Penelitian: Pasien Covid-19 Bergejala atau Tidak, Tetap Bawa Patogen yang Sama

petugas memeriksa sampel covid/19 di laboratorium PCR RSUD Sekayu. istimewa
07 Agustus 2020 14:57 WIB Syaiful Millah News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Studi baru menunjukkan orang yang terinfeksi virus corona baik mereka yang memiliki gejala atau tidak, membawa tingkat patogen yang sama di hidung, tenggorokan, dan paru-paru.

Dilansir dari Channel News Asia, Jumat (7/8) penelitian yang diterbitkan di JAMA Internal Medicine ini menjadi bukti penting untuk mendukung gagasan bahwa orang yang terinfeksi tetapi tidak mengalami gejala dapat menyebarkan virus.

Penelitian yang dipimpin oleh Seungjae Lee dari Fakultas Kedokteran Soonchunhyang University itu menganalisis usapan yang diambil antara 6 Maret hingga 266 Maret dari 303 orang yang ada di tempat isolasi di Cheonan.

BACA JUGA : Hasil Autopsi Mayat Pasien Covid-19 Menemukan Virus 

Kelompok tersebut berusia antara 22 hingga 36 tahun dan dua per tiganya adalah perempuan. Dari total relawan, 193 merupakan orang dengan gejala dan 110 adalah yang tidak bergejala. Di antara mereka sekitar 30 persen pada awalnya tidak menunjukkan gejala sama sekali.

Penemuan ini membantu memberikan gambaran tentang bagian mana dari orang yang terinfeksi, yang benar-benar asimtomatik dibandingkan dengan presimtomatik, atau subjek yang membingungkan.

Semua sampel diambil secara berkala setelah hari ke delapan isolasi, dan sampel menunjukkan nilai materi genetik virus yang sebanding dari saluran udara atas dan bawah. Waktu rata-rata yang dibutuhkan pasien untuk dinyatakan negatif lebih cepat pada pasien asimtomatik.

Para penulis menyatakan bahwa temuan ini menawarkan penjelasan masuk akal secara biologis untuk laporan penularan tanpa gejala. Kendati begitu, mereka juga menyebut bahwa penelitian hanya melihat jumlah materi genetik virus yang ada.

BACA JUGA : Sebagian Besar Pasien Corona di Jogja Adalah OTG! Rawan

Akan tetapi, tidak mencoba mengikuti subjek untuk melihat apakah hal tersebut benar-benar dapat menyebabkan penularan virus kepada orang lain. Untuk itu, diperlukan penelitian lebih lanjut guna memastikan hal tersebut lebih lanjut dengan bukti yang lebih kuat.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia