Obat Baru Hepatitis C Tiba di Indonesia Bulan Depan

Obat anti depresi - boldsky.com
28 Juli 2020 12:57 WIB Rezha Hadyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Secercah harapan muncul untuk pengidap hepatitis C di Indonesia. Sebab pemerintah melalui Kementerian Kesehatan akan mendatangkan obat-obatan Direct Acting Antiviral (DAA) dalam waktu dekat.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Achmad Yurianto mengatakan DAA atau juga dikenal sebagai obat oral untuk pengobatan hepatitis C akan didatangkan pada Agustus 2020. Menurutnya, proses importasi dari obat-obatan tersebut sempat terkendala akibat pandemi Covid-19.

"Negara asalnya ada lockdown jadi sempat terkendala, sekarang ada kepastian bahwa obat-obatan tersebut akan didatangkan pada Agustus [2020]. Administrasi sudah diselesaikan," katanya dalam Peringatan Hari Hepatitis Sedunia pada Selasa (28/7/2020) yang dilakukan secara virtual.

Yuri, demikian panggilan akrabnya menegaskan permasalahan administrasi di sistem e-catalogue Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) sudah sudah teratasi. Sistem tersebut sudah dimutakhirkan sehingga pengadaan yang untuk tahap awal dilakukan dengan cara impor akhirnya bisa dilakukan.

Demikian halnya dengan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) semuanya sudah rampung.

"Pengadaan obat ini untuk tahap pertama masih impor, tetapi kedepannya bisa diproduksi di Indonesia untuk menekan biaya," ungkapnya.

Hepatitis C sejak 2012 sudah bisa disembuhkan menggunakan  DAA. Obat ini jauh lebih baik dibandingkan dengan Interferon yang sudah sejak lama digunakan untuk pengobatan hepatitis C di Tanah Air.

Tingkat kesembuhan dari  DAA mencapai 96 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan Interferon yang tingkat kesembuhannya tak lebih dari 66 persen. Selain itu, masa pengobatan yang dibutuhkan hanya 12-24 pekan dengan efek samping jauh lebih rendah dibandingkan dengan Interferon dengan masa pengobatan selama 48 pekan.

Efek samping yang ditimbulkan oleh  DAA terbilang ringan. Salah satu jenis DAA, yakni Sovobusvir efek sampingnya tak lebih dari insomnia, anemia, sakit kepala, dan muntah-muntah.

Sementara itu, efek samping yang ditimbulkan oleh Interferon diantaranya adalah demam, malaise, kelelahan, dan nyeri otot. Obat tersebut juga dikenal bersifat toksik atau memberikan efek buruk terhadap hati, ginjal, sumsum tulang, dan jantung.

Pengobatan hepatitis C menggunakan DAA juga hanya membutuhkan pemeriksaan PCR (polymerase chain reaction) hepatitis C RNA (ribonucleic acid) sebanyak tiga kali. Pada pengobatan menggunakan Interferon pemeriksaan yang harus dilakukan sebanyak empat kali.

Kelemahan dari penggunaan DAA untuk pengobatan hepatitis C adalah harganya yang terlampau tinggi. Di Amerika Serikat (AS) misalnya Sofosbuvir dibanderol dengan harga US$1.000 per pil atau US$84.000 untuk pengobatan selama 12 pekan.

Walaupun demikian sudah tersedia DAA versi generik dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Sebagai contoh di China tersedia DAA kombinasi Sofosbuvir dan Velpatasvir dengan harga US$10.000 untuk pengobatan selama 12 pekan.

Kemudian di India tersedia pula Sofosbuvir versi generik yang diproduksi di negara tersebut dengan harga US$100 per pilnya. Oleh karena itu, banyak masyarakat Indonesia yang mengidap hepatitis C akhirnya memutuskan untuk berobat ke India.

Sumber : bisnis.com