Gagal Ingatkan Pemerintah dalam Pandemi Covid-19, Pakar UI Minta Maaf

Dosen Statistik Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Pandu Riono. - JIBI/Bisnis.com/Nancy Junita
24 Mei 2020 13:47 WIB Nyoman Ary Wahyudi News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA — Pakar Epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono meminta maaf kepada publik lantaran merasa gagal mengingatkan pemerintah dalam penanganan penyebaran Covid-19 di Indonesia.

“Hari ini saya minta maaf pada publik. Saya, juru wabah, tak berhasil ingatkan pemerintah tentang peran utama publik, komunitas sebagai pelaku utama dalam respon pandemik,” kata Pandu melalui keterangan tertulis yang diterima Jaringan Informasi Bisnis Indonesia, Jakarta, pada Minggu (24/5/2020).

Pandu menututurkan sebagian masyarakat sudah berinisiatif dan bergerak melakukan pembatasan sosial berbasis komunitas. Dia meminta masyarakat untuk tidak berhenti menerapkan upaya itu terkait penanganan Covid-19.

“Hari ini 1 Syawal 1441 H, kita merasa menang. Yang menang itu orang-orang yang menahan diri dari godaan untuk langgar anjuran Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB,” tuturnya.

Dia mengimbuhkan orang yang menang juga adalah masyarakat yang tidak mudik, taat menggunakan masker dan mencuci tangan sebagai bagian dari imbauan pemerintah.

“Hal-hal yang sederhana saja tidak dipatuhi, karena kita lebih pakai nafsu, bukan akal sehat,” ujarnya.

Jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 per Sabtu (23/5/2020) pukul 12.00 WIB bertambah 949 orang sehingga total kasus positif mencapai 21.745 orang.

Sementara itu, jumlah kasus sembuh bertambah 192 menjadi 5.249 orang, sedangkan kasus meninggal bertambah 25 menjadi 1.351. Data penambahan ini merupakan hasil dari pemeriksanaan spesimen dengan jumlah kumulatif 239.740. Secara umum sudah 399 kabupaten di 34 provinsi yang terjangkit Covid-19.

Demikian disampaikan Juru Bicara Percepatan Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto dari Graha BNPB, Sabtu (23/5/2020).

Yuri menghimbau masyarakat untuk tetap patuh pada anjuran dan siap beraktivitas pada kondisi normal yang baru. Kondisi itu mengharuskan masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat, rajin mencuci tangan dengan sabun, dan selalu menggunakan masker saat ke luar rumah.

Dia menekankan, masyakarat harus menghindari kerumunan dan bepergian jauh, seperti aktivitas mudik. Semua dilakukan dalam upaya membendung penyebaran virus.

"Tanpa ini kita akan menghadapi problem berkepanjangan. Jadi mari bekerja sama, saling membantu, patuhi semua anjuran pemerintah," ujarnya.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia