Prabowo Terlalu Sering Nyapres, Ketua PA 212 Sarankan Pemilu 2024 Ganti Calon Muda

Prabowo Subianto berbicara di hadapan pendukungnya di Jakarta, Jumat (19/3/2019). - Reuters/Willy Kurniawan
26 Juni 2020 14:37 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA- Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto dianggap terlalu sering mencalonkan diri sebagai Presiden RI. Karenanya Ketua Persaudaraan Alumni 212 atau PA 212, Slamet Maarif mengatakan agar Prabowo Subianto tak lagi mencalonkan diri dalam Pilpres 2024 nanti. Ia menganggap tak etis jika Prabowo terlalu sering masuk dalam kontestasi politik tersebut.

Pernyataan itu ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam tayangan di kanal YouTube Refly Harun yang diunggah pada Jumat (26/6/2020).

Refly menanyakan mengapa PA 212 yang pada Pilpres 2019 lalu mendukung Prabowo itu tak ingin lagi Prabowo menjadi capres.

Baca juga: PSBB Jawa Barat Resmi Dihentikan, Ini Kelanjutannya

"Padahal kalau dilihat dari survei Indobarometer misalnya, itu peluang masih tinggi," kata Refly kepada Slamet Maarif.

Slamet mengaku bahwa dirinya menginginkan agar Prabowo tak lagi mencalonkan diri dalam Pilpres 2024 agar ada regenerasi kader dari Partai Gerindra.

"Sebaiknya Pak Prabowo jadi negarawan saja. Justru ini membuktikan bahwa Gerindra punya kaderisasi, regenerasi yang cakep yang bagus tidak kehabisan kader artinya memberikan peluang kepda generasi muda," kata Slamet Maarif.

Slamet juga ingin agar generasi muda mau berani memimpin Indonesia lewat Pilpres 2024 nanti.

Baca juga: Dikirimi Meme Soal Presiden Jokowi, Respon Kaesang Ini Lucu Sekaligus Serem

"Pertimbangan kedua kalau melihat 2024 Indonesia kemungkinan besar begitu rumit begitu banyak persoalan dibutuhkan pemimpin yang memang enerjik yang muda. Kami menganggap 2024 saatnya yang muda yang memimpin," lanjut Slamet.

Selain itu, Slamet Maarif juga beranggapan bahwa tidak etis jika Prabowo terus-terusan mencalonkan diri sebagai calon Presiden 2024.

"Kan Pak Prabowo udah 2 kali mencalonkan diri jadi presiden, 1 kali jadi wapres. Kalau presiden yang terpilih saja hanya dua kali, nah maka kalo capres lebih dari dua kali secara etika jadi timbul tanda tanya," ujar Slamet Maarif.

"Tapi sekali lagi itu kan urusan internal Gerindra ya," tegas Slamet.

Sumber : Suara.com