulihkan aktivitas obat yang ada. Terapi, lanjutnya, menargetkan parasit dalam berbagai cara sangat penting untuk memerangi malaria yang resistan terhadap beberapa obat.

"Kami sekarang juga dalam posisi untuk memahami penyebab dan kendala yang mendikte evolusi PfCRT di berbagai belahan dunia di mana malaria menjadi perhatian," ujarnya.

Menurut laporan malaria Dunia terbaru, ada 228 juta kasus malaria pada 2018. Ada juga sekitar 405.000 kematian akibat malaria pada 2018, membuat pencarian pengobatan yang lebih efektif menjadi lebih penting.

Sumber : Bisnis.com