SD Banyurejo 1 Tempel Sleman Tergusur Tol Jogja-Bawen

Foto ilustrasi. - ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha
24 Juli 2020 04:27 WIB Lajeng Padmaratri News Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Pembangunan ruas tol Jogja-Bawen yang melintasi Kabupaten Sleman menggusur sebuah sekolah dasar yaitu SD Negeri Banyurejo 1 di Dusun Onggojayan, Desa Banyurejo, Kecamatan Tempel, Sleman. Sekolah yang terletak di sisi utara aliran Selokan Mataram seluruh bangunannya terdampak jalur tol.

Selain menggusur sekolah, sejumlah sawah, rumah warga, dan jalan desa di Banyurejo juga terdampak tol. Total bidang yang terdampak di Banyurejo berjumlah 166 bidang dengan perkiraan luasan 121.485 meter persegi.

Tim Persiapan Pengadaan Lahan Tol Jogja-Bawen berencana menempatkan exit tol di desa Banyurejo. Oleh karena itu, desain tol di desa ini tidak sepenuhnya melayang atau elevated di atas Selokan Mataram, melainkan dikonsep menurun hingga rata dengan tanah (at grade).

Ketua Tim Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Ruas Semarang-Jogja, Heru Budi Prasetyo menuturkan selain sekolah dasar, pihaknya masih mendata ada berapa fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) yang terdampak jalur tol, seperti rumah ibadah dan poskamling. Nantinya, fasum dan fasos yang terdampak ini akan dipindah dan pembangunannya akan difasilitasi di lokasi yang sesuai kesepakatan.

"Fasos dan fasum akan dibuatkan kembali, kita cari tanah penggantinya yang disepakati, antara pemerintah desa, dinas pendidikan, atau wakaf. Nanti kita beli tanah untuk pengganti tanah yang terdampak. Yang membangun kami kontraktor," kata Heru pada Kamis (23/7/2020) saat sosialisasi tahap pertama hari kedua di Balai Desa Banyurejo, Tempel, Sleman.

Baca Juga: Ini Urutan Desa di Sleman yang Akan Disosialisasikan Tol Jogja-Bawen

Dalam sosialisasi ini, sekitar 50 orang perwakilan pemilik lahan dan perangkat desa diundang untuk bisa menyampaikan hasil sosialisasi soal tol ke warga lainnya. Sejumlah aspirasi disampaikan soal bagaimana proses ganti rugi hingga apakah pembangunan tol akan mengganggu irigasi air dari Selokan Mataram ke sawah warga.

Menanggapi ini, Heru memastikan proses pembangunan konstruksi jalur tol tidak akan mengganggu irigasi pertanian. "Pada waktu pembangunan konstruksi, pengairan sawah itu dibangun dulu, supaya sawah tidak terganggu. Peran aktif warga desa diperlukan, kalau terganggu harus disampaikan ke kontraktor atau Pemkab Sleman. Bahkan seringkali kami buatkan irigasi yang lebih modern karena selama ini konvensional," ungkapnya.

Kepala SDN Banyurejo 1, Ismana menuturkan pihaknya tidak keberatan dengan pembangunan tol yang menggusur sekolahnya. Namun, ia berharap sebelum kegiatan pembangunan jalan tol yang menggusur sekolah itu akan dimulai, setidaknya pemerintah sudah membangun bangunan sekolah di lokasi lain sehingga proses kegiatan belajar mengajar tidak terputus.

"Sebelum diratakan dengan tanah harapannya sudah ada bangunan baru sehingga ketika ada instruksi penggusuran, anak-anak siap belajar di sekolah yang baru," kata Ismana.

Baca Juga: Pembebasan Lahan Agustus, Tol Jogja-Solo Mulai Dibangun November Tahun Ini

Menurutnya, siswa SDN Banyurejo 1 mayoritas merupakan warga Desa Banyurejo, sementara sebagian yang lain berasal dari Jawa Tengah karena sekolah ini terletak di perbatasan. Ia merinci penghuni sekolahnya saat ini terdiri dari 114 siswa dan 18 pegawai yang terdiri dari guru dan tenaga kependidikan lainnya.

Ganti Untung

Sekolah ini memiliki enam ruang kelas, satu ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang komputer, musala, ruang unit kesehatan sekolah, perpustakaan, dan kantin. Ismana berharap dengan digantinya bangunan sekolah karena tergusur tol, fasilitas sekolah bisa sekaligus ditambah ruang kegiatan ekstrakurikuler. "Karena dari penggusuran ini bukan ganti rugi ya, tapi ganti untung, jadi kami harapannya bisa dapat penambahan fasilitas yang bisa kami nikmati dengan adanya tol," ujarnya.

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) DIY, Krido Suprayitno meminta bagi sekolah terdampak untuk segera melaporkan hal ini ke Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman bahwa lokasinya terdampak tol. "Sehingga bisa mulai dipikirkan persiapan lanjutan karena lokasi sekolah tadi terkena seluruhnya," kata Krido.

Sementara itu, dengan adanya exit tol di Banyurejo, Dispertaru DIY berencana mengembangkan kawasan pertumbuhan cepat di Banyurejo. Ini perlu menjadi perhatian warga karena menurutnya lokasi ini akan berkembang secara ekonomi dengan adanya exit tol.

"Nampaknya di Desa Banyurejo lebih kompleks karena lokasinya berdekatan dengan exit tol Banyurejo. Kami Dispertaru DIY sudah punya strategi kembangkan kawasan tumbuh cepat ke depannya terhadap keberadaan exit tol ini," kata dia.