Kunjungan ke Jatim, Jokowi Bicara Ketepatan Gas Rem Urusan Covid-19 dan Ekonomi

Presiden Joko Widodo memberikan amanat saat memimpin upacara peringatan Hari Lahir Pancasila secara virtual di Istana Bogor, Jawa Barat, Senin (1/6/2020). Upacara secara virtual itu dilakukan karena pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/BPMI Setpres - Handout
25 Juni 2020 13:27 WIB Muhammad Khadafi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa krisis global akibat pandemi Covid-19 telah di depan mata dan semua akan merasakan. Oleh karena itu dia berpesan agar penanganan kesehatan dan ekonomi di Tanah Air harus dalam komposisi yang seimbang.

“Gas dan rem ini lah yang selalu saya sampaikan kepada gubernur, bupati, walikota, ini harus pas betul ada balance ada keseimbangan sehingga semuanya dapat dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Ini lah sulitnya saat ini,” kata Presiden di Gedung Grahadi Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/6/2020).

Presiden melanjutkan bahwa kondisi global saat ini lebih berat dari depresi 1930. Oleh karena itu, dalam mengelola manajemen krisis membutuhkan keseimbangan yang harus sangat pas antara mengendalikan pandemi dan menekan dampak krisis ekonomi.

“Tidak bisa kita gas di urusan ekonomi, tapi kesehatan menjadi terabaikan. Tidak bisa juga kita konsentrasi penuh di urusan kesehatan, tapi ekonomi jadi sangat terganggu,” jelas Jokowi.

Jokowi juga mengatakan bahwa saat ini secara nasional, kondisi di setiap wilayah Indonesia berbeda-beda. Setiap daerah harus mengambil kebijakan sesuai dengan kondisi terkini wilayahnya masing-masing. Dia mengingatkan kebijakan itu harus berdasarkan data dan pendapat pakar.

Presiden menjelaskan bahwa wilayah yang telah berhasil melandaikan kurva penambahan kasus positif Covid-19, dapat bersiap untuk menuju new normal. Namun, dia kembali mengingatkan untuk selalu menyeimbangkan urusan kesehatan dan ekonomi.

Adapun, berdasarkan data teranyar yang diterima oleh Presiden, IMF telah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada tahun ini terkoreksi negatif 8 persen. Jepang, Inggris, dan Prancis, masing-masing berpotensi minus 5,8 persen, minus 10,2 persen, dan minus 12,5 persen.

Begitu pula dengan Italia, Spanyol, dan Jerman, yang masing-masing diproyeksi minus 12,8 persen, 12,8 persen, dan 7,5 persen

“Artinya apa? demand nanti akan terganggu. Kalau demand terganggu supply-nya akan terganggu dan nantinya produksi juga akan terganggu. Artinya demand, supply, produksi semuanya rusak dan tertekan,” kata Presiden.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia