Roy Suryo Gugat Penangkapan, Soroti Dugaan Pelanggaran Privasi
Praperadilan Roy Suryo menyoroti dugaan pelanggaran privasi saat penggeledahan dan penangkapan oleh penyidik Polda Metro Jaya.
Ilustrasi kematian/Pixabay
Harianjogja.com, JAKARTA - Keluarga almarhum editor Metro TV Yodi Prabowo tetap tak percaya anaknya tewas bunuh diri. Namun Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Tubagus Ade Hidayat menegaskan bahwa pihaknya enggan berpolemik dengan keluarga terkait hal itu. Tubagus hanya dapat memahami kondisi psikologis keluarga yang mungkin belum bisa menerima kenyataan pahit tersebut.
Kendati begitu, Tubagus membantah pernyataan Suwandi (ayah Yodi) yang menyebut ada kejanggalan atas kematian anaknya lantaran mengklaim tidak melihat adanya lumuran darah pada jaket yang dikenakan Yodi saat ditemukan tewas di pinggir Tol JORR Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (10/7/2020).
Tubagus memastikan bahwa pakaian yang dikenakan Yodi saat ditemukan tewas banyak ditemui bercak darah.
"Darahnya banyak kok. Masak iya orang luka begitu nggak banyak darahnya, nggak logis," kata Tubagus saat dikonfirmasi, Senin (27/7/2020).
"Saya polemik seperti itu saya nggak mau tanggapi. Temen-temen media bisa melihat sendiri fotonya. Itu di situ kan tanah, tanahnya merembes. Untuk apa juga itu dibohongi, enggak ada pentingnya," imbuhnya.
Baca Juga: Kasus Kematian Yodi: Polisi Sebut Sang Pacar Bohong, Begini Kata Keluarga...
Tubagus mengaku memahami betul dan menilai wajar jika keluarga Yodi masih belum bisa menerima atas hasil penyidikan polisi yang menyimpulkan anaknya tewas akibat bunuh diri. Menurut Tubagus, dirinya juga tidak memiliki kapasitas memaksakan keluarga Yodi untuk meyakini hasil penyelidikan yang telah dilakukan oleh pihak kepolisian.
"Kalau saya sih wajar. Saya berempati saja, saya tidak dalam kapasitas memaksakan keyakinan, ya nggak apa-apa. Kalau masalah darahnya itu banyak kok," ujar Tubagus.
Sebelumnya, ayah Yodi mengatakan, jika dirinya masih belum percaya anaknya tewas karena bunuh diri. Suwandi bahkan menyampaikan hasil analisanya yang menjadi dasar atas keraguan tersebut.
"Enggak percaya, saya enggak percaya [kalau Yodi bunuh diri] belum lagi masuk ditusukan pak, mana ada orang mau bunuh diri nusuk sampai empat atau lima kali, saya enggak percaya," kata saat dihubungi Suara.com, Senin (27/7/2020).
Baca Juga: Yodi Tak Ingin Dianggap Bunuh Diri?
Menurut Suwandi, dirinya masih meyakini dan menduga bahwa Yodi tewas dibunuh. Terlebih, Suwandi mengaku mengenal anaknya itu sebagai anak yang manja jika mengalami luka di tubuhnya.
"Sedang kan anak saya kalau luka sedikit aja manjanya minta ampun, nangis-nangis apalagi dia misalnya dia disebut mau nusuk berkali-kali," ungkap Suwandi.
Lebih lanjut, Suwandi lantas menyebut kejanggalan ketika melihat langsung jasad Yodi yang ditemukan tewas di pinggir Tol Jorr Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat (10/7/2020) lalu. Dia merasa janggal lantaran mengklaim melihat jaket warna hijau yang dikenakan Yodi ketika itu tidak berlumuran darah.
"Dari segi TKP, kan di bilang anak saya dibilang bunuh diri di TKP kan. Faktanya pas saya ke TKP, pas anak saya belum diangkat saya lihat sendiri, saya lihat sendiri mungkin wartawan banyak yang lihat juga kalau jaketnya bajunya itu bersih. Kalau orang itu bunuh diri sampai beberapa tusukan sampai ke leher pasti itu akan berlumuran darah. Biar pun udah tiga hari mengering," ungkapnya.
"Logikanya kalau orang bunuh diri tuh darahnya ke mana-mana. Kan saya lihatnya yang gampang-gampang aja yang orang lain bisa lihat gitu saya memang bukan penyidik," imbuh dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : suara.com
Praperadilan Roy Suryo menyoroti dugaan pelanggaran privasi saat penggeledahan dan penangkapan oleh penyidik Polda Metro Jaya.
Sebanyak 20% SD Negeri di Sleman belum memenuhi kuota rombel SPMB 2026. Disdik memperkuat pendidikan agama dan mengkaji opsi regrouping sekolah.
Refleksi Yogya Kembali mengajak masyarakat meneladani nilai perjuangan untuk memperkuat ketahanan keluarga dan generasi muda DIY.
Harga sawi sempat anjlok hingga Rp500 per kg. KWT Sehati Magelang mengolahnya menjadi keripik Kraukk! bernilai jual lebih tinggi.
Disdikpora Kota Jogja memperkuat pembinaan Pemuda Pelopor dan program YES BOSS untuk mencetak generasi muda inovatif dan berdaya saing.
Ekonom UMY menilai antrean Pertalite usai kenaikan harga Pertamax menunjukkan setiap masyarakat memiliki nilai ekonomi waktu yang berbeda.